Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Nikmatnya Durian Bido Khas Wonosalam; Daging Tebal, Manisnya Legit

Binti Rohmatin • Senin, 10 Februari 2020 | 00:12 WIB
Nikmatnya Durian Bido Khas Wonosalam; Daging Tebal, Manisnya Legit
Nikmatnya Durian Bido Khas Wonosalam; Daging Tebal, Manisnya Legit

JOMBANG - Kabupaten Jombang, memiliki sejumlah varietas unggulan buah durian. Salah satunya yang paling populer durian bido. Rasa durian ini bisa dibilang istimewa dibandingkan durian jenis lain. Campuran legit dan pahit seolah tak ada duanya.


Dari cerita masyarakat, durian bido awalnya mulai ditanam petani Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam awal tahun 80-an. Nama bido sendiri diambilkan dari nama elang Jawa alias badol yang dulu banyak dijumpai di lereng Gunung Anjasmoro. Burung badol yang biasanya tinggal di pucuk pohon durian ini ditakuti karena sering menerkam anak ayam. 


”Dari kata itu akhirnya warga menyebut dengan durian bido,” ujar Kades Galengodowo, Wartomo kepada Jawa Pos Radar Jombang. Kelebihan durian bido dibanding varietas lain adalah dagingnya yang tebal, sementara bijinya relatif kecil. ”Kalau secara umum, ada dua jenis durian bido, pertama durian bido yang asli memiliki kulit agak tebal. Kedua jenis bido peranakan atau hasil stek yang kulitnya cenderung tipis,” tandasnya.


Harga durian jenis satu ini cenderung agak mahal.  Untuk ukuran sedang harganya mulai Rp 100 ribu. Sedangkan ukuran tanggung dan besar harganya lebih mahal lagi. Kendati harganya mahal, justru jenis ini paling laris. ”Meski mahal tapi durian ini paling banyak dicari,” tandas dia.


Di Desa Galengdowo sendiri, jumlah petani yang memiliki durian belum begitu banyak. Dari ribuan pohon durian, untuk jenis  durian bido hanya mencapai puluhan. ”Yang paling besar miliknya Pak Pur. Jumlahnya memang belum  banyak,” tandasnya.


Selain durian bido, ada beberapa varietas unggulan lain yakni durian manalagi dan mentega super. Dua jenis itu juga berkualitas super karena memiliki rasa yang hampir sama dengan bido. ”Bedanya, bido itu memiliki bau khas alkohol, sehingga baunya awet hingga beberapa hari,” tambah dia.


Untuk bisa menikmati durian ini biasanya harus mau bersaing dengan pembeli lain. Sebab, durian bido sebelumnya sudah dipesan saat belum matang di pohon. ”Kalau petani sini (Galengdowo, Red) tidak perlu promosi, karena sejak durian bido mulai diikat di pohon, sudah banyak yang nebas (memborong, Red),” pungkasnya.


 


Selalu Gunakan Pupuk Organik


SALAH satu alasan durian bido memiliki rasa khas karena pengaruh alam. Kecamatan ini terletak di kaki dan lereng Gunung Anjasmoro dengan ketinggian rata-rata 500-600 mdpl. Ditambah, cara petani yang selalu menggunakan pupuk organik dalam merawat pohon durian.


Menurut Sulianto, 26, salah satu petani durian bido, untuk merawat durian bido tak membutuhkan cara khusus. Petani cukup memberi pupuk kandang yang didapat dari kotoran sapi atau kambing milik warga setempat. ”Perawatan durian memang cukup mudah, kami selalu menggunakan pupuk kandang,” ujarnya.


Cara itu dilakukan turun temurun oleh keluarganya. Selain lebih hemat karena tak perlu merogoh kocek untuk membeli pupuk. Ia menyebut, menggunakan kotoran sapi dinilai lebih cocok agar bisa memberi nutrisi tanah. Buahnya pun lebih lebat. ”Dari mulai pembibitan semuanya menggunakan pupuk kandang,” tandasnya.


Selain itu, petani durian juga perlu melakukan beberapa antisipasi saat durian mulai berbuah. Yakni mengikat durian saat umur 1,5 bulan. Dia mengatakan, perlu waktu sekitar tiga bulan durian dapat dipanen. ”Masa panen durian sejak masih pentil (kecil) biasanya tiga bulan. Nah, saat umur 1,5 bulan itu harus kita ikat,” jelas dia.


Petani durian kebanyakan mengikat menggunakan tali rafia. Mereka harus memanjat satu persatu pohon dan mengikat dengan alat mirip pancing. ”Tujuan kita ikat agar buah duriannya nanti tidak jatuh, kan kita rugi kalau jatuh pecah dan tidak bisa dimakan,” jelasnya lagi.


Lebih dari itu, dengan diikat, maka buah durian menjadi lebih aman. ”Ya kita antisipasi saja, supaya kalau jatuh tidak diambil orang,” tandasnya. Bagaimana untuk mengetahui buah durian yang sudah matang? Dia menegaskan, durian yang matang biasanya terlepas dari pohon. ”Tujuan rafia tadi untuk menahan buah agar tidak jatuh ke tanah,” pungkas Sulianto.


 


Sulit Dicari, Dorong Kembangkan Durian Bido


SEMENTARA itu Wabup Sumrambah mengatakan, durian bido yang memiliki rasa khas masih sulit dicari. Sehingga  Pemkab Jombang terus berupaya untuk kembangkan varietas unggulan Wonosalam ini.


”Durian bido merupakan tanaman endemis asli Wonosalam yang harus kita kembangkan,” ujarnya kemarin. Dia tak mengelak, durian bido masih sulit dicari meski sekarang memasuki musim durian. ”Sempat punah karena campur aduk dengan varietas durian lain. Karena Wonosalam mempunyai banyak jenis durian,” ungkap dia.


Padahal, durian bido dikembangkan Pemkab Jombang sejak 2012 silam. Hingga saat ini terus dikembangkan. ”Jadi kita mempunyai program Top Walking untuk mengembangkan durian bido,” katanya. Sumrambah menjelaskan, program itu untuk melestarikan durian bido. Meski hasilnya tak bisa langsung, tapi lambat laun pohon varietas asli ini bisa berkembang lebih banyak.


”Kita selamatkan varietas aslinya dan terus kita kembangkan,” ungkap dia. Warga sekitar sendiri sekarang juga sudah melakukan pengembangan durian bido. Selain itu, banyak pihak lain yang bekerjasama untuk melestarikan durian bido Wonosalam.


”Seperti DeDurian Park itu kerjasama dengan pemkab untuk melestarikan durian bido,” sebutnya. Dia meyakini, durian bido akan menjadi varietas unggul dan bisa mengalahkan durian daerah lain. ”Kita harus yakin durian bido lebih enak, mempunyai varietas unggul yang diakui nasional maupun internasional,” pungkas Sumrambah. (*)

Editor : Binti Rohmatin