Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Merang Tradisional Gabusbanaran, Kerajinan Legendaris Turun Temurun

Binti Rohmatin • Senin, 11 Mei 2020 | 15:30 WIB
Merang Tradisional Gabusbanaran, Kerajinan Legendaris Turun Temurun
Merang Tradisional Gabusbanaran, Kerajinan Legendaris Turun Temurun


Jika masuk ke Dusun Gabus, Desa Gabusbanaran, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, pemandangan unik akan segera tersaji di halaman depan rumah warga. Beberapa warga di dusun ini, punya produk kerajinan yang unik sejak puluhan tahun lalu.


JOMBANG - Merang, adalah sebutan lain untuk batang padi berukuran panjang yang telah dikeringkan. Benda ini, biasanya banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai batangnya yang bisa dihaluskan alat rumah tangga seperti sapu. Bahkan, abunya bisa digunakan untuk masakan juga campuran jamu hingga obat.


Namun yang terbanyak, biasanya merang ini diikat untuk jadi salah satu alat ritual atau sesembahan. Dimana batang merang akan jadi wadah untuk kemenyan sebelum nantinya dibakar dan mengeluarkan bau harum.


Salah satu perajin yang hingga kini masih bertahan adalah Sabar, 45. Ia, hampir setiap hari sibuk dengan merang-merang buatannya ini. Proses pembuatan merang, biasanya dimulai dengan pencarian batang padi dahulu.


Batang padi yang telah didapatkan itu, harus terlebih dahulu dijemur. Penjemuran ini, bisa berlangsung satu hingga dua hari, sampai batang padi benar-benar kering dan mengeras. “Biasanya dari warna yang masih agak hijau sampai cokelat, bisa satu hari-bisa dua hari tergantung panasnya matahari. Supaya batangnya keras, jadi nanti mudah ditata,” tambah Sabar.


Setelah benar-benar kering, proses selanjutnya adalah penghalusan. Bagian bekas bulir padi, akan disortir dan dibersihkan kembali. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel pada batang padi. “Ya cuma pakai tangan saja, tidak ada alat khusus juga, semuanya manual,” tambahnya.


Setelah itu, merang akan ditata dan ditali. Seluruh proses ini, butuh waktu hingga lima hari penuh. Setiap minggunya, ia mengaku bisa memproduksi hingga puluhan bahkan ratusan gelondong besar merang. Seluruh produk ini, bakal dikirimnya ke berbagai kota di sekitar Jombang.


“Yang banyak biasanya ke Kediri, Tulungagung, Blitar dan Malang. Jombang sendiri malah tidak laku beginian. Kota-kota itu adatnya masih kental, kejawennya kuat, jadi masih laku,” ucapnya diselingi tawa.





Batang Padinya Masih Utuh


TAK sembarang batang padi bisa digunakan untuk merang. Hanya padi yang dipanen dan dirontokkan tanpa mesin yang bisa jadi produk merang ini. Hal ini berkaitan dengan kualitas bahan dan panjang bahan yang harus jadi perhatian penting pembuatnya.


“Ya, memang tidak sembarangan yang bisa diolah jadi merang, seperti padi yang dipanen di Jombang ini nyaris semuanya sudah tidak bisa dipakai,” ucapnya.


Sabar menyebut, padi yang dipakai memang harus berukuran panjang. Yang artinya, proses pemanenannya harus diambil dari batang paling bawah dan dekat dengan pangkal tanah. “Kalau di Jombang ini kan kebanyakan memotongnya sudah setengah batang ke atas, otomatis tidak bisa,” lanjutnya.


Selain itu, kondisi batang padi, juga harus masih sangat baik. Tak boleh hancur apalagi banyak pecah. “Karena itu, biasanya yang bisa dipakai itu padi yang perontokan bulir padinya masih pakai mesin pancal atau yang masih pakai manual, dipukul-pukul itu,” tambahnya.


Karena jenisnya harus khusus, untuk mendapat bahan baku jenis ini Sabar harus rela berburu batang padi ke banyak kota yang jaug dari Jombang. mulai Lamongan, Mojokerto, Malang, Hingga Bojonegoro bahkan ia harus datangi untuk mendapat bahan baku itu.


“Biasanya adanya di daerah yang masih agak kuno, atau wilayah pegunungan, mesin kan susah jalan di sana, jadi panennya masih pakai alat lama,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin