JOMBANG - Mainan kincir angin berbahan bambu dan plastik ini tidak asing. Mainan yang biasa ditemukan di pasar atau banyak tontonan ini ternyata masih dibuat sepasang suami istri asal Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito.
Di depan rumah di Dusun Umpak Wetan, Desa Gedangan, seorang pria terlihat sibuk di atas sebuah kursi kayu. Tangan kirinya menggenggam beberapa kertas dan karet. Tangan kanan memegang gagang bambu tipis berwarna merah. Juga beberapa stik plastik berwarna kuning.
Plastik lembaran kecil warna warni juga tampak bertumpukan diatas meja dibawah tangannya. Beberapa bergambar Upin Ipin, tokoh kartun Malaysia. Beberapa plastik kosong dan hanya berwarna saja. ’’Ini sedang membuat mainan, kincir angin buat anak-anak kecil. Disini ada dua jenis. Yang pakai suara, atau yang digandeng boneka,’’ ucap Suyono, 50.
Kincir angin ini, ia buat sendiri bersama istrinya Sopiah, 47. Suyono menjelaskan, pembuatan mainan sederhana ini memang terlihat mudah, meskipun disebutnya harus sangat telaten. ’’Karena hampir seluruh komponennya kecil, dan butuh kehati-hatian memasangnya,” lanjutnya
Mula-mula, Suyono harus menyiapkan bahan dasar gagang dan pegangan kincir angin. Untuk kincir angin bersuara, Suyono menggunakan material bambu yang dipotong pipih dan panjang. Sementara untuk kincir angin degan tambahan boneka, biasanya menggunakan gagang plastik.
’’Bambu yang digunakan biasanya petung. Tapi harus benar-benar yang sudah tua, karena lebih ringan, kuat dan harganya murah,” imbuhnya. Untuk kincir angin dengan pegangan bambu, Suyono harus mewarnainya dulu agar menarik. Ia biasa menggunakan pewarna tekstil untuk mewarna.
’’Setelah diwarna, baru dijemur sampai kering. Lalu bagian bawah diikat dengan plastik yang mengkilap,” tambahnya.
Proses berlanjut untuk pembuatan komponan gir kincir dan bagian yang berbunyi. Untuk komponen ini, semuanya dibuat dari kertas karton bekas. Kertas-kertas ini, dibentuk bulat untuk bagian yang ditabuh, berbentuk lempeng sebagai penggerak.
’’Pemukulnya lidi dari bambu,” rincinya.
Sopiyah, 47 sang istri, bertugas menyusun bagian kincir di dalam rumah. Plastik warna-warni yang sudah ia buat, dipotong dan direkatkan pada bambu kecil hingga membentuk kipas.
Setelah siap semua komponennya, baru dirakit sampai jadi kincir angin. ’’Untuk kincir boneka, ya tinggal menambahi boneka bagian bawahnya, karena tidak perlu komponen suara,’’ tambah Suyono.
Diamenyebut bisa membuat hingga seratus kincir angin dalam seminggu. Kincir ini, biasa ia jajakan sendiri keliling kampung, juga ke beberapa pasar. ’’Harganya mulai Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh