Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Sambut Nyepi, Umat Hindu di Kecamatan Wonosalam Gelar Ogoh-Ogoh

Binti Rohmatin • Jumat, 8 Maret 2019 | 02:23 WIB
Sambut Nyepi, Umat Hindu di Kecamatan Wonosalam Gelar Ogoh-Ogoh
Sambut Nyepi, Umat Hindu di Kecamatan Wonosalam Gelar Ogoh-Ogoh

JOMBANG – Perayaan Hari Raya Nyepi di Kabupaten Jombang terasa istimewa. Rabu  (6/3), kemarin, ratusan umat Hindu di Kecamatan Wonosalam mengikuti kegiatan tawur agung di Pure Kayangan Pacaringan, Dusun Ganten, Desa Wonomerto Kecamatan Wonosalam. Setelah itu, mereka mengarak belasan boneka ogoh ogoh menuju perbatasan desa untuk dibakar.


Meski seharian diguyur hujan cukup deras, namun tak menyurutkan umat hindu mengikuti tradisi tawur agung. Tepat pukul 12.00, seluruh umat Hindu mengikuti mencaru. Yakni upacara sebelum pawai tawur agung.


Dalam upacara tersebut, ada beberapa ritual yang dilakukan, mulai membakar dupa di beberapa sudut pure hingga membasuh umat yang hadir dengan air suci yang diperoleh saat tradisi melasti beberapa waktu lalu.


Usai sembahyang, seluruh umat Hindu berjalan beriringan mengarak boneka raksasa perwujudan buto. Ukuran boneka ada yang tingginya mencapai tujuh meter.


Juadi, 40, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jombang menjelaskan, tradisi tawur agung dilakukan sebagai bentuk pensucian diri dari buana alit (nafsu) atau sifat-sifat jelek dalam diri manusia dan buana agung (pensucian jagad). ”Jagad yang dimaksud adalah dunia seisinya,” ujar dia kemarin.


Tradisi tawur agung juga disimbolkan dengan pawai alias arak-arakan ogoh-ogoh yang melambangkan pembersihan sifat jahat dalam diri manusia. ”Boneka tersebut kita arak ke pinggir desa yang selanjutnya dibakar,” jelas dia.  


Usai acara tawur agung, semua umat Hindu diharapkan melaksanakan brata penyepian yang dimulai pukul 18.00 atau pukul 00.00 WIB kemarin. Dalam brata penyepian tersebut, umat Hindu dilarang melakukan beberapa hal.


Diantaranya, amati geni tidak boleh menyalakan api termasuk listrik, amati karya tidak boleh melakukan kegiatan di luar rumah termasuk bekerja, amati lelungan tidak boleh bepergian dan amati lelangunan tidak boleh membunyikan suara baik handphone, TV atau radio.


”Itu sebagai bentuk pensucian diri dan ketaatan umat kepada Tuhan yang Maha Esa,” terang lelaki asli Jarak, Wonosalam ini. Hari raya nyepi kali ini, bertepatan dengan tahun pemilu. Dia berharap perhelatan pesta demokrasi serentak tersebut berjalan kondusif. ”Kita ingin tahun pemilu ini berjalan kondusif, damai dan lancar,” pungkasnya. (*)

Editor : Binti Rohmatin