Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Melihat Proses Pembuatan Kipas dari Anyaman Bambu di Desa Pesantren

Rojiful Mamduh • Senin, 11 Januari 2021 | 16:00 WIB
JOMBANG – Jombang kaya akan produk UMKM kreatif. Salah satunya kerajin
JOMBANG – Jombang kaya akan produk UMKM kreatif. Salah satunya kerajin


JOMBANG – Jombang kaya akan produk UMKM kreatif. Salah satunya kerajinan kipas dari bahan anyaman bambu di Dusun Kedungbanteng, Desa Pesantren, Kecamatan Tembelang. Sayang, saat ini jumlah perajin kipas di dusun ini kian minim.



Ngasiyah, 61, salah satu perajin kipas memilih tetap menekuni usaha yang sudah turun temurun dari nenek moyangnya ini. Dia mengaku sudah puluhan tahun menekuni kerajinan pembuatan kipas bambun.


’’Sudah sejak kecil usia 13 tahun mulai nganyam. Bantu orang tua, soalnya dulu yang buat kipas masih banyak,’’ kata Ngasiyah Minggu (10/1) kemarin.



Diusianya yang sudah tidak muda lagi, tangan Ngasiyah masih sangat terampil menyelesaikan karya kipas bambunya. Satu-persatu potongan bambu yang sudah dihaluskan dia ambil Ngasiyah untuk dianyam membentuk bangun persegi.



Karena sudah mahir, hanya dalam waktu sekitar lima menit Ngasiyah sudah menyelesaikan pekerjaannya itu. Namun, anyaman itu masih polos tanpa ada pewarna sama sekali. ’’Ini buat contoh saja,’’ imbuh dia sembari menunjukkan anyaman itu.



Kipas hasil kerajinannya memang selama dikenal dengan kipas warna-warni. Prosesnya yakni usai bambu jenis jawa dipotong tipis atau lebih akrab disebut dengan iratan kemudian dijemur terlebih dahulu.


Baru kemudian diberikan pewarna. Ada tiga macam warna dipakai, yakni hijau, merah, dan kuning. ’’Pemberian warna caranya sombo ini direbus dahulu. Baru kemudian dikasih ke iratan, lalu dijemur lagi. Setelah itu baru dianyam,’’ jelas Ngasiyah.



Dalam sehari lanjut dia, bisa menganyam hingga 100 anyaman. Seluruhnya belum berbentuk kipas alias masih berbentuk kotak. ’’Kalau dulu masih ramai itu tiga hari bisa dapat 1.000 anyaman. Soalnya bambunya beli sendiri, tidak dari tengkulak,’’ ungkap dia.


Sementara sekarang, dia hanya melayani tengkulak dengan keahliannya menganyam.”Mulai dari pemotongan hingga pemberian gagang dan keperluan lainnya dilakukan tengkulak.


Mereka juga berasal dari warga setempat. ’’Dari dulu buat dasarannya saja, jadi saya setor bentuk kotak. Nanti yang motong sampai bentuk kipas ada sendiri,’’ papar Ngasyiah.


Editor : Rojiful Mamduh