Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH Abdurrahman Wahid, Tokoh Pluralisme dari Jombang

Binti Rohmatin • Rabu, 26 Agustus 2020 | 21:58 WIB
KH Abdurrahman Wahid, Tokoh Pluralisme dari Jombang
KH Abdurrahman Wahid, Tokoh Pluralisme dari Jombang


JOMBANG – Tokoh besar asal Jombang ini adalah cendikiawan, tokoh agama, kiai, serta tokoh pluralisme. Sangat dikenal jenaka, apa adanya dan tutur katanya yang ceplas-ceplos memang tak bisa begitu saja hilang dari ingatan.


Gus Dur, begitu dia akrab disapa. Dari garis ayah, ia adalah putra pertama dari KH Abdul Wahid Hasyim, seorang cendikiawan muslim dan menteri Agama Pertama RI yang juga cucu dari KH Hasyim Asy’ari pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sementara ibunya, adalah Nyai Sholichah, ia merupakan putri dari KH Bisri Sansuri, salah satu pengasuh dan tokoh penting dalam perkembangan NU di Indonesia bersama KH Hasyim Asy’ari.


Lahir di kompleks Pesantren Denanyar milik KH Bisri Sansuri, ternyata kelahiran Gus Dur hingga kini seringkali diperdebatkan. Hal ini terungkap dalam tulisan Greg Barton, salah satu penulis asal Australia yang menulis otobiografi tentang kehidupannya bersama Gus Dur .


“Gus Dur memang dilahirkan di tanggal empat bulan delapan tahun 1940, akan tetapi perlu diketahui bahwa tanggal itu adalah menurut kalender Islam, yakni bahwa Gus Dur lahir pada bulan Sya’ban, bulan ke-8 dalam kalender Islam. Sebenarnya tanggal 4 Sya’ban adalah tanggal 7 September 1940,” tulis Barton, dalam bukunya The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Terlahir dengan nama Asli Abdurrahman Ad-Dakhil (Sang penakluk) nyatanya nama tersebut tak begitu populer dan akhirnya digantikan dengan nama Wahid yang merupakan nama ayahnya.


Sejak umur empat tahun, Gus Dur memang sudah diajak ayahandanya menetap di jakarta yang saat itu menjabat sebagai Shumubu di era penjajahan Jepang. Ia menamatkan SR (Sekolah Rakyat) di Jakarta dan kemudian 1957 berhasil menyelesaikan SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama). Setelah tamat SMEP, Gus Dur mulai penuh mengikuti pelajaran pesantren dengan masuk ke pesantren Tegal Rejo hingga lulus dua tahun kemudian.


Pada 1959 setelah lulus dari pesantren Tegal Rejo, Gus Dur pindah ke Jombang untuk belajar secara penuh di pesantren Tambakberas di bawah bimbingan Kiai Wahab Chasbullah. Gus Dur belajar di pesantren ini hingga 1963. Setelah satu tahun belajar di sana Gus Dur kemudian mulai mengajar dan menjadi kepala sekolah di madrasah modern yang didirikan di kompleks pesantren. Setelah kurang lebih tiga tahun belajar dan mengabdi di pesantren Tambakberas, Gus Dur mendapat beasiswa belajar di Universitas Al Azhar dari Kementrian Agama.


Saat menimba ilmu di luar negeri inilah kiprahnya mulai banyak dirasakan. Setelah sempat tak betah di mesir karena menganggap pendidikannya tak jauh berbeda dengan di pesantren, ia kemudian memilih berpindah menuju Baghdad Iraq untuk melanjutkan studi hingga tamat sarjana pada 1970.


Pendidikannya kemudian berlanjut ke Eropa meski juga tak berjalan mulus. “Pada mulanya ia bertempat tinggal di Belanda dengan berharap dapat melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Leiden pada bidang Perbandingan Agama. Rencana Gus Dur tersebut gagal dikarenakan Universitas Leiden dan seluruh Eropa tidak mengakui studinya di Universitas Baghdad. Ia berkelana hampir setahun di Eropa (Belanda, Jerman dan Perancis) dan akhirnya kembali ke tanah air tahun 1971,” kembali tulis Barton dalam bukunya.


Setelah itu, aktifitasnya lebih banyak berkutat pada tulisan-tulisan dan kegiatan jurnalistik lewat berbagai media yang pernah diikutinya.  Hingga sering diundang dalam berbagai aktivitas diskusi kebangsaan. Bahkan Gus Dur juga tercatat pernah, menjadi salah satu dosen di Unversitas Hasyim Asy’ari sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah.


Dalam politik, karier Gus Dur juga cukup cemerlang. Tiga kali memimpin NU hingga merintis PKB, Gus Dur bahkan sempat merengkuh jabatan sebagai presiden  2009, menggantikan B.J. Habibie. Meski dua tahun kemudian ia dilengserkan lewat sidang istimewa MPR. Namun


Selama menjabat sebagai Presiden,banyak kebijakan yang diambilnya dengan cukup berani. Beberapa yang masih paling diingat tentu saja beberapa kebijakan pada Januari 2001. Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Hingga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.


Sementara dari perkawinannya dengan Shinta Nuriyah, Gus Dur dikaruniai empat orang anak yaitu Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny juga aktif berpolitik dan saat ini adalah direktur The Wahid Institute. Meninggal pada tanggal 30 Desember 2009 dikarenakan komplikasi penyakit yang dideritanya, Gus Dur dimakamkan di Kompleks Pesantren Tebuireng berdekatan dengan ayah dan kakeknya. Bahkan kini kawasan ini jadi salah satu destinasi wisata religi terbesar di Jawa Timur.


 


 


Tegas Namun Tetap Santai


SELAIN orang yang teguh dalam membela minoritas hingga ketegasannya dalam prinsip memegang pendirian. Gus Dur juga dikenal sebagai orang yang suka bercanda dan gemar melontarkan joke-joke segar di setiap pembicaraan dengan siapapun.


Hal ini juga diungkap putrinya sendiri, Allisa Wahid dalam sebuah kesempatan di Jombang beberapa waktu lalu. “Kita di sini bukan untuk memuji-muji Gus Dur. Beliau lebih senang ditertawakan daripada dipuji-puji,” ucap Allisa membuka sambutannya.


Gus Dur memang orang yang bisa bercanda dengan siapapun. Dalam kesehariannya, ia selalu terlihat menganggap semua masalah yaang datang kepadanya pasti akan bisa terselesaikan dengan mudah. Tentu saja, yang paling terkenal jargon khas Gus Dur yakni “gitu aja repot”. Hal ini mengungkapkan bagaimana Gus Dur bisa melihat sesuatu dengan sisi optimistis tinggi. Greg Barton dalam bukunya memang menulis bagaimana pandangannya kepada Gus Dur.


“Gus Dur dalam pernyataannya yang memandang enteng masalah yang dihadapinya itulah yang menggambarkan mekanisme ekstrovert dari kebiasannya untuk menyemangati dirinya ketika menghadapi tantangan yang benar-benar mengancam,” tulis Greg dalam bukunya.


Pandangan bagaimana Gus Dur bersikap humoris kepada semua orang, dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu juga pernah disebutkan mantan Ketua MK Mahfud MD. menyebut Gus Dur memang akan selalu sama dan memperlakukan semua orang sama di hadapannya.“Gus Dur juga orangnya nggak mau main-main dan sederhana pembawaannya,  tidak jaim istilah anak muda sekarang, ketemu siapa saja ya sama saja kalimatnya, gurauannya sama,” ucapnya.


Meski demikian, Mahfud yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan di masa Gus Dur menjabat Presiden ini juga menyebut, Gus Dur bukan orang yang mudah terombang ambing situasi. Ia adalah orang yang memegang prinsip dalam hidupnya.


Seperti ketika terjadi lobi-lobi politik menjelang lengsernya Gus Dur dari kursi presiden, Mahfud menyebut ada beberapa partai yang mencoba melakukan kompromi dengan beberapa kesepakatan yang menguntungkan Gus Dur, namun juga partai jadi bisa mendikte presiden untuk pemilihan menteri.


“Nggak bisa! Demokrasi itu bukan pasar! Saya lebih baik berhenti jadi presiden dari pada saya didikte oleh partai-partai dengan cara melanggar konstitusi!,” ucapnya menirukan Gus Dur. Padahal ketika itu dirinya sudah menyiapkan dokumen yang berhasil didapatnya dari hasil lobi. “Waktu itu saya membawa dokumen hasil lobi dan Gus Dur mengucapkan sambil menggebrak meja,” ucapnya. 


Bahkan yang juga masih sangat diingatnya, adalah ketika posisi Gus Dur telah terdesak dan ia menyarankan untuk Gus Dur mau berdamai dengan keadaan. “Bagi Gus Dur, kita tidak boleh tunduk pada fakta, kalo kita mau berjuang harus melawan fakta dan membuat fakta baru,” ucap Mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini.


Selain itu, yang membuatnya selalu dikenang orang juga adalah caranya memperlakukan manusia. Menurut Allisa Wahid, Gus Dur bisa dijadikan teladan bagaimana seharusnya warga negara diperlakukan. “Gus Dur melihat orang lain secara setara, warga negara itu setara di hadapan hukum, jadi tidak ada pembeda atas dasar apapun baik agama, suku, bahasa ibu, dan lain sebagainya yang itu bisa menghancurkan hak warga negara. Itu cara Gus Dur melihat orang di sekelilingnya,” ucapnya kembali.


Ia melihat, dengan kondisi Bangsa Indonesia yaang kini tengah dalam ancaman perpecahan akibat saling hasut dan permusuhan, Gus Dur memang akan selalu jadi orang yang bisa jadi jalan untuk kembali. “Dalam kondisi saat ini, semua orang saling bisa membenci dan menebar kebencian, kita pasti rindu sosok Gus Dur yang mampu menjahit berbagai perbedaan yang ada,” sambungnya.

Editor : Binti Rohmatin