Muktamar NU dan Ujian Kekuasaan, Saatnya Kembali ke Spirit Para Pendiri

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 07:35 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

 

 

JOMBANG - Setelah Gusti Allah Ta’ala menampilkan sifat rububiyahnya, ’’Rabb al-‘alamin”, lalu menyertakan sifat welas asih-Nya, ’’al-Rahman al-Rahim’’, kini Dia hadir dengan sifat Maha menguasai, Maha merajai, Maha Memiliki, ’’Maliki Yaum al-Din’’.

Ada tiga bacaan pada ayat ini. Pertama, Maaliki (ada alif setelah huruf mim), Maha Memiliki. Kedua, Maliki, mim dibaca satu harakat, Maha Merajai. Ketiga, MaLaKa, dalam bentuk fi’il madly. Tapi berikutnya dibaca:  YauMA al-din. Nashab ‘ala al-dharfiyah. Bacaan ketiga ini lebih luwes, tapi dalam ‘ulum al-qira’at dianggap lemah karena tidak didukung riwayah, hanya benar secara dirayah saja.

Dari sekian sifat Tuhan ini, yang paling banyak diminati dan diuber-uber oleh manusia adalah yang ’’Maliki’’ (Kuoso). Sedangkan sifat yang Rahman, yang Rahim, yang Rabb blas gak menarik. Mengapa..? Karena ’’Maliki’’ itu uenak, ngerejekeni dan menguntungkan, baik secara sosial maupun finansial. Sedangkan yang Rahman, yang Rahim, yang Rabb tak menarik, merepotkan, bahkan merugikan and ’’TOROG’’.

Lihatlah ketika manusia dihadapkan pada kekuasaan, wow, matanya hijau dan nafsunya memuncak. Selain wani bondo, yo wani antem-anteman sesama teman.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU 2026, Dishub Jombang Minta Sopir Tak Naikkan Tarif Seenaknya

Mengapa..?

Ya, karena mereka tidak beriman sungguhan. Karena tidak bertakwa beneran. Karena mata duitan dan minim jiwa pengabdian terhadap agama. Jabatan dianggap rezeki yang harus diperjuangkan, bukan dianggap amanah yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Soal ini, bisa jadi ’’kiai’’ berubah menjadi ’’preman’’.

Lihat moral sebagian elite NU saat Munas dan Konbes di Ploso Kediri kemarin. Mosok pantes pakai atirbut ulama’ tapi ribut-ribut begitu. Apa lupa ’’adab al-Mujalasah wa al-Tasyawur’’  yang ada di kitab kuning..? Ulama’ itu pewaris nabi, maka menjadilah nabi-nabi kecil di kalangan umat sendiri.

Dulu, di hadapan para sahabat Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam pernah berpidato serius buanget. Meramalkan nasib umat Islam masa depan. Petikannya bagini: .. Kalian bagai hidangan yang hendak disantap beramai-ramai. Sahabat bertanya: ’’Apa jumlah kita sedikit..?’’

Rasul: ’’Tidak, jumlah kalian banyak sekali... Tapi kalian bagai buih, seperti buih air bah, mudah terseret arus ke mana-mana.’’

’’Kok bisa begitu, Ya Rasulallah..?’’ tanya sahabat. Rasul: ’’ Ya, karena kalian doyan duit dan enggan mati, hubb al-dun-ya wa karahiyah al-maut’’.

Silakan pembaca ramal sendiri: ’’.. Kiai NU sekarang, mana yang terbanyak: yang doyan duit atau yang bersih dan zuhud..?’’

Kita tetap berharap yang terbaik. Tapi halal hukumnya membuat prakiraan terkait pelaksanaan muktamar NU nanti, jika: Pertama, muktamar benar-benar independen dan murni pilihan teologis dari nurani warga Nahdliyin, mukhlisin lahu al-din, maka itulah NU yang agamis, NU yang berkah sesuai harapan para pendiri dan pendahulu.

Kedua, jika muktamar nanti ada dalam kepungan para menteri atau ada campur tangan-tangan ’’NAJIS’’ lebih dominan, maka .. terus piye dadine NU iki..?

Lantas apa yang bisa diharap dari ulama’ macam begini..? Dan yang pasti.., merintihlah para pendiri dan pendahulu.

Ketiga, apalagi duit-duitan seperti yang sudah-sudah, maka: ’’..Na’udzu billah..’’

NU adalah pergerakan yang yang dipandu ‘ulama waratsah al-anbiya’. Maka, yang tidak berjiwa nubuwwah, mohon menyingkirlah. Jangan menjadi setan di tubuh organisasi keagamaan ini… KUALAT.

Keempat, Ketua Tanfidziyah, PBNU pertama, namanya Hasan Gipo. Lebih dikenal sebagai seorang saudagar kaya, bukan kiai. Runcang-runcung bareng Kiai Wahab Hasbullah, ngawulo mendampingi Rais Akbar. Dialah yang membiayai delegasi NU menghadiri Komite Hijaz. Lho… Ngene iki, contohen. (bersambung, in sya’ Allah).

 

Editor : Anggi Fridianto
Muktamar NU 2026 Opini NU Nahdlatul Ulama pbnu Jombang