JOMBANG – Selain menyimpan nilai sejarah dan religi, Situs Sendang Made peninggalan Raja Airlangga menjadi ikon Jombang. Berbagai tradisi pun masih dipertahankan. Salah satunya kuras sendang setiap tahun jelang musim hujan.
Seperti yang terlihat Jumat (16/11) lalu, puluhan warga berduyun-duyun mendatangi Sendang Made. Bapak-bapak dan pemuda bergotong royong menguras kolam-kolam di Sendang Made.
”Kuras cerbon ini rutin setiap tahun. Itu sudah menjadi tradisi turun-temurun nenek moyang,” ujar Supono, juru pelihara situs Sendang Made. Tradisi kuras Sendang Made ini sendiri berlangsung selama dua hari. Hari pertama Kamis (15/11), beberapa sendang dikuras juru kunci sendiri tidak sampai habis.
Hari kedua seluruh sendang dikuras bersama dengan masyarakat umum yang tinggal di sekitar sendang. ”Hari pertama memang hanya juru kunci saja, ada tiga sendang yang sudah saya kuras kemarin yaitu Sendang Pomben, Sendang Drajat dan Sendang Sumber Payung,” jelasnya.
Selanjutnya, sendang yang lain yaitu Sendang Pengilon, Sendang Condong dan Sendang Widodaren dikuras bersama jumat (16/11) lalu oleh masyarakat dari Dusun Made dan Dusun Maron, Desa Made, Kecamatan Kudu serta Dusun Cangak Desa Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan.
Tak hanya menguras air Sendang Made, ada juga tradisi menyembelih hewan ternak sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dana yang digunakan untuk kegiatan kuras sendang ini murni dari juru kunci pribadi dan tidak ada bantuan dari pemerintah.
”Menyembelih kambing dilakukan sore hari pada hari pertama, dagingnya langsung diolah dan dimasak supaya bisa dimakan bersama dengan masyarakat keesokan harinya pada saat menguras Sendang Made,” paparnya.
Tradisi ini sudah turun-temurun nenek moyang dan tetap terjaga hingga sekarang. Sebelum menguras sendang, masyarakat melakukan kenduri atau berdoa bersama di lokasi Sendang Made.
Ada ratusan warga setempat yang turut menguras atau hanya menyaksikan tradisi kuras Sendang Made ini. Dengan menguras Sendang Made ini masyarakat berharap agar musim hujan segera tiba.
”Setiap tahun waktunya berbeda tapi yang jelas menguras sendang ini tidak dilakukan pada pasaran Legi dan Wage,” ucapnya. Oleh karena itu, jauh sebelum kuras sendang dilakukan, juru kunci dan sesepuh desa musyawarah menentukan hari baik untuk kuras sendang.
Jika waktu pelaksanaan telah disepakati, mereka mengumumkan dan mengajak masyarakat untuk gotong-royong mengikuti kegiatan ini. ”Dulu kami menguras manual pakai tong dan ember tapi saat ini kami menguras menggunakan diesel. Ketika air hampir habis baru pakai tong,” tuturnya.
Meski antusiasme masyarakat ramai, namun ia menilai kehadiran mereka tidak sebanyak dulu. Padahal menguras sekarang justru lebih mudah dibanding dulu.
”Jadi masyarakat tinggal membersihkan daun-daun, lumut dan mengungsikan ikan sementara ke sendang yang sudah dikuras sebelumnya. Setelah dikuras sumber air sendang yang muncul akan lebih bersih dan jernih,” tandasnya.
Ia juga menambahkan ikan asli Sendang Made seperti lele dan kutuk tidak boleh diambil atau dibawa pulang baik dipelihara apalagi konsumsi. Sedangkan ikan-ikan dari luar yang sengaja dipelihara disana seperti koi dan sebagainya boleh dikonsumsi. (*)
Editor : Binti Rohmatin