Pendapa ini dibangun oleh Kepala Desa G Karthodirdjo yang menjabat dari 1936-1988. Pendapa dibangun bukan untuk tempat kegiatan warga desa. Melainkan dibangun secara pribadi untuk menyimpan barang-barang pribadi milik Karthodirdjo.
Lokasi pendapa yang berjarak 200 meter dari jalan provinsi Jombang-Kediri ini cukup luas sekitar dua hektare. Kesan mistis sangat terasa saat memasuki area pendapa. Di sekitar lokasi, terdapat banyak pepohonan berukuran besar. Terdapat juga sumber yang disebut masyarakat sebagai sumberpanguripan. Selain itu, terdapat makam dari keluarga Karthodirdjo.
”Sebenarnya dulu membangun pendapa ini untuk melindungi sumber panguripan itu. Sehingga dibangun pagar keliling serta pendapa,” ujar Nugroho Adi Wiyono salah seorang cucu G Karthodirdjo.
Diceritakannya, dulu sumber panguripan itu digunakan warga sekitar untuk melakukan ritual yang negatif. Sehingga oleh sang kakek Karthodirdjo, dibangun pagar agar tidak semua orang bisa masuk.
”Pendapa itu juga digunakan untuk tempat benda-benda milik mbah seperti pusaka, sepeda zaman dulu dan lain sebagainya,” ungkapnya. Termasuk dijadikan tempat untuk menyimpan peralatan musik gamelan.
”Anehnya itu gamelan itu bunyi sendiri setiap pukul 01.00 pada malam Jumat legi. Masih bunyi sejak saya kuliah masih terdengar,” bebernya. Suara yang terdengar cukup keras itu, terkadang membuat warga penasaran. Sehingga mengecek langsung ke pendapa.
”Tapi saat dicek itu tidak ada apa-apa dan gamelan tidak berbunyi,” ceritanya. Selain itu, sosok penghuni pendapa yang kerap muncul, berupa ular besar. ”Itu yang menjaga naga. Kepala naganya tepat di pendapa dan ekornya di jalan provinsi,” terangnya.
Kini, pendapa tersebut sering digunakan untuk kegiatan sedekah desa dan tasyakuran. ”Kalau ada kecelakaan pasti kami melakukan bancaan atau tasyakuran di pendapa,’ pungkas dia. (yan/bin/riz) Editor : Achmad RW