Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cor Kuningan Mojotrisno; 90 Persen Pasar Luar Negeri

Binti Rohmatin • Rabu, 9 Januari 2019 | 02:32 WIB
Cor Kuningan Mojotrisno; 90 Persen Pasar Luar Negeri
Cor Kuningan Mojotrisno; 90 Persen Pasar Luar Negeri


JOMBANG - Menjadi sentra penghasil kuningan di Jombang, para perajin merasa sangat bangga dengan hasil yang dicapai. Pasalnya hasil tangan mereka mengotak-atik kuningan menjadi barang yang bernilai tinggi tembus hingga mancanegara. Tidak hanya Asia, namun hingga Eropa.


“90 persen di mancanegara. Selama ini memang kebanyakan dikirim ke Eropa,” kata Agus Purnomo. Selain Eropa, pasar di Asia juga terus meningkat. “Asia itu Korea, ada juga di Jepang.  Lalu Malaysia dan Singapura, tapi biasanya terbatas. Orang Korea yang sering ke sini langsung pesan,” tutur dia.


Dari banyaknya pemesan itu menurut Agus, pelanggan dari Korea misalnya, biasanya lebih banyak memilih patung-patung dengan ukuran besar. Seperti patung hewan. “Kuda ini pesanan  dari orang Korea,” sebut dia.


Ukurannya pun hampir menyerupai kuda sungguhan. Dari mulai bentuk hingga tingginya, hampir mirip dengan kuda aslinya. Menurut Agus, tidak semua pelanggan langsung membeli setiap patung yang ada.


Mayoritas mereka sudah punya desain sendiri. “Jadi lewat agen, mereka sudah punya desain. Kemudian kita yang buat,” papar dia. Bagaimana pasar dalam negeri? Menurut Agus paling dominan sampai sekarang tetap di pulau Dewata Bali.


“Di Bali itu kebanyakan distributor atau toko-toko. Mungkin mereka di sana juga punya pesanan,” sambung kakek tiga cucu ini. Dari beragam karya yang dihasilkan masih menurut Agus dari dahulu sampai sekarang ada satu patung yang tak bisa ditinggalkan. Yakni patung Hindu-Buddha.


Dari banyaknya perajin di Dusun Sanan Selatan, sebagian besar masih membuat patung itu. “Pangsa pasar  untuk patung Hindu dan Buddha itu yang tidak bisa dihilangkan, sampai sekarang tetap ada. Dimanapun perajin, tetap membuat patung itu,” kata Agus.


Dia juga tak mengetahui alasan pastinya. Hanya saja, menurut dia pemasaran patung itu sudah ada sejak puluhan tahun silam. “Mungkin karena dulu paling dominan patung itu, jadi sampai sekarang tidak bisa dihilangkan. Istilahnya, sudah tahu pemasarannya, dimana dan siapa saja,” beber dia.


Untuk harga menurut Agus tergantung dari desain itu. “Jadi desain, bentuk, berat, dan sulit dan tidaknya menentukan murah dan mahalnya. Yang jelaas harganya relatif, puluhan sampai ratusan juta,” pungkas dia.  (*)


Editor : Binti Rohmatin