JOMBANG – Kaligrafi buatan Mustamil, warga Dusun/Desa Grogol, Kecamatan Diwek cukup unik dan menarik. Bahan utamanya dari bambu kuning. Kaligrafi berbentuk tiga dimensi ini semakin indah karena tulisan lebih hidup.
Di halaman depan rumahnya nampak terdapat tanaman bambu kuning yang menggerombol. Sementara di terasnya, sejumlah kerajinan berbahan bambu dipajang. Mulai vas bunga, hingga aneka tanaman hias.
Ya, Mustamil akrab dengan bambu. Utamanya bambu kuning. Sejak 2007 silam, dia sudah menekuni kerajinan itu.
Di antaranya membuat kaligrafi dari bambu. Di ruang tamu misalnya terpajang sebagian karyanya. Mulai dari kalimat tauhid, Allah, Muhammad hingga syahadat.
Diceritakan, sejak kecil dia sudah begitu senang membuat kaligrafi. ’’Jadi waktu itu buat kaligrafi asal-asalan, saya lihat bagus tetapi harganya ini murah atau lebih mahal dengan lukisan,’’ kata Mustamil, Minggu (25/10/2020).
Singkat cerita, dipilihnya bambu kala dia usai bermain dengan anaknya di belakang rumah. ’’Awalnya dari batang pepaya, saya potong-potong dan saya susun menjadi kaligrafi. Baru kefikiran ketika di Jogja banyak bambu dan jarang dimanfaatkan,’’ imbuh dia.
Dari situ dia kemudian tergerak memanfaatkan tanaman yang memiliki nama latin bambusa vulgaris striata bernilai menjadi kerajinan bernilai tinggi. Terutama bambu kuning yang sampai kini tetap dipilih.
Dijelaskan, tahap awal yang harus dilakukan menyiapkan bahan baku bambu. Dia tak jauh-jauh mencari bambu jenis itu. Sebab hanya tinggal menebang di depan rumah.
Setelah bambu ditebang, langkah berikutnya yakni dipotong tanpa menunggu kering. ’’Dikeringkan waktu setelah dipotong, lalu kita oven. Setelah itu kita sterilkan, diberi obat biar tidak dimakan rayap,’’ ungkap dia.
Langkah selanjutnya bambu yang sudah siap itu dikeringkan lagi dan dioven. Baru kemudian bambu-bambu itu diamplas hingga bersih. ’’Lalu kita tata dan kita urutkan, karena potongan ini ada yang bulat dan berbentuk oval,’’ beber dia.
Langkah itu paling utama sebab, bambu yang dipilih kemudian diraut menggunakan cutter. Butuh ketelitian dan kejelian bahkan keahlian untuk memotong itu. Sebab harus sesuai dengan kalimat atau ayat kaligrafi. ’’Baru kemudian kita bentuk, setelah semua terbaca kita lem di media triplek. Lalu diamplas lagi hingga halus. Kemudian kita kasih obat lagi, baru kemudian kita kasih plitur,’’ pungkas lelaki berusia 45 tahun ini. (fid/naz/jif)
Editor : Rojiful Mamduh