Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH Muhammad Baidhowi, Cucu Mbah Hasyim, Pejuang Laskar Hizbullah

Binti Rohmatin • Rabu, 2 September 2020 | 23:58 WIB
KH Muhammad Baidhowi, Menantu Mbah Hasyim, Pejuang Laskar Hizbullah
KH Muhammad Baidhowi, Menantu Mbah Hasyim, Pejuang Laskar Hizbullah

JOMBANG - Muhammad Baidhowi, putra KH Ahmad Baidhowi Asro, cucu dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Baidhowi lahir 1929 silam, dan merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Sejak kecil ia akrab dengan sapaan Gus Muh.


Lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Gus Muh lebih memilih untuk mengabdikan dirinya pada kesatuan militer Laskar Hisbullah, sebelum melebur menjadi TNI usai Indonesia merdeka 1945. “Bapak ikut jadi tentara karena dorongan diri, apalagi setelah resolusi jihad Kiai Hasyim waktu itu,” terang putri Gus Muh, Aisyah Muhammad.


Dalam perang mempertahankan kemerdekaan, Gus Muh, tercatat sempat bergabung dalam Brigade 29 Divisi VI / Narotama, Hizbullah Divisi Sunan Ampel yang telah berubah menjadi Resimen 293. Divisi membawahi 3 batalyon yang tiap batalyon terdiri dari 4 kompi. “Bapak sendiri ketika itu menjabat sebagai komandan Kompi II di batalyon 33 nya,” lanjutnya.


Bersama Batalyon 31, regu batalyon 33 yang Gus Muh di dalamnya mendapat tugas mempertahankan sektor Jombang utara atau sebelah selatan Kali Brantas. Front pertahanan yang sangat terkenal dengan pertempuran sengit melawan pasukan Belanda di Curahmalang, Beluk, Kesamben. Daerah ini harus dipertahankan mati-matian, setelah Kota Mojokerto jatuh dan dikuasai Belanda sejak 17 Maret 1947.


Usai pengakuan Belanda atas kedaulatan Republik Indonesia akhir 1949, sebagian besar anggota Laskar Hizbullah Jombang memilih mengundurkan diri. Namun, Gus Muh masih tetap melanjutkan ikatan dinas militernya di TNI.


“Bapak itu jadi tentara sampai sudah menikah sama ibu kok, bahkan sampai sudah punya anak. Sempat ditugaskan memadamkan pemberontakan PRRI/Permesta di daerah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah 1959. Saat diterjunkan di medan pertempuran itu pangkatnya sudah Kapten,” rincinya.


Namun, tugas di pulau Sulawesi akhirnya yang jadi tugas terakhir. Atas permintaan mertuanya KH Wahab Hasbullah, Gus Muh akhirnya memilih keluar dari instansi kemiliteran dan bermanuver menjadi pedagang, juga sempat ikut berpolitik praktis kala menjadi salah satu anggora DPR RI.  


Hingga meninggal dunia 1997 di usis 68 tahun, dari pernikahannya dengan Nyai Muktamaroh yang juga putri KH Wahab hasbullah, Gus Muh meninggalkan lima putra-putri. “Saya putri terakhir dan satu-satunya, karena empat anaknya yang pertama semua laki-laki,” pungkasnya.


 


 


Nasionalisme ala Gus Muh


MENJADI tentara, Gus Muh menurut anaknya memang orang yang benar-benar tahu cara menunjukkan dan mengajarkan nasionalisme kepada semua anak-anaknya. Meski diakui cukup keras dalam mendidik, namun Gus Muh lebih menekankan cara pengajaran dengan contoh ketimbang  ucapan.


Menurut putrinya Aisyah Muhammad, jiwa nasionalisme Gus Muh memang telah muncul sejak kecil. Terlebih di rumah masa kecilnya di Ponpes Tebuireng memang berlokasi cukup dekat, dengan lokasi rumah tinggal borjuis Belanda di Pabrik Gula Tjoekir.


Seringnya berinteraksi dengan orang-orang belanda di area pabrik gula, membuat semangat nasionalisme dan anti penjajahan disebut Aisyah sangat tinggi. Bahkan, ayahandanya seringkali menceritakan pengalaman melawan Belanda saat masih berumur remaja.


“Kalau cerita bapak dulu itu sering ngerjai mobil orang Belanda, ketika melihat mereka seenaknya main bola dan orang-orang kita cuma bisa jadi jongosnya. Dengan bangga sekali bapak cerita itu seringkali kepada anak-anaknya termasuk saya, dan itu yang membuat beliau bertekad bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dulu,” sambungnya.


Aisyah juga menyebut bagaimana masa kecilnya, setiap Agustus, rumah yang dihuninya hampir tak pernah sepi. “Jadi ornamen kemerdekaan berupa bendera-bendera itu harus penuh kalau sama bapak. Kata beliau, bendera ini simbol penghormatan dari perjuangan bapak dan jutaan orang lainnya di Indonesia dulu. Makanya harus semarak dan tidak boleh setengah-setengah merayakan,” imbuhnya.


Begitupun pada bendera, Gus Muh menurut Neng Is, sapaan akrabnya, orang yang tak akan rela melihat bendera lusuh berkibar di tiang-tiang bendera. Menurut Gus Muh, menjaga bendera tetap bersih dan bagus juga adalah penghormatan yang harus dilakukan semua warga negara Indonesia.


“Pernah suatu ketika saya sama bapak itu jalan ke Sidoarjo. Saat itu, kami melewati koramil, tiba-tiba bapak minta sopir berbalik dan masuk koramil tanpa maksud yang dijelaskan kepada,” lontarnya.


Tanpa banyak bicara, Gus Muh kemudian mendatangi satu-satu prajurit yang ada di koramil tersebut untuk meminta bertemu dengan komandan. Usai bertemu, Gus Muh kemudian marah besar kepada sang Danramil.


“Bapak waktu itu langsung ngomong, bagaimana bisa seperti ini, bendera kotor dan lusuh masih dikibarkan. Kalau tidak ada uang, ini saya beri beli bendera baru. Kalian ini nggak menghargai perjuangan, kalau membiarkan bendera rusak seperti ini berkibar terus,” ucapnya menirukan ayahnya dengan nada tinggi.


Sontak saja, usai mengetahui yang datang adalah KH Muhammad Baidlowi yang bekas tentara juga pejuang, seluruh koramil tersebut kalang kabut dan segera meminta maaf. Mengganti bendera lama tersebut dengan bendera baru. “Itu salah satu cara bapak mengajarkan nasionalisme kepada kami, dengan contoh langsung, tidak cuma teori,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin