RadarJombang.id - Sphinx Agung telah menjadi simbol Mesir kuno yang langsung dapat dikenali, terlebih dengan tubuh seekor singa dan wajah seorang raja.
Karya Sphinx juga menginspirasi replika-replika megah di seluruh dunia, dari Las Vegas, Nevada, hingga Lanzhou, Cina.
Selama ribuan tahun, monumen besar ini telah berada di kaki piramida Giza, menjaga pekuburan.
Popularitas Sphinx juga sempat naik turun, seperti pasir gurun yang menelannya selama periode pengabaian.
Ketika Sphinx muncul kembali, ia membangkitkan rasa ingin tahu dan takjub pada mereka yang memandangi bentuknya yang kolosal.
Raksasa gurun
Dikutip dari National Geographic, Sphinx dibangun oleh firaun yang sama sekitar tahun 2540 SM, Sphinx dan piramida Khafre adalah dua situs paling ikonik di Mesir.
Penjaga kerajaan Dibangun oleh firaun yang sama sekitar tahun 2540 SM, Sphinx dan piramida Khafre adalah dua situs paling ikonik di Mesir.
Para arkeolog percaya bahwa Sphinx Agung dibangun pada masa Kerajaan Lama Mesir (sekitar tahun 2575–2150 SM) oleh firaun dinasti keempat Khafre.
Ini adalah salah satu karya patung monumental tertua di dunia dan salah satu yang terbesar. Tingginya lebih dari 65 kaki, dari pangkal hingga puncak kepalanya, dan panjangnya 240 kaki, dari kaki depan hingga ekor.
Sebagian besar Sphinx dipahat langsung dari batu kapur Giza dan kemudian dilengkapi dengan lebih banyak blok batu kapur.
Kepala Sphinx tampak seperti kepala kerajaan dan memiliki beberapa simbol tradisional kerajaan Mesir kuno. Kepala Sphinx mengenakan nemes , hiasan kepala kain yang dikenakan oleh firaun Mesir.
Sisa-sisa ular kobra kerajaan yang diukir, atau uraeus, dapat dilihat di dahi Sphinx. Ciri-ciri wajah manusianya maskulin.
Namun, waktu telah merampas hidung dan janggut kerajaan Sphinx, tetapi ciri-ciri lainnya tetap jelas meskipun terkikis.
Dua kaki besar terentang di depan tubuh Sphinx yang seperti singa. Ekornya melilitnya. Sebagian besar tubuhnya dulunya dilapisi dengan balok batu kapur berkualitas tinggi dari tambang di Tura.
Lapisan permukaan ini telah rusak seiring waktu. Beberapa telah hilang sepenuhnya di beberapa tempat meskipun telah dilakukan proyek restorasi selama berabad-abad.
Para arkeolog telah menemukan jejak pigmen biru, kuning, dan merah pada beberapa bagian Sphinx, yang kemungkinan besar membuatnya pernah dihiasi dengan warna-warni.
Siapa yang membangun Sphinx?
Dua misteri terbesar seputar Sphinx Giza adalah kapan dan oleh siapa Sphinx dibangun.
Konsensus ilmiah menyatakan bahwa Sphinx dibangun sekitar 4.500 tahun yang lalu, selama Kerajaan Lama ketika piramida besar sedang dibangun.
Sphinx dan makam-makam besar ini jelas saling terkait; penjaga raksasa itu tampaknya duduk tepat di antara dua makam, yang masing-masing didirikan oleh firaun dinasti keempat yang berbeda.
Khufu, yang memerintah sekitar 2500 SM, membangun Piramida Besar, dan putranya Khafre membangun makamnya sendiri yang sedikit lebih kecil tetapi tetap mengesankan.
Meskipun piramida para penguasa Kerajaan Lama ini sangat megah, catatan tentang firaun ini sangat sedikit.
Para arkeolog terpaksa menggunakan jasa detektif untuk memecahkan misteri siapa yang membangun Sphinx.
Hingga saat ini, belum ditemukan bukti kuat atau prasasti yang menyebutkan nama Khufu atau Khafre.
Hipotesis paling populer, yang dipegang oleh para ahli Mesir Kuno seperti Mark Lehner dan Zahi Hawass, adalah bahwa Khafre memesan Sphinx sebagai bagian dari proyek pembangunan monumentalnya, termasuk tempat peristirahatannya dan kompleks kuil di sekitarnya.
Para sarjana ini telah mempelajari sisa-sisa pekuburan dan berbagai bangunan yang dipesan oleh setiap raja di sana.
Posisi Sphinx dalam skema Khafre untuk piramida dan kuil pemakamannya lebih cocok, yang menunjukkan perencanaan dan logika yang cermat.
Mereka percaya bahwa Sphinx itu sendiri dipahat dari sepotong batu kapur besar, yang kemungkinan besar terekspos saat para pekerja sedang menambang potongan-potongan batu besar untuk pembangunan kuil-kuil di dekatnya.
Beberapa pihak mengusulkan penanggalan yang jauh lebih awal berdasarkan Prasasti Inventaris, sebuah teks dari sekitar tahun 670 SM, ribuan tahun setelah peristiwa yang dijelaskan di dalamnya.
Prasasti ini menunjukkan bahwa Sphinx dipugar pada masa Khufu, yang menyiratkan bahwa monumen tersebut sudah ada sebelum firaun-firaun awal ini.
Namun, prasasti ini penuh dengan anakronisme, yang menyebabkan banyak pakar memperlakukan teks tersebut dengan skeptisisme yang cukup tinggi. (riz)
Editor : Achmad RW