JOMBANG - Satu hal yang tak bisa dilepaskan dari nama KH Musta’in Romly di Jombang adalah keberadaan Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang yang didirikannya tahun 1965 bersama KH Bhisry Cholil, kiai Ahmad Baidhowi Cholil, Mohammad Wiyono (mantan Gubernur Jatim), KH Muh As’ad Umar dan Muhammad Syahrul, SH.
Karya besarnya di ranah pendidikan ini memang hingga kini masih ada dan bisa disaksikan bukti fisiknya yang masih berdiri, meski tak seperti masa jayanya di tahun 1990. “Kiai Musta’in kan juga tokoh penjuang pendidikan, buktinya adalah adanya Undar ini,” terang putranya Lukman Hakim Musta’in.
Pendirian kampus milik pesantren pertama di Jombang ini diakuinya juga tidak mudah. “Tentu banyak serangan dari luar dan dalam juga mengapa buya waktu itu memilih perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu umum juga, waktu itu kan aneh,” paparnya.
Namun disebutnya pemikiran visioner adalah buah dari renungan kiai Musta’in tentang perlunya juga santri mampu berkarya dengan kemampuan yang sama di luar pesantren.
“Santri juga punya hak untuk belajar ilmu umum, dan semua orang berhak juga belajar di “Darul Ulum” yang berarti rumah ilmu, artinya ilmu apa saja bisa masuk dan diajarkan sekarang juga terbukti itu dilakukan banyak pesantren, artinya ini pemikiran beliau jauh ke depan,” lanjutnya.
Bahkan untuk melengkapi keabsahan KH Musta’in Romly sebagai Rektor, pada tahub 1977 beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Macau University. Pada tahun 1981 lawatan ke Timur Tengah dilakukan kembali dengan hasil kerjasama antara Undar dan Iraq University dalam bentuk tukar-menukar tenaga edukatif, dan dengan Kuwait University dalam bentuk beasiswa studi ke Kuwait.
“Ada juga konferensi Rektor se-dunia di Bangkok tahun 1984,” jelasnya. Untuk beberapa tugas dan jabatan yang diembannya kala itu seperti Pimpinan Lembaga Pondok Pesantren Darul Ulum, Lembaga Thariqah Qoddiriyyah Wannaqsabandiyah dan Undar dirinya harus terlibat langsung dalam berbagai kunjungan ke berbagai negara.
“Ke Eropa, Timur Tengah bahkan sampai Amerika juga, karena beliau juga Undar bisa ikut jadi anggota International Association of University President (IAUP),” lanjutnya. Keputusan mengejutkan juga terhitung diambilnya di tahun 1977 ketika memilih untuk terjun ke dunia politik.
Dengan memilih Partai Golkar yang kala itu bukan partai yang berafiliasi dengan Islam. “Masuk ke Golkar itu kan juga ada alasannya, buya kan bilang kalu tujuannya selain untuk pondok juga kepingin mensyahadatkan orang yang masih belum syahadat,” sebutnya.
Keputusan berpolitik di partai non Islam kala itu banyak ditentang kiai dan banyak muridnya yang akhirnya berpindah guru thariqat. Namun hal itu disikapinya dengan kepala dingin. “Kata-kata buya untuk itu sudah terkenal, murid tarekat sudah tua kok dibuat rebutan, silahkan ambil saja, dijual pun juga tidak laku, saya tidak butuh murid banyak,” ucapnya menirukan.
Apapun langkah yang diambil KH Musta’in kala itu, kenyataannya mampu untuk memberikan dampak yang baik untuk perkembangan Ponpes Darul Ulum kala itu. Terbukti dari dengan banyaknya santri yang masuk dari kalagan pejabat maupun pemerintah lokal yang masih enggan untuk memasukkan anaknya ke lingkungan pesantren, karena masih asing.
“Kedatangan kiai ke partai politik non Islam kala itu mampu menimbulkan gerakan yang tak terduga, banyak lurah dan camat yang dulunya abangan setelah itu mau mengenal agama dan memasukkan anaknya di DU,” jelas Nurul Huda salah satu santri senior. (*)
Editor : Binti Rohmatin