Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mayjen TNI (Purn) Imam Utomo, Gubernur Jatim Asal Ngoro Jombang

Binti Rohmatin • Kamis, 7 Maret 2019 | 13:35 WIB
Mayjen TNI (Purn) Imam Utomo, Gubernur Jatim Asal Ngoro Jombang
Mayjen TNI (Purn) Imam Utomo, Gubernur Jatim Asal Ngoro Jombang

JOMBANG - Sosoknya khas dengan kumis tebal dan kaca mata besar, tentu sangat mudah diingat. Ya, dia adalah sang Jendral TNI sekaligus mantan Gubernur Jawa Timur dua periode (1998-2003) dan (2003-2008), Mayjen (Purn) Imam Utomo.


Pria yang memiliki karier moncer baik di ranah militer juga politik ini adalah putra dari pasangan Suparno dengan Siti Rukayah. Lahir di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Jombang 14 Mei 1943, Imam Utomo merupakan anak pertama dari 8 bersaudara. Kehidupan masa kecil hingga lulus SD dihabiskan di Rejoagung.


Namun, karena pekerjaan ayahnya yang seorang pegawai kantor penerangan kala itu, memaksanya sering berpindah tempat tinggal hingga akhirnya menetap di Desa Pulo Jombang. Terlebih saat itu dirinya masuk ke jenjang SMP di Jombang. Sementara saat pendidikan SMA, dia memilih melanjutkan di salah satu SMA di Kediri dan kemudian melanjutkan pendidikan kemiliteran.


Setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang 1965, ia diangkat sebagai Komandan Peleton I/A/404. Ia hanya menjabat enam bulan di tempat itu karena pada 1 Februari 1967, ia diangkat sebagai pelatih di Rindam IV. Setelah itu ia menjadi Wakil Komandan Kompi A/144 sebelum akhirnya menjadi Komandan.


Tiga tahun kemudian, melalui Surat Keputusan (SKEP) 114-13/2/1971 Kapten Imam Utomo diangkat sebagai PASI I Yonif 141, tahun 1973 menjadi PASI 2/OPS Brigif 8 dan Jabatan Komandan Batalyon inf 742 kemudian disandangnya.


Pada 1980, dengan pangkat Letnan Kolonel, Imam ditugasi sebagai Karo Binkar Disdalkar. Jabatan itu hanya disandang 1 tahun karena ia kemudian ditunjuk Kansaf Brigif 2 Kostrad di Malang. Barulah setelah itu Imam masuk di Kodam V Brawijaya sebagai Wakil Asisten Oprasi, lalu Kansaf Korem 091/DSJ pada 1985, dan tahun berikutnya sebagai Komandan Brigif 18 Kostrad.


Tak lama kemudian, ia ditarik ke Surabaya dan menjadi Aspers Kasdam V Brawijaya dan menjadi Paban 3/Binkar Spersad. Jabatan yang strategis sebagai Komandan Korem 084 Bhaskara Jaya kemudian dipegangnya. Jabatan ini dipegangnya 3 tahun sebelum akhirnya menjadi Kansaf Kodam. Kemudian ditarik ke Jakarta sebagai Aspers KSAD sebelum akhirnya diangkat sebagai Pangdam V/Brawijaya pada 1 Februari 1995.


Sebagai Pangdam, Imam Utomo memegang jabatan itu selama 2 tahun 6 bulan, sebelum ditarik ke Jakarta untuk menjadi anggota DPR RI dari F-ABRI sejak 29 Agustus 1997. Baru setahun menjadi wakil rakyat, Imam dicalonkan menjadi Gubernur dan akhirnya terpilih dalam pemilihan di DPRD Jatim, mengalahkan incumbent Mayjen (Purn) Basofi Sudirman dan dilantik sebagai Gubernur Jatim pada 26 Agustus 1998.


Setelah tak lagi menjabat sebagai Gubernur Jatim sejak tahun 2008, bukan berarti ia rehat dari jabatan struktural di pemerintahan. Hingga saat ini suami dari Anik Triwinarni ini masih menjadi ketua pengurus Palang Merah Indonesia Jawa Timur. “Beliau juga masih aktif di perkebunan yang kini masih terawat di wilayah Ngembal, Pasuruan,” jelas Widjono Soeparno, adik kelimanya.


Sebagai seorang yang lahir dan tumbuh di pedesaan, Imam Utomo sendiri dikenal keluarganya sebagai sosok yang sederhana dan tidak neko-neko. Bahkan menurut Widjono Soeparno, salah satu adiknya meski telah menjadi Jendral juga Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo tetaplah anak pedesaan yang tidak akan pernah melupakan kehidupan lamanya.


Saat ditemui di kediamannya, mantan Wakil Bupati Jombang ini bercerita banyak mengenai sosok kakak yang disebutnya sangat dibanggakan keluarganya tersebut. Sebagai anak pertama dan mampu mengemban jabatan tak hanya jendral di kesatuannya TNI, bahkan hingga gubernur, membuat Imam dimata keluarganya adalah tokoh yang patut dijadikan teladan.


“Tentu kalau keluarga sangat bangga, apalagi beliau anak pertama dan itu sangat memberi motivasi dan teladan kepada adik-adiknya. Walau semua tidak sama posisinya, yang jelas semua punya contoh bagaimana harusnya membawa nama keluarga,” papar Widjono


Meski demikian, di masa kecil, Imam Utomo adalah anak yang tumbuh dan berkembang dengan pengaruh pedesaan yang cukup kuat. Bahkan Widjono tak canggung menyebut Imam adalah anak yang benar-benar merasakan masa kecil dengan bahagia di desa. “Kecilnya itu memang di sawah dan bermain seperti anak ndeso betul. Sering beliau sama saya ambil tebu dulu di lori-lori yang lewat, karena kan dekat pabrik gula,” kenangnya.


Bahkan kebiasaan itu masih dijaganya dengan baik dengan aktif membuka perkebunan di Pasuruan. Meski pengelolaan kini lebih banyak dilakukan oleh putranya, namun menurut Widjono hal ini bukti kecintaannya pada kehidupan desa yang lekat dengan bertani dan berkebun. “Dulu kan beliau juga hidup di lingkungan petani, dan memang hobi menanam. Sampai sekarang ya masih punya perkebunan itu,” imbuhnya.


Widjono menyebut pernah dibuat terkesan oleh kakak sulungnya ini. Yaitu kedekatan Imam Utomo dengan banyak kiai khususnya kiai sepuh. “Saya tahunya ya ketika dulu berkunjung ke pesantren-pesantren, ternyata beliau memang sangat akrab dengan kiai-kiai tersebut. Memang untuk soal agama beliau sangat kuat keinginannya untuk belajar termasuk juga untuk tujuan bersilaturrahim,” lanjutnya.


Hal inilah yang juga berimbas langsung dengan terjaganya kestabilan politik di Jawa Timur kala itu. “Tidak heran juga kan kalau beliau bisa menjabat hingga dua periode,” pungkasnya. (*)

Editor : Binti Rohmatin