JOMBANG – Cerita ini mungkin tak asing bagi masyarakat Jombang. Beberapa orang menyebutnya legenda, tapi tak kalah banyak juga yang menyebutnya sebagai babad karena diyakini betul kebenaran ceritanya. Bahkan puluhan desa dan dusun hingga nama Jombang diyakini lahir karena tokoh ini.
Dia bernama Joko Tulus, atau lebih akrab disapa Kebokicak, dari banyak sumber yang didapat, Kebokicak adalah seorang pendekar sakti. Meski banyak versi mengenai ceritanya, namun salah satu cerita yang paling banyak dituturkan, Kebokicak adalah putra dari salah satu Patih Majapahit bernama Patih Panggulang Jagad.
Sedangkan ibunya, adalah Wandan Wanguri yang juga adalah putri Ki Ageng Buwono, salah satu pemilik padepokan. “Diyakini memang asalnya Ki Ageng Buwono dan ibunya Kebokicak ini dari Dusun Kedung Bungkil yang sekarang jadi Dusun Bungkil di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh,” jelas pemerhati budaya Jombang Nasrul Illah.
Sedangkan saat mengandung hingga anak-anak, Kebokicak lebih banyak berada di Dusun Karang Kejambon yang kini berubah nama menjadi Dapurkejambon. Hal ini menurut Nasrul karena sempat diusirnya ibu Kebokicak dari padepokan ayahnya karena dianggap mengandung anak tak berayah.
“Waktu itu memang perkawinan itu dilakukan sepihak, dan dari sanalah nantinya perjalanan kesaktian Kebokicak terjadi. Ia harus menempuh latihan hingga sakti untuk kembali bisa bertemu ayahandanya dan menjadi salah satu punggawa di Kerajaan Majapahit menggantikan pamannya bernama Tumenggung Surono yang tak lain ayahnya Surontanu seterunya di akhir perjalanan hidupnya,” lanjutnya.
Kebokicak, juga disebut pernah berguru kepada salah satu tokoh di selatan Jombang yakni Ki Sumoyono. Di sana, ia belajar berbagai ilmu kanuragan dan kehidupan. Di padepokan milik Ki Suimoono ini juga, dirinya bertemu dengan Surontanu yang juga masih ada hubungan kerabat dengannya.
“Surontanu memang lebih dulu berguru di sana, tapi keduanya akhirnya mampu menjadi pendekar yang sakti, Kebokicak dengan berbagai kesaktian kanuragannya serta Surontanu yang akhirnya memperoleh salah satu hewan peliharaannya yakni Banteng Tracak Kencono yang nantinya jadi sengketa keduanya karena dianggap sebagai penyebab pagebluk atau wabah penyakit,” lanjutnya.
Karang Kejambon sebagai tempatnya tumbuh hingga dewasa, kini masih bisa disaksikan. Meski makam atau petilasan Kebokicak tak pernah ditemukan, di makam desa Dapurkejambon hingga kini masih ada satu makam yang diyakini sebagai makam ibundanya yakni Wandan Wanguri, dan tiga makam lain yang diduga berkaitan erat dengan kehidupannya di masa lampau.
“Memang kuburannya tidak pernah ditemukan setelah terlibat perang dengan teman seperguruannya Surontanu, keduanya memang seoalh hilang entah kemana. Namun hingga saat ini, banyak orang percaya bekas pertarungan mereka jadi asal-usul nama banyak Desa di Kabupaten Jombang,” pungkasnya.
Ada Dua Cerita Besar
SEPERTI juga kisah hidupnya, asal usul nama kebokicak sendiri hingga kini juga masih jadi banyak perbincangan, selain juga penampilannya. Ada beberapa orang yang menyebut Kebokicak berwujud manusia berkepala kerbau karena kutukan ibunya, bahkan tradisi cerita ini masih bisa disaksikan hingga kini.
Beberapa pementasan ludruk menggambarkan Kebokicak sebagai orang dengan muka hitam memakai tanduk di kepalanya. “Memang kalau di ludruk biasanya begitu yang ada, bahkan biasanya setiap dialog pasti ada semacam suara kerbau oooeeek. Tapi itu memag seni dalam peran saja,” jelas Nasrul Illah.
Namun, beberapa yang lain menganggapnya manusia biasa, julukan Kebokicak sendiri muncul karena sifatnya yang berperangai namun berperangai urakan sehingga dijuluki Kebo.
“Kalau saya melihatnya dari berbagai cerita yang ada, Kebokicak ini tetap manusia, nama itu sendiri didapatkannya dari ulahnya yang urakan kepada kakeknya sendiri saat bertapa, hingga dianggap seperti kerbau yang mencak-mencak, karena merasa malu, lalu ia mencoreng mukanya sendiri layaknya kerbau,” lanjutnya.
Bahkan, hal ini juga dikuatkan dengan pengakuan salah satu orang di Dapurkejambon yang mengakui dirinya masih keturunan dari kebokicak. “Ya tentu manusia biasa, dari cerita yang kami terima dari keluarga memang beliau itu orangnya keras dan urakan, sehingga memang dapat sebutan Kebo dan kenapa ada kicaknya, karena saat jalan memang tidak seimbang kakinya, seperti agak pincang,” ucap Khoirul Anwar.
Ia juga bercerita mengenai banyaknya cerita yang meliputi kehidupan Kebokicak, selain cerita rakyat, beberapa cerita yang dianggapnya benar di dalam keluarganya, Kebokicak memang orang yang berkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit, namun dalam cerita Kebokicak pernah bertemu dengan beberapa ulama dan kiai.
Perguruannya sendiri tidak diceritakan hanya di Sumoyono saja namun juga kepada salah satu ulama di banyuarang. “Kalau dari cerita di keluarga, Mbah Kebokicak itu bergurunya di Banyuarang, dan Surontanu itu gurunya sendiri tapi karena tidak mau ketika diajak masuk Islam, maka terjadilah pertempuran tersebut,” sambungnya.
Bahkan, beberapa cerita yang disebutnya versi santri ini sudah seringkali digaungkan banyak kiai di Jombang. “Dan tentu kami juga meyakini kebenaran adanya Mbah Kebokicak, wong silsilah keturunannya juga ada, bahkan sampai ke beberapa kiai besar di Jombang,” lanjutnya.
Meski ada perbedaan, menurut Nasrul Illah hal itu sangat wajar, mengingat kisah yang asli dan tertulis memang belum pernah ditemukan. Ia juga menyebut, adanya dua perbedaan besar cerita versi budaya dan versi santri namun merujuk pada orang yang sama menunjukkan bukti nyata adanya sosok Kebokicak di Jombang dahulunya.
“Perbedaan cerita tentu bisa dimaklumi, karena jaraknya yang sudah jauh dan cerita yang terus diturunkan pasti akan ada pembeda. Yang jelas, memang keturunannya sampai sekarang masih ada dan ketika dua versi menceritakan hal yang sama kan terlihat sebenarnya Kebokicak ini bukan sekadar legenda saja,” imbuhnya.
Perang Surontanu-Kebokicak
DUA cerita besar yang menggambarkan kehidupan Kebokicak memang berakhir di ujung yang sama, yakni kematian kedua orang ini. Hal yang memicu perang pun sama, yakni perbedaan prinsip antara keduanya. Yakni Kebokicak dan Surontanu dan berfokus pada Banteng Tracak Kencana milik Surontanu.
Pada cerita versi budaya, perang ini dimulai ketika terjadi pagebluk alias wabah penyakit mematikan di Padepokan milik Ki Sumoyono. Dan penyebabnya, adalah banteng kesayangan milik Surontanu yang dirasuki dua jin buaya penjaga Sungai Brantas. Dan untuk tugas ini, Kebokicak lah yang ditugaskan untuk melakukannya.
Di sisi lain, keinginan ini ditolak mentah-mentah Surontanu yang merasa telah bersumpah untuk sehidup semati bersama bantengnya tersebut. Hingga dirinya melarikan diri.
“Dalam cerita budaya, perang ini merupakan bentuk perang nilai, dimana Surontanu bersikeras mempertahankan sumpahnya yang dianggap sang guru salah, namun di sisi lain, upaya Kebokicak ini juga bentuk melindungi rakyat lebih banyak dari ancaman hal buruk,” ungkap Nasrul Illah.
Sementara di versi santri, perang ini dilatarbelakangi agama. Upaya Kebokicak untuk memaksa Surontanu memeluk agama Islam dinilai memicu percekcokan. Dalam perang ini dilibatkan pula Banteng Tracak Kencono sebagai senjata milik Surontanu. Seperti dikutip dari hasil salah satu penelitian tentang Kebokicak.
“Perang tanding antar keduanya terjadi karena upaya Kebokicak memaksa Surontanu untuk masuk Islam hingga keduanya terlibat pertengkaran hebat dan sama-sama meninggal,” tulis Puspita Indriani dalam hasil penelitiannya.
Meski demikian, kedua versi ini mengamini adanya dampak luar biasa dari perang yang dilakukan keduanya. Yakni munculnya nama beberapa desa di Jombang yang dikaitkan dengan perang keduanya.
“Sebut saja Parimono yang diduga lahan perang pertama, Dusun Kandang Sapi di Kesamben yang diyakini jadi tempat Kebokicak pernah dikandangkan Surontanu saat perang. Mojongapit, Mojosongo dan lain-lain. Kalau ditotal mungkin ada dua puluh lebih nama desa yang menggunakan dasar Kebokicak sebagai asal-usulnya,” kembali Nastul Illah menjelaskan.
Fakta ini disebutnya juga menguatkan bukti jika Kebokicak memang benar adanya, dan kisahnya, tak layak lagi disebut sebegai legenda. “Menurut saya dengan masifnya bukti yang ada meski berupa cerita tutur, Kebokicak layak disebut babad alas yang bagi orang Jawa itu sama dengan sejarah, jadi bukan lagi legenda,” pungkasnya.
Editor : Binti Rohmatin