JOMBANG - Musim hujan menjadi berkah tersendiri bagi pemburu bekicot. Salah satunya, Sutaji, warga Dusun Sumber Pengantin, Desa/Kecamatan Jogoroto. Dalam sehari, bisa mendapat 30-50 Kilogram.
Hanya bermodal lampu senter dan timba, Sutaji mengelilingi desa. Satu persatu kebun milik warga dimasukinya untuk mencari bekicot. Setiap sudut kebun tak luput dari sorotan lampu senternya. Setiap bekicot yang ada besar maupun kecil langsung dimasukkan ke dalam timba hitam yang sudah disiapkan dari rumah.
Meski kebun dalam keadaan gelap, dia tak merasa takut. Bahkan, dengan santainya dia masuk ke dalam kebun. “Kalau musim hujan seperti ini memang banyak bekicot, apalagi malam setelah hujan. Pasti banyak yang muncul,” ujarnya sambil mencari bekicot.
Dia sendiri mencari bekicot sejak 2012 lalu. Karena memang, di rumahnya ada pengepul yang siap menampung bekicot buruan. “Kalau tidak musim hujan saya mencari tokek. Tapi kalau musim hujan seperti sekarang, saya mencari bekicot,” kata Sutaji.
Meski tak ada keraguan saat masuk kebun atau area persawahan. Dia masih takut dan khawatir bila ada ular. Sehingga dirinya harus lebih berhati-hati saat masuk kebun. Terlebih, dirinya tidak pernah memakai sepatu. “Kalau mencari bekicot ini takutnya hanya dengan ular, karena ular biasanya keluar malam hari. Jadi harus lebih berhati-hati,” ceritanya.
Pria berusia 40 tahun ini menyebut di bulan-bulan seperti ini jumlah bekicot belum begitu banyak. Karena saat ini hujan masih belum menentu. “Saat hujan terus-menerus, baru banyak sekali bekicot,” terangnya. Meski begitu, dalam satu hari dirinya mampu memperoleh 30-50 kilogram bekicot.
Sesampai di rumah, semua hasil buruannya itu diserahkan ke pengepul. Biasanya, bekicot tangkapannya atau dari pemburu lain digunakan untuk menyuplai warung makanan seperti rica-rica maupun sate bekicot. Untuk satu kilogram hasil bekicot dihargai Rp 4 ribu. “Biasanya sehari mendapat Rp 120 ribu sampai Rp 150 ribu, tergantung hasil buruan,” pungkas Sutaji. (*)
Editor : Binti Rohmatin