Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gerdu Papak Parimono yang Diyakini Dijaga Ular Ki Ageng Butuh

Achmad RW • Minggu, 15 Mei 2022 | 15:01 WIB
Photo
Photo
MASYARAKAT Jombang tak asing lagi dengan keberadaan Gerdu Papak. Sebuah bangunan kuno peninggalan pemerintah kolonial Belanda ini terdapat di Dusun Parimono, Desa Plandi, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Dibalik bangunan berbentuk kubus yang hanya berukuran kurang lebih 2x2meter itu ternyata menyimpan sejumlah kisah misteri. Bangunan ini juga pernah disakralkan warga sekitar. Menurut Bambang Wahyudi juru kunci makam Parimono, bangunan itu dulu sakral karena dijaga seekor ular.

"Dari zaman Belanda dulu bangunan ini sudah dijaga Ki Ageng Butuh. Dalam penjagaannya menyerupai ular," katanya. Pada pemerintahan Hindia Belanda, bangunan ini sempat di bom tapi tidak hancur ataupun roboh. "Kata bapak saya, karena dijaga sehingga bangunan tidak hancur meski di bom," bebernya.

Konon, pada 1980 silam, di sekitar bangunan terdapat dua pohon besar yaitu pohon asem dan jarak. Dua pohon itu dihuni passangan suami istri. "Saat itu setiap habis magrib selalu ada yang memberikan gorengan untuk para penunggu," katanya.

Adapun wujud ular dari Ki Ageng Butuh dalam perkembangannya sekarang sangat jarang atau hampir tak pernah menampakkan diri.Terlebih, saat jalanan sudah mulai ramai. "Tapi masyatakat masih percaya gerdu papak ada yang menjaga," katanya lagi.

Cerita semakin seram karena gerdu papak juga pernah dijadikan tempat transit mayat. Menurut Kepala Desa Plandi Dwi Priyanto, bangunan gerdu papak dulunya difungsikan sebagai pos penjagaan oleh pemerintah Belanda. Maklum, sebelum muncul nama Desa Plandi, wilayah tersebut merupakan pangkalan udara milik pemerintah Belanda.

“Gerdu papak itu sebagai pos penjagaan tentara Belanda. Karena dulu jadi landasan pesawat terbang. Landasan terbang pesawat Belanda memang ada di Plandi dan Ngoro,” terangnya. Lantas mengapa Desa Plandi dijadikan pangkalan pesawat Belanda. Ia menyebut, di Desa Plandi terdapat kelompok gerilyawan tentara Pangeran Diponegoro.

“Pusat perlawanan di Plandi, karena tahun 1887, pasukan Diponegoro bergerilya di Plandi, pasukan ini dipimpin Mbah Sadrani,” bebernya. Dalam perlawanan ini, lanjut Dwi, semua peristiwa benar-benar terjadi di Desa Plandi. Sehingga ada peninggalan benteng Belanda di sekitar Plandi. “Salah satu bangunan peninggalan Benteng Belanda di Plandi sebelah utara, tapi sekarang sudah dibongkar,” paparnya.

Ia menjelaskan, jika tentara Belanda saat itu sudah mempersiapkan diri untuk lari dari Indonesia, jika ada perlawanan dari tentara Diponegoro, maupun perlawanan dari tentara Jepang. “Nah, di situlah Belanda membangun pos yang dinamakan sekarang gerdu papak. Pos itu tempat keluar masuk pasukan Belanda. Dulu pos yang disamping jembatan pernah dibom Jepang, tapi gak mempan,” beber dia.

Setelah tentara Belanda kalah dengan Jepang, sambungnya, tentara Belanda meninggalkan Desa Plandi. Bangunan pos penjagaan itu beralih fungsi sebagai pos jaga milik Desa, atau yang sering disebut gerdu.

Ia menyebut, secara fungsinya pos ini digunakan untuk tempat transit mayat dari rumah sakit. Karena saat itu belum ada ambulance. “Pos itu tetap digunakan untuk orang yang meninggal dunia di rumah sakit, transitnya di pos (gerdu papak, Red). Kemudian, mayat diantar secara estafet, antar desa dan diangkat kayak ditandu,” ungkap Dwi.

Dulu, setiap kepala desa memerintahkan ada penjagaan di setiap pos perbatasan antar desa. Minimal empat orang. Mungkin karena dibuat tempat transit mayat itulah yang membuat gerdu papak menjadi angker. Bahkan, banyak menyimpan misteri.

“Karena image orang dulu, kalau ada mayat di situ, pasti dijadikan tempat angker, karena warga menyebut gerdu papak sebagai tempat angker,” bebernya. Kondisi ini terjadi sejak 1945 -1950. Selain itu, mayat-mayat yang transit di gerdu papak, kebanyakan korban pembunuhan. “Karena saat itu mayat korban pembunuhan tak dipedulikan pihak keluarga,” ucap dia.

Masyarakat dulu, tidak ada yang berani merawat mayat yang jadi korban pembunuhan. Hal inilah yang menyebabkan gerdu papak dikenal angker. Ia mengatakan, jika ada orang mati tempo dulu, biasanya kalau penyebabnya sakit, bisa dipastikan meninggal di rumah. Namun, kalau meninggal di rumah sakit, maka rata-rata sebagai korban pembunuhan.

“Dan situlah tempat itu dianggap angker, karena yang meninggal belum tentu bersih. Rata-rata orang yang dibunuh atau pembunuhan,” tegasnya.

Meski demikian, di era milenal seperti sekarang, cerita-cerita mistis gerdu papak semakin berkurang. Berbeda dengan cerita sejarah, tetap turun temurun disampaikan dari generasi ke generasi. “Kita ya tetap ceritakan sejarahnya ke anak cucu semua,” pungkas Dwi. Editor : Achmad RW
#Jombang misteri #mistis #Gerdu Papak Parimono