Lokasi pertapaan ini, terletak di perbatasan Desa Banjardowo dengan Desa Tunggorono, tempatnya di tengah pemakaman umum. Di tempat itu pula, terdapat tiga pohon besar yang konon berusia ratusan tahun. Tiga pohon itu adalah pohon serut, kelampis hitam dan pohon asem.
Di bawah pohon terdapat batu yang berukuran cukup besar. Di sinilah, cerita misteri beredar di kalangan masyarakat. Tempat pertapaan itu dijaga seekor ular besar berwarna hitam yang dulu kerap menampakkan diri. Bila tidak sesuai atau melakukan hal-hal yang dilanggar, banyak masyarakat yang kesurupan saat melakukan ritual atau pertapaan di tempat ini.
"Tempat ini dikenal masyarakat sebagai pertapaan Alas Tunggorono," ujar Mbah Jono, juru kunci pertapaan Alas Tunggorono. Kepada wartawan koran ini ia menceritakan, Alas Tunggorono dipercaya sudah digunakan sebagai tempat bertapa sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan, tempat ini juga diyakini sebagai Pendapa Kabupaten Jombang. "Ini pendapa yang paling tua dibandingkan yang lain," terangnya.
Lantaran tempat bertapa, banyak masyarakat yang datang untuk melakukan ritual khusus. Banyak ritual digelar masyarakat dengan tujuan tertentu. Sebagian masyarakat meyakini, setelah melakukan ritual khusus di tempat pertapaan itu, maka bisa meningkatkan derajat. Utamanya pangkat jabatan. "Biasanya orang datang ke sini (Alas Tunggorono, Red) untuk mencari pangkat derajat dan dilancarkan dalam pekerjaan," ungkap Mbah Jono.
Kesan mistis cukup terasa. Terlebih, tak jarang masyarakat yang kesurupan makhluk halus saat melakukan ritual tertentu. "Banyak yang kesurupan," bebernya. Selain dijaga seekor ular besar, ia menyebut ada sesosok pria berbaju adat kerajaan yang memakai mahkota dan wanita berkebaya.
Dua sosok ini juga sering menampakkan diri pada momen-momen tertentu. "Kalau saya dulu pernah dijumpai pria memakai mahkota raja dan wanita memakai kebaya di dekat pohon asem itu," pungkas Mbah Jono sambil menunjuk ke pohon asem. (yan/bin/riz) Editor : Achmad RW