JOMBANG – Tiga jembatan rusak di wilayah Kecamatan Kudu yang putus sejak 2019 dipastikan tidak bisa tertangani tahun ini. Perbaikan terkendala anggaran.
Camat Kudu Tridoyo Purnomo menjelaskan, tiga jembatan rusak di Kecamatan Kudu hingga kini belum tertangani. Masing masing jembatan di Desa Kudubanjar, jembatan di Desa Bakalanrayung dan Jembatan di Desa Sidokaton. ”Jadi memang benar, kondisi jembatan di Desa Kudubanjar dan dua lainnya masih belum tertangani,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (14/3).
Informasi yang dia terima, Pemkab Jombang melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang rencana menangani jembatan antardesa itu pada 2022. ”Kemarin informasi dari teman-teman Perkim akan diagendakan tahun 2022. Namun nanti tetap melihat kemampuan APBD,’’ tambahnya.
Dijelaskan, alasan tidak bisa diperbaiki tahun ini dikarenakan terkendala anggaran. Apalagi sejak dilakukan refocusing anggaran akibat Pandemi Covid-19, membuat penanganan jembatan diundur. ”Kemarin kita waktu Musrenbang di 2020 ada tiga jembatan yang kita usulkan perbaikan di 2021 yakni Jembatan Bakalanrayung, Jembatan Sidokaton dan Kudubanjar. Namun karena Covid-19 sehingga kita undur,’’ pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Heru Widjajanto, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang membenarkan tiga jembatan rusak belum dilakukan perbaikan. ”Insya Allah, kemarin kita sampaikan ke ibu bupati terkait kebutuhan anggarannya,’’ ujar dia melalui Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Permukiman Syaiful Anwar.
Dijelaskan, jembatan Desa Kudubanjar merupakan jembatan penghubung Desa Kudubanjar dengan Desa Sumbernongko. Kondisinya, saat ini putus total setelah mengalami kerusakan pada bagian utama jembatan. ”Jadi putusnya 2019 lalu akibat terjangan enceng gondok saat banjir di sungai Marmoyo,’’ tambahnya.
Perbaikan jembatan yang memiliki bentang sepanjang 25 meter dengan ketinggian tebing enam meter tersebut diperkirakan mencapai Rp 3,6 miliar. ”Itu perkiraan mulai dari biaya perencanaan, fisik hingga pengawasan,’’ terangnya.
Jembatan kedua, adalah jembatan Randuwatang. Jembatan yang menghubungkan Desa Randuwatang dengan Desa Bakalanrayung ini telah mengalami kerusakan pada bagian abutment dan pelat jembatan. ”Kerusakan itu, juga diakibatkan terjangan saat banjir sungai Marmoyo pada tahun 2019,’’ papar dia.
Meski belum tertangani secara permanen, namun saat ini jembatan tersebut sudah bisa dilewati secara darurat. ”Namun kondisinya sangat membahayakan pengguna jalan,’’ jelas dia.
Diperinci, jembatan yang memiliki bentang 25 meter dengan ketinggian 6 meter. ”Letaknya di sebelah hulu jembatan Kudubanjar-Sumbernongko. Dan untuk perbaikan kisaran kami membutuhkan Rp 2,7 miliar,’’ terangnya.
Jembatan ketiga adalah jembatan di Desa Sidokaton. Tak berbeda jauh dengan dua jembatan sebelumnya, jembatan di Desa Sidokaton juga rusak akibat terjangan saat banjir sungai Marmoyo pada 2019. ”Kerusakan jembatan ini juga sama yakni pada bagian abutmen dan pilar jembatan,’’ papar dia.
Jembatan yang merupakan akses dari Desa Sidokaton menuju Desa Bakalanrayung ini memiliki bentang sepanjang 26 meter dengan ketinggian tebing 6 meter dan berada di sebelah hulu jembatan Randuwatang. ”Karena jarak bentangnya hampir sama, jadi perkiraan kami anggaran yang dibtuuhkan sama yakni sekitar Rp 2,7 miliar,’’ tandasnya.
Sejauh ini, untuk alokasi anggaran yang dibutuhkan tiga jembatan tersebut sudah diajukan ke bupati. Hanya saja, mana yang diprioritaskan menunggu kebijakan bupati. ”Benar, nanti kepastiannya menunggu kemampuan anggaran kita,’’ pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh