Berbekal resep keluarga, Agus Supriyono, warga Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek mengembangkan produksi telur asin tradisional. Meski prosesnya cukup lama, namun rasanya khas. Seperti apa?
AINUL HAFIDZ, Diwek
SATU persatu telur bebek dalam box dipindah. Telur yang masih berwarna putih itu dimasukkan ke dalam bak besar. Setelah dirasa cukup, tangannya kemudian menyalakan kran. Telur itu lantas dibersihkan satu persatu.
Ya, aktivitas itu dilakukan Agus Supriyono salah seorang pembuat telur asin. Dia sudah memrodusksi telur asin sejak beberapa tahun terakhir. Maklum, keluarga Agus di Indramayu juga produksi telur asin dan berhasil. ”Kebetulan waktu kecil sudah ikut membuat telur asin. Jadi sekarang sudah terbiasa, karena orang tua juga pernah membuat telur asin,” katanya.
Lelaki berusia 26 tahun ini lantas melanjutkan aktivitasnya. Telur yang sudah di tangan kemudian dibersihkan dengan cara disikat satu persatu. Tujuannya, agar seluruh kotoran di cangkang telur, bisa pudar dan telur menjadi bersih. ”Proses peresapan garam juga lebih mudah. Baru kemudian telur dibiarkan semalam,” imbuh dia.
Biasanya, sembari menunggu telur yang dibiarkan semalam, Agus mempersiapkan adonan untuk rasa asin pada telur. Tumbukan bata merah halus dicampur dengan garam dan air, hingga tumbukan bata menjadi lembek. ”Telur yang sudah siap dan bersih dibaluri adonan bata merah, kemudian diukep antara 10-14 hari,” terangnya.
Telur yang diukep inilah menunjukkan proses pengasinan secara tradisional. Tidak disuntik dengan air garam supaya berasa asin. Melainkan diberi laburan bata merah, kemudian dibiarkan selama dua minggi. Setelah itu, telur harus kembali dibersihkan. Bata merah yang berada di cangkang telur harus lepas.
Setelah bersih, telur kemudian direbus hingga matang. ”Kalau dua minggu itu bisa produksi sampai 6.000 butir telur,” beber dia. Selain dijual di komplek wisata makam Gus Dur (sebelum Pandemi, Red), sebagian produksi telur asin miliknya dikirim ke Malang dan Surabaya.
Diakui, hingga kini proses produksi masih dilakukan secara manual. Selain resep dari keluarga, cara itu dipilih lantaran menjaga kualitas. Betapa tidak, telur yang dipilih juga harus memiliki kualitas baik. “Supaya kualitas rasa bisa terjamin, sehingga saya bisa menjamin mutu telur asin,” pungkas Agus.
Editor : Rojiful Mamduh