Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mengintip BDSM, Salah Satu Jalur Kereta Api Kuno di Jombang yang Kini Tinggal Jejaknya

Magang • Sabtu, 28 September 2024 | 20:46 WIB
Jalur kereta api Babat Djombang Stoomtraam Maatschappij (BDSM) di tahun 1910
Jalur kereta api Babat Djombang Stoomtraam Maatschappij (BDSM) di tahun 1910

RadarJombang.id - Salah satu jalur Kereta Api kuno yang ada di Jombang dan pernah beroperasi adalah Babat Djombang Stoomtram Maatschappij (BDSM).

Babat Djombang Stoomtram Maatschappij (BDSM) merupakan salah satu jalur kereta yang nonaktif di Jawa Timur.

Jalur ini dibangun oleh dua perusahaan yang berbeda, yakni Kediri Stoomtram Maatschappij dan Babat–Djombang Stoomtram Maatschappij. Kini jalur-jalurnya termasuk dalam Wilayah Aset VII Madiun.

Salah satu perusahaan swasta milik Belanda yang membangun jalur tersebut adalah BDSM (Babat Djombang Stoomtram Maatschappij) yang membangun jalur kereta api dari Stasiun Babat milik NIS ke Stasiun Jombang milik SS pada tanggal 14 Mei 1896 dan diselesaikan tahun 1902.

Jalur ini memiliki panjang kurang lebih 71,431 km, Jalur kereta api ini sebagian besar berada di pinggir jalan raya Babat - Jombang dan melewati beberapa kota kecamatan di Jawa Timur.

Jalur kereta kuno ini, melewati stasiun seperti Ploso, Kabuh, Ngimbang, Bluluk, Dradah dan Babat dengan bangunan permanen, 13 perlintasan sebidang, dan 8 sungai.

Potensi angkutan yang ada pada waktu itu, selain angkutan orang adalah angkutan barang dan produk pabrik gula seperti PG. Djombang, PG. Ponen dan PG. Nglelom.

Pada 1 Desember 1916, perusahaan Babat–Djombang Stoomtram Maatschappij diakuisisi oleh Staatsspoorwegen.

Sementara segmen Stasiun Jombang–Stasiun Jombang Kota diakuisi dari Kediri Stoomtram Maatschappij pada tanggal 1 November 1918.

Namun demikan, BDSM mengalami kesulitan keuangan dan sempat akan menjual jalur yang dikuasai ke NIS.

BDSM sendiri tercatat memiliki kekayaan senilai 2.000.000 gulden dan telah diakuisisi oleh SS pada tahun 1916 sesuai wet van 29 Juli 1916 Ind. Stbl. No. 646.

Namun pada akhirnya dibeli oleh SS pada tahun 1916, dan sejak itu pengelolaan jalur ini dilakukan oleh SS.

Kemudian pada tahun 1921 dibangunlah percabangan dari Stasiun Krian menuju ke Stasiun Ploso.

Namun pada saat setelah kemerdekaan tahun 1948 jalur kereta api ini diporak-porandakan oleh warga lokal agar tidak dipakai lagi oleh penjajah Belanda lagi.

Setelah itu jalur kereta api tersebut dikelola lagi. Pengelolaan jalur ini kemudian dilanjutkan oleh DJKA setelah Indonesia merdeka.

Ketika masa PJKA, di mana pada masa ini jalur ini mulai ditinggalkan penumpang karena sarana dan prasarana yang kurang memadai serta tidak terawat.

Akhirnya, operasional BDSM ditutup sepenuhnya pada tahun 1981, jalur kereta api ini resmi ditutup karena kalah bersaing dengan moda transportasi lain.

Saat ini tidak banyak yang tersisa dari jalur ini. Beberapa stasiun/halte yang cukup besar seperti Kedungpring, Ngimbang, Bluluk, Ploso, Kambangan dan Jombang kota masih utuh.

Sementara pemberhentian yang lebih kecil sudah hilang. Jembatan kereta di Sungai Brantas saat ini juga hanya menyisakan pondasi dan kebanyakan rel yang tersisa terpendam oleh pelebaran jalan raya.

Berdasarkan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, jalur ini menjadi salah satu jalur kereta api yang akan direaktivasi.

Isu yang berkembang di media pada tahun 2015 menyebutkan bahwa Pemerintah RI merencanakan akan mengaktifkan kembali jalur ini (bersama jalur Tuban- Babat dan jalur Jombang - Pare - Kediri).

Rencana itu, untuk mewujudkan lintas tengah Jawa Timur dan menyambungkan lintas utara dan lintas selatan jawa di zona tengah Jawa Timur.

Namun sejauh ini belum terlihat wacana reaktivasi terus mengemuka, tetapi tidak pernah terealisasikan. (Refian Syarifil M)

 

Editor : Achmad RW
#bdsm #kuno #Jombang #Kereta Api #Jalur #Babat Djombang Stoomtram Maatschappij