Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Produksi Emping Melinjo Khas Pulorejo Ngoro Masih Dikerjakan Manual

Binti Rohmatin • Senin, 5 Oktober 2020 | 17:22 WIB
Produksi Emping Melinjo Khas Pulorejo Ngoro Masih Dikerjakan Manual
Produksi Emping Melinjo Khas Pulorejo Ngoro Masih Dikerjakan Manual


JOMBANG - Emping melinjo masih menjadi salah satu camilan tradisional yang disukai kebanyakan orang. Salah satu produsen yang hingga kini masih aktif membuat emping, adalah Sujiati, 54, dan Cukup, 54, pasangan suami istri asal Dusun Bakalan, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro.


Minggu (4/10) kemarin, Jawa Pos Radar Jombang mengunjungi rumah mereka. Keduanya sedang sibuk bekerja. Proses pembuatan terhitung cukup sederhana. Buah melinjo mentah, lebih dulu harus dicuci bersih. Baru kulit lembek di bagian luar dilepas.


“Istilahnya, dari gelondongan (masih ada kulit luar, Red) dikupas sampai jadi klathak (berbungkus kulit keras bagian dalam, Red),” ucap Sujiati. Melinjo yang sudah berbentuk klatak, dimatangkan dengan cara digoreng menggunakan pasir panas.


Penggorengan ini untuk mematangkan dan mengeraskan bagian buah melinjo. “Setelah itu ditempa pakai palu kecil, sampai kulit kerasnya lepas. Tapi buahnya tidak boleh hancur, harus tetap utuh,” lanjutnya.


Setelah kulit terlepas, melinjo bisa dibentuk. Proses ini menjadi pekerjaan Cukup, sang suami. Dengan penumbuk batu yang dilapisi plastik dan alas batu besar, pria 54 tahun ini lihai membentuk setiap lembar pipih buah mlinjo hingga menjadi kerupuk. “Satu bulatan ini, biasanya isinya 10-11 biji melinjo. Harus ditata biar ketebalannya rata,” lontar Cukup.


Setelah pipih dan lebar, emping yang masih basah diletakkan di plastik sebelum dijemur sampai kering. Proses ini, mengandalkan sinar matahari langsung. “Seluruhnya manual. Dari mulai pencucian, pengupasan, sampai penumbukan dan penjemuran manual semuanya,” tambahnya.


Meski bekerja tanpa karyawan, pasutri ini bisa menghasilkan tiga kilo emping setiap hari. Keduanya, biasa menjual emping dengan harga Rp 65 ribu per kilo. “Penjualannya di rumah saja, karena biasanya tengkulak sudah langsung mengambil. Begitu juga warga, tidak sempat menjual ke luar,” pungkas Cukup.




Dulu Sentra Produksi, Sekarang Lesu


PRODUKSI emping melinjo di Desa Pulorejo sempat membeludak 2000 lalu. Namun jumlah produsen yang bertahan terus menyusut. Sulitnya bahan baku dan tenaga kerja disebut jadi faktor utama.


“Kalau saya sendiri produksi sudah sejak tahun 1993. Pertama di sini membuat emping melijo, saya dan suami,” ucap Sujiati. Saat itu ia mengaku bahan baku masih melimpah. “Waktu itu banyak, tidak perlu cari ke luar,” lanjutnya.


Pemasaran yang bagus, membuat beberapa orang di tempat tinggalnya ikut berbisnis serupa. Pengrajin emping pun banyak bermunculan. Ia menyebut jumlahnya sempat mencapai puluhan orang. “Tahun 2000 itu paling banyak, sempat jadi kelompok dan anggotanya 50 orang,” sambung Cukup, sang suami.


Namun seiring menyusutnya lahan dan kebun yang ditanami melinjo, membuat produsen kesulitan mendapatkan bahan baku. Untuk produksi saat ini, Cukup mengaku mengandalkan melinjo kiriman dari luar Ngoro. “Paling banyak dari Peterongan kalau sekarang. Kalau dari Ngoro, di Dusun Katerban (Desa Pulorejo, Red) juga ada. Tapi tetap kurang,” tambahnya.


Selain bahan baku yang sulit didapat, Cukup menyebut tenaga kerja yang sudah berumur juga menjadi faktor. Ditambah, minimnya generasi penerus juga menjadikan jumlah produsen terus turun. “Sekarang total tidak sampai 10 orang yang membuat emping, berkurang jauh,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin