JOMBANG – Tokoh ini bernama asli Ahmad Mustain. Ia adalah putra pasangan Syafii dan Ma’shumah yang berasal dari wilayah Paciran Lamongan, dan lahir 3 Desember 1955.
“Saya aslinya bukan Jombang. Saya kelahiran Desa Paloh, Kecamatan Paciran. Tapi memang sekarang menetap di Jombang,” ucapnya beberapa waktu lalu.
Perjalanan menuju Jombang dan menjadi ahli tafsir, dimulai dengan pendidikan agama semasa kecil. Kiai Tain, sapaan akrabnya, memang lahir dan tumbuh di keluarga yang religius. Ia menempuh pendidikan pertama di MI Muhammadiyah Paloh, Paciran, Lamongan.
Dalam keluarganya juga mengalir darah dua ormas besar Islam, dan itu mempengaruhi pemikirannya hingga kini. “Adik dari kakek saya tokoh Muhamadiyah, tapi ibu saya sendiri tokoh di muslimat NU,” lanjutnya.
Setelah tamat MI, Kiai Tain melanjutkan pendidikan di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Mazroatul Ulum di Paciran 1972. Meskipun bersekolah di Paciran, namun Kiai Tain dan teman satu kelasnya melaksanakan ujian nasional di MTs Bahrul Ulum Tambakberas. Karena gurunya adalah alumni Tambakberas, sehingga ijazahnya berstatus alumni MTs Tambak Beras.
Kiai Tain melanjutkan pendidikan di MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng pada 1975. Di Tebuireng, ia sekaligus menghafal Alquran dan rutin setor ke kiai Adlan Aly secara pribadi, dan terdaftar sebagai peserta diwisuda pertama Tahfidzul Madrasatul Qur’an.
“Saya waktu itu mondok memang diminta paman saya sekaligus menghafal Alquran. Sekolahnya juga di Tebuireng sampai lulus kuliah juga di Tebuireng,” paparnya.
Kiai Tain juga tercatat sebagai Sarjana, Magister dan Doktor di beberapa universitas lain seperti IAIN Sunan Kalijaga hingga UIN Sunan Ampel Surabaya. “Memang setelah S1 di Ikaha itu saya melanjutkan S2 dan S3 tapi jurusannya hampir sama Syariah,” lanjutnya.
Hingga kini dirinya masih aktif di beberapa kegiatan kajian Alquran dan tafsir, dosen, hingga menjadi salah satu pengasuh di PP Madrasatul Quran Tebuireng.
“Selain itu ada juga kegitan yang aktif di 14 tahun terakhir, yaitu menulis untuk salah satu media massa nasional,” sambungnya.
Dari pernikahannya dengan Khodijah, ia dikaruniai empat putra dan lima cucu. Ia kini tinggal di Dusun Kedaton, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek. “Ya sekarang memang sudah menetap disini. Kebetulan istri orang sini dan ketemunya juga di Tebuireng, waktu sama-sama menjadi santri,” ungkapnya.
Tafsir Aktual ala Kiai Tain
MENJADI salah saorang yang seringkali jadi rujukan tafsir untuk banyak orang di Jombang, ternyata kiai Tain punya cara tersendiri dalam menafsiri Alquran. Selain tetap berpegang pada kitab dan tafsir terdahulu, seringkali kiai Tain menggunakan subjektivitas sendiri untuk meramu tafsir dari ayat yang dikajinya.
“Saya tidak pernah menyebut tafsir ini dalam jenis apa, tapi banyak orang menyebut tafsir aktual, artinya tafsir ini memang saya kira akan kontekstual dengan kondisi sekarang dan terus berkembang, dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Meskipun tetap pada kaidah yang ada,” jelasnya.
Tafsir ini muncul memang tak lepas dari saat dirinya mulai aktif menulis untuk salah satu media cetak. Dalam media tersebut, kebutuhan penjelasan berbagai ayat Alquran secara berurutan dengan bahasa mudah dan simpel sangat dibutuhkan pembaca. Sehingga tafsir aktual jadi jalan yang paling masuk akal.
“Tafsir ini kan dimulai dari Alfatihah dulu, dan terus berlanjut ke Al Baqarah dan seterusnya, jadi tugasnya menyajikan tafsir dan bagaimana itu dielementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Meski ini terlihat mudah, tafsir menurutnya terkadang juga rentan dengan kritik. Hal ini dibuktikannya saat awal dirinya memulai penafsiran surat Alfatihah.
Seperti saat dirinya menafsirkan iyyaka na’budu wa iyyaka nastain (alah satu ayat Surat Al Fatihah, Red). Kiai Tain menafsirinya sebagai penting kewajiban berikhtiar dan bertawakal.
“Ini merujuk pada sabahat yang lalai tidak mengikat ontanya ketika bertamu kepada nabi dan dimarahi karena lalai, harusnya diikat dulu baru tawakal,” rincinya.
Dirinya sempat beberapa kali disindir karena tafsir tersebut dinilai keluar dari pagar tafsir yang biasa dilakukan. Bahkan beberapa orang juga pernah disebutnya datang ke rumah, setelah membaca tafsiran perihal beberapa ayat Alquran yang dikontekskan dengan ayat dari kitab lain.
Ia menulis kemungkinan ada duplikasi dari kitab sebelum ini karena ditemukan beberapa kesamaan di kitab milik pemeluk agama lain.
“Ternyata ada orang yang datang ke rumah karena merasa tidak terima, menurut dia saya kayak menyebut Alquran meniru kitab lain, padahal kan tidak, kalau memang ada kesamaan ya wajar, karena kitab samawi sebelumnya juga diteruskan Alquran ini, dan akhirnya diterima juga sama mereka,” lanjut kiai Tain.
Selain itu beberapa kali upaya penafsirannya juga disebut banyak dikritik orang hingga dianggap sekedar opini, karena dinilai keluar dari batas-batas yang wajar.
“Itu sering, silahkan kalau memang dianggap bukan tafsir, mungkin ada juga yang menganggap bukan tafsir, karena dianggap jauh dari asalnya, dan ulama memang banyak yang membatasi masalah ini.Tapi buat saya, keluar dari pagar memang boleh selagi masih berkaitan sama intinya,” lontarnya.
Karena menurutnya, setiap tafsir itu memang tak lepas dari subjektifitas penafsirnya. Ia bahkan dengan tegas menyebut tak ada tafsir yang objektif, semua tafsir menurutnya subjektif.
“Tapi apakah subjektif ini selalu buruk? Tentu tidak, kan ada subjektif berkaidah sehingga arahnya nanti menjadi inter subjektif tidak sama dengan subjektif emosional yang merem, itu yang tidak boleh,” pungkas kiai Tain.
Saya Tetap Santri
BAGI banyak orang, kemampuan KH. Mustain Syafii memang cukup luas. Hal tersebut tak mendorongnya untuk mendirikan pondok baru. Bahkan ia masih enggan jika orang memanggilnya dengan sebutan kiai.
“Waduh jangan begitu dong, belum kiai ini, kalau begini kiai, yang nggak kiai seperti apa,” ucapnya saat wartawan koran ini memanggil kiai kepadanya.
Meski dirinya telah aktif mengajar di lingkungan pondok hingga banyak orang menganggapnya sebagai ahli tafsir, ia tetap menganggap santri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. “Yang kiai sudah banyak di luar, saya tetap santri saja, biar saya ngawulo saja, itu lebih ringan menurut saya,” ucapnya.
Hal ini juga disebutnya saat Jawa Pos Radar Jombang menanyakan pandangan ke depan tentang pembuatan pondok pesantren seperti banyak santri senior. Kiai Mustain menyebut hingga kini dia mengaku belum terpikir untuk mendirikan pondok pesantren.
“Kalau ngajar ya masih di pondok kegiatan saya ya tetap, bedanya sama dulu, cuma jauhnya saja, cuma kalau bikin pondok belum, toh disini sudah banyak,” ucapnya merendah.
Menurut dia, ada beberapa alasan hingga kini dirinya masih belum melangkah untuk mendirikan pondok. Selain merasa belum pantas, dirinya hingga kini masih belum bisa ajek dan istiqomah pada suatu hal.
“Saya menyadari belum bisa istiqomah, masih loncat-loncat, kalau punya pondok itu harus menetap. Istilah saya punya pondok itu kayak pitik angrem, kalau nggak di angremi pasti nggak netes soalnya,” pungkasnya sembari tertawa.
Editor : Binti Rohmatin