Bambu tidak hanya dijadikan perabot rumah tangga. Di tangan Mustamil, warga Dusun/Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, bambu kuning bisa dijadikan seni kaligrafi.
WENNY ROSALINA, Diwek
DI halaman depan rumah, terdapat tanaman bambu kuning menggerombol cukup banyak. Sementara di teras, sejumlah kerajinan berbahan bambu dipajang. Mulai vas bunga, hingga aneka tanaman hias.
”Kaligrafinya berbentuk tiga dimensi, bahan utama dari bambu saja,” ucap Mustamil. ia mulai berkreasi dengan bambu kuning sejak 2007 silam. Ia bercerita, sejak kecil sudah gemar membuat kerajinan kaligrafi. ”Waktu itu buat kaligrafi asal-asalan, saya lihat bagus tapi harganya murah atau lebih mahal dengan lukisan,” ulasnya.
Kemudian muncul ide membuat kaligrafi dari bambu, setelah ia bermain dengan anaknya di belakang rumah. ”Awalnya dari batang pepaya, saya potong-potong dan saya susun menjadi kaligrafi. Baru kefikiran ketika di Jogjakarta banyak bambu dan jarang dimanfaatkan,” imbuh dia.
Dari situ dia kemudian tergerak memanfaatkan tanaman yang memiliki nama latin bambusa vulgaris striata ini untuk menjadi karya seni bernilai tinggi. Ia lantas membuat berbagai macam tulisan.
Hal ini terlihat di ruang tamu, tampak terpajang sebagian karyanya. Mulai dari kalimat tauhid, Allah, Muhammad hingga syahadat. Semua dikerjakan sendiri tanpa penggunaan warna buatan.
Untuk membuat kaligrafi bambu, lanjut dia, langkah pertama yang ia lakukan memotong bambu dalam keadaan basah. Kemudian disterilkan dan diberi obat agar tak dimakan rayap. Setelah itu dikeringkan dengan menggunakan oven.
”Lalu kita tata dan kita urutkan, karena potongan ini ada yang bulat dan berbentuk oval,” jelasnya. Bambu yang sudah kering, kemudian diraut dengan menggunakan cutter. Dalam proses ini, butuh kejelian ekstra karena harus sesuai dengan kalimat atau ayat yang akan dibentuk.
”Baru kemudian kita bentuk, setelah semua terbaca kita lem di media triplek. Lalu diamplas lagi hingga halus,” beber dia. Pemberian obat kembali dilakukan agar tidak dimakan rayap. “Baru kemudian kita kasih plitur,” rincinya.
Kaligrafi yang dibuat berbentuk tiga dimensi. Hasilnya tampak natural karena ia tak menggunakan warna buatan. Sehingga warna alami bambu kuning tampak menonjol. ”Mungkin background saja ada warna. Untuk kaligrafi murni warna bambu kuning. Jadi tidak saya kasih pewarna biar alami,” sebut dia.
Menurutnya, tekstur bambu kuning yang padat dan cerah cukup bagus untuk dijadikan hiasan dinding. ”Pasti awet karena sudah saya kasih obat anti totor, ya meskipun totor tidak suka bambu, tapi kita antisipasi saja,” katanya.
Urusan harga, ia menyebut bergantung bentuk dan tingkat kesulitan kaligrafi yang dihasilkan. Yang paling murah Rp 150 ribu, hingga paling mahal adalah Rp 18 juta dengan panjang sekitar 3 meter.
Kaligrafi buatan Mustamil tak hanya terkenal di Jombang. Ia mengaku pelanggannya lebih banyak datang dari luar kota hingga luar Jawa. ”Seperti Palembang, Banjarmasin dan Kalimantan. Kalau di Jombang biasanya ketika ada event kita berpartisipasi,” pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh