Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Markeso, Seniman Rakyat Kelas Bawah Asal Tunggorono Jombang

Binti Rohmatin • Kamis, 7 Maret 2019 | 13:43 WIB
Markeso, Seniman Rakyat Kelas Bawah Asal Tunggorono Jombang
Markeso, Seniman Rakyat Kelas Bawah Asal Tunggorono Jombang

JOMBANG - Seniman ini bergerak di bidang ludruk dan lawak. Bisa dikatakan terlupakan dan tak dikenal di tanah kelahirannya sendiri. Tapi ia mendedikasikan diri untuk keberlangsungan seni yang dikreasikan sendiri hingga akhir hayat. Cerita tentang kesederhanaan dan keteguhannya juga tak perlu diragukan lagi.


Dia adalah Markeso, pria asli kelahiran Jombang 30 Juni 1933 dengan nama asli Nachrowi. Mungkin, ia bernasib kurang lebih sama dengan Cak Durasim yang kurang dikenal di kota sendiri namun moncer di kota orang. Ya, sebagai seorang pelawak dan pelaku seni dirinya memang lebih memilih ngamen keliling kampung di wilayah Surabaya, hingga sesaat sebelum ajal memanggil.


Meski sumber yang didapat di Jombang sangat terbatas. Namun beberapa pegiat seni di Jombang saat ditanya tentang sosok Markeso, akan mengutarakan hal sama. Yakni sosok pelawak sederhana dengan segala kecerdikan dan kepintarannya dalam mengolah lawakan. “Kalau keluarganya sendiri sebenarnya masih ada di Tunggorono, namun untuk sebelah mana saya tidak ingat pasti,” sebut Nasrul Illah, pegiat seni Jombang.


Bahkan menurut pegiat seni lain, Imam Ghozali, Markeso adalah seorang yang kemungkinan mengembangkan kesenian yang tak jauh beda dengan perintis kesenian Lerok dan Besutan yang kemudian menjadi Ludruk dari Plandi Jombang yakni pak Santik.


“Mendengar Markeso pikiran saya langsung teringat pada sosok pak Santik, yang mempunyai gerakan kebudayaan yang sama, barangkali faktor ekonomi yang melatarbelakanginya. Namun Keduanya sama bergerak dengan cara ngamen dan sangat merakyat,” jelasnya.


Memang begitulah Markeso. Di kalangan seniman Surabaya malah dijadikan ikon Kota Surabaya. Hanya Markeso yang mampu melakoni hidup sebagai seniman ludruk garingan. Keliling dari kampung ke kampung di tengah gegap gempita dan terik matahari Kota Surabaya.


Ia membawakan kidungan tanpa diiringi gamelan atau musik apapun. Semua instrumen pengiring keluar dari vokal yang juga bersumber dari mulut Markeso. Mampu beraksi tiga jam sendirian menghibur penonton.


Dikutip dari buku Tokoh Jombang, Markeso memang digambarkan sebagai seniman yang lebih memilih jalan melawak sendiri dengan mengamen dari rumah ke rumah ketimbang melakoni peran ludruk panggungan.


“Begitulah Markeso, ngamen dari rumah ke rumah dari satu hajatan ke hajatan yang lain, dijalaninya profesi ngamen dengan hati riang. Dengan pakaian khas seperti kopiah yang dimiringkan atau topi menjulang tinggi ala Turki, ia malah bisa menjadikan apa saja yang ia pakai atau yang ia lihat sebagai bahan lawakannya, menghibur penonton,” tulis Joko Pitono dalam buku tersebut.


Markeso diketahui meningga dunia pada 1 Mei 1996 dan hingga kini makam seniman yang juga menelurkan gagasan luar biasa tentang seni yang merakyat dan murah bagi semua orang ini dapat ditemui di Jombang. Sebuah kompleks pemakaman di Tunggorono Jombang menjadi saksi bisu bersemayamnya seniman yang mungkin tak banyak didengar warga Jombang sendiri.


“Makamnya dapat ditemukan di pemakaman umum Tnggorono, tepat di sebelah selatan SPBU Tunggorono,” lanjut Cak Nas yang mengaku pernah berziarah ke makam Markeso beberapa tahun lalu.


Satu hal yang melekat pada diri Markeso adalah kemampuannya melawak sangat berbeda dengan pelawak kebanyakan. Kesenian ludruk yang ditawarkannya tiap hari dari rumah ke rumah, dari gang ke gang adalah kesenian ludruk garingan. Pementasan ludruk dibawakan sendirian dengan semua instrumen baik musik gending hingga lawakan berasal dari mulut pelakon.


Salah satu orang yang menjadi saksi dahsyatnya ludruk garingan adalah Meimura. Pria yang kini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Kesenian Jawa Timur ini bercerita banyak soal sosok dan lakon yang diketahuinya sejak kecil ini. Meimura kenal dengan sosok Markeso yang seorang pengamen jalanan, seringkali ngamen di sekitar rumahnya.


“Saya sendiri sebenarnya bukan sahabat, saya ini termasuk cucunya, karena beliau sahabat kakek saya. Saya sendiri kenal Markeso itu sejak SD karena beliau setiap kali ngamen di sekitar rumah saya, pasti mampir ke rumah, wong saya dulu juga pasti ikut membuntuti dia waktu keliling kampung,” jelas warga kampung Petemon Surabaya ini.


Sebagai seorang pengamen, di matanya, Markeso merupakan sosok seniman yang mampu berimprovisasi tingkat tinggi. Lawakan yang dibawakannya tak pernah basi karena muatannya akan selalu berubah sesuai dengan kondisi yang ia hadapi saat itu. “Kidungnya merupakan kegelisahan dan fenomena sosial yang sebenarnya lekat dengan kehidupan sosial, mampu menyampaikan dengan bahasa sederhana dan mudah dicerna,” lanjutnya.


Kemampuan menyajikan komedi super dadakan ini juga dirasakan ketika banyak anak-anak seringkali jadi bahan lelucon, baik berupa godaan dengan candaan hingga jadi korban kejahilan. “Kalau ditanya ate nandi cak so, dia pasti menjawab nglamar makmu dan sontak semua orang tertawa, hingga kadang-kadang tongkat yang dibawanya itu dikalungkan ke leher anak-anak hingag dibuat mainan tarik ulur. Tapi semua orang bisa tertawa dengan kelakuannya tersebut. Namun yang saya heran, meskipun lucu sekali dia itu tidak pernah tertawa dan mukanya tetap serius,” kenangnya.


Kembali dikutip dari buku Tokoh Jombang, Markeso memang dikenal sebagai pelawak yang kaya improvisasi dan lekat dengan anak-anak. Seringkali tak canggung ia memintakan minum untuk anak-anak yang setia menemaninya tersebut. “Ia tangkas memanfaatkan setiap apa yang dilihatnya. Misalnya: tibatiba ia melontarkan kata-kata E…e e ono wong dipangan arek sambil memandang seorang ibu yang tengah menyusui anaknya. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Ia pun berkata Nak, ojo ngono sakno ibumu ngko awake growak,” tulisnya.


Kembali Meimura menjelaskan, dirinya pun tak segan menjejerkan cara melawak monolog ala Markeso ini dengan kesenian hiburan yang kini berkembang Stand up Comedy meski dengan level bebeda. “Stand up comedy itupun masih kurang sekali kalau dibandingkan sama ludruk garingannya Cak Markeso, karena materinya sangat kaya dengan improisasi yang luar biasa, beda dengan stand up comedy yang materinya sudah disiapkan dan tertulis,” ujarnya.


“Cak, wis mulih?”


“Yo, wis oleh sak godhokan,”


Dialog tersebut adalah sebuah dialog yang sangat melekat pada diri Markeso sebagai seorang pengamen. Pengamen yang tak melulu mengejar uang lebih dan terus mengamen walau telah berkecukupan. Bagi Markeso, mengamen memang jalan mempertahankan hidupnya.


“Dialog itu memang jawaban pasti Cak markeso ketika akan pulang ke rumah setalah mengamen seharian. Pendapatannya meman tak banyak, buat dia yang penting cukup makan ngopi sehari itu sudah cukup dan dia tidak akan melanjutkan ngamen,” jelas Meimura, ketika ditanya hal yang paling diingatnya tentang Markeso.


Menurutnya, Markeso memang diketahuinya sebagai orang yang hanya punya pekerjaan mengamen. Tak ada pekerjaan lain seperti tukang batu dan pedagang seperti pada umumnya pelawak di sekitar rumahnya. Meski demikian bukan berarti Markeso mengamen dengan penghasilan puluhan juta seperti banyak pengamen kini.


“Beliau itu orang yang sangat nriman, kalau sudah cukup buat makan sehari ya sudah beliau akan pulang, urusan besok adalah urusan yang Maha Kuasa,” lanjutnya.


Caranya mengamen juga dilakukannya dengan berjalan kaki meski setiap hari harus mengelilingi luas dan panasnya Kota Surabaya. Dengan baju yang terkadang terlihat tak utuh putih dan sepatu ketsnya, Cak Markeso akan keliling dari kampung ke kampung. “Dari rumahnya di Kutajaya beliau pasti jalan. Dan bisa ditebak, kalau nanti dia pulang naik angkot berarti sedang tidak enak badan,” ungkap Meimura.


Meski demikian, yang membuatnya kagum adalah meski dalam keterbatasan, Markeso tak pernah mau merepotkan orang lain. Tak mau menerima sumbangan uang hasil usahanya sendiri mengamen.


Bahkan ketika seringkali ditanggap beberapa orang di warung tuak, tak sekalipun dirinya mau mencicipi minuman tersebut. “Tidak akan mau, apalagi minum-minum itu nggak sama sekali malahan. Itu yang membuat saya kagum, padahal dia main di warung tuak,” lanjutnya.


Karena kesederhanaannya ini pula hingga kini tak banyak peninggalan Markeso yang bisa dirasakan. Namun, kebesaran namanya masih dapat disaksikan lewat sebuah joglo untuk ruang terbuka publik di wilayah Ketandan RW IV, Kelurahan/Kecamatan Genteng, Surabaya.


“Karena memang tidak banyak aset beliau dan seniman besar. masih banyak yang menganggapnya sekadar pengamen saja. Semoga saja dengan balai itu bisa merepresentasikan nama beliau yang memang besar di wilayah perkampungan dengan segala lawakannya” pungkas Meimura. (*)

Editor : Binti Rohmatin