Spirit karate ke-19 yakni jangan lupa secara tepat memperagakan kelebihan dan kekurangan dari kekuatan, peregangan dan kontraksi dari tubuh. Serta cepat lambatnya teknik. Ini mengharuskan karateka mampu menggunakan analisa SWOT. Strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang), dan threats (ancaman). ’’Bahasa Jepangnya; Chikara no kyojaku, karada no shinshuku, waza no kankyu wo wasaruna. Inggrisnya; Do not forget to correctly apply light and heavy application of power, expansion and contraction of the body, and slowness and speed of techniques,’’ kata Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, Kwat Prayitno, 60, kemarin.
Saat melakukan gerakan karate, baik kata (seni) maupun kumite (tanding), karateka harus menggunakan kekuatan dengan memperhatikan dan mengatur peregangan otot tubuh. Dengan mengendorkan dan mengontraksikan otot tubuh secara penuh dan serasi pada waktu yang tepat, akan menghasilkan teknik yang sempurna.
Kekuatan akan meningkat dengan bertambahnya kecepatan. Kecepatan dan tenaga akan bertambah sesuai dalil aksi dan reaksi. Penampilan karateka yang ahli tidak hanya tampak bertenaga, tetapi juga sangat berirama dan indah. Meresapi irama gerakan dengan tepat merupakan cara terbaik mencapai kemajuan yang optimal.
’’Pada saat latihan, karateka harus mampu menggali kekuatan dan kelemahan diri,’’ urai pemegang sabuk hitam karate Dan VII ini.
Lalu mengasah kekuatan secara maksimal sehingga menjadi senjata andalan. Kelemahan yang ada pada diri juga harus terus ditempa sehingga tidak menjadi kartu mati.
’’Pada saat bertanding, karateka harus mampu membaca kelemahan dan kelebihan lawan,’’ terang anggota dewan guru Inkanas nasional ini.
Kelemahan lawan kita eksplorasi sehingga jadi pelaung bagi kita untuk meraih poin. ’’Kelebihan lawan kita antisipasi agar tidak menjadi ancaman bagi diri,’’ saran pria yang telah 50 tahun menggeluti karate ini.
Dalam bisnis, prinsip ini juga sangat penting. ’’Kita harus menerapkan SWOT pada 4P,’’ ujar pria yang telah 40 tahun berwirausaha ini. Produk, price (harga), promosi dan place (tempat). Kita harus tahu kekuatan dan kelemahan 4P yang kita miliki sehingga bisa dikelola menjadi peluang. Serta tahu kelebihan pesaing sehingga bisa diantisipasi agar tidak menjadi ancaman.
’’Dengan tahu kelemahan dan kekuatan diri serta orang lain, kita akan bisa melangkah lebih bijaksana,’’ tegasnya.
Dalam berhubungan dengan Tuhan, kita juga harus tahu kelemahan dan kekuatan diri. ’’Berdoa secukupnya sesuai kapasitas. Berdoa agar detik ini juga dapat mobil mewah; tentu kurang pas,’’ terangnya.
Kita juga harus tahu diri. ’’Kalau ingin diampuni Tuhan, ya kita harus mau mengampuni orang lain,’’ pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh