Binrohtal di Polres Jombang, KH M Sholahuddin Jelaskan Cara Menjaga Iman Tetap Kuat

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 07:56 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (29/7), 

Katib Syuriyah MWCNU Jogoroto, sekaligus Wakil Ketua MUI Jogoroto, KH M Sholahuddin Kariim, menjelaskan pentingnya iman.

’’Iman merupakan anugerah terbesar yang menjadikan hidup bernilai ibadah,’’ tuturnya.

 

Tanpa iman, kekayaan, kecerdasan, jabatan, maupun kemuliaan nasab tidak akan bernilai di sisi Allah Ta’ala. Sebaliknya, dengan iman, setiap amal yang dilakukan seorang mukmin dapat berubah menjadi ibadah dan mendatangkan pahala.

 

Allah Ta'ala berfirman di QS An-Nahl 97. Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan."

 

Amal saleh akan diterima apabila dilandasi keimanan. Iman menjadi ruh bagi seluruh amal. Tanpa iman, amal bagaikan jasad tanpa nyawa.

 Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, KH Agung Bahroni Ungkap 5 Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Akan merasakan manisnya iman orang yang rida Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya

Iman bisa bertambah dan juga bisa berkurang. Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Fath 4. Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar bertambah keimanan mereka di samping keimanan yang telah ada.

 

Demikian pula firman-Nya: Apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka ada yang berkata, 'Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan turunnya surah ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah imannya dan mereka bergembira (QS At-Taubah 124).

 

 

Imam Ghazali menggambarkan, hati manusia laksana cermin. Semakin banyak ibadah, zikir, membaca Alquran, dan taat kepada Allah, maka cermin hati akan semakin bersih sehingga cahaya iman semakin terang. Sebaliknya, dosa dan maksiat menjadi noda yang menggelapkan hati hingga iman semakin melemah.

Rasulullah bersabda; Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, akan muncul satu titik hitam di hatinya. Jika ia bertobat, beristigfar, dan meninggalkan dosanya, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia mengulanginya, titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya.

 

Maksiat melemahkan cahaya iman. Abdullah bin Mas'ud radiyallahu anhu berkata: Seorang mukmin memandang dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung yang khawatir gunung itu akan menimpanya.

 

Iman bukan hanya pengakuan di lisan, tetapi harus tampak dalam ibadah, akhlak, kejujuran, dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Fudhail bin 'Iyadh sebelum menjadi ulama besar, dikenal sebagai perampok jalanan. Suatu malam ketika hendak melakukan kejahatan, beliau mendengar seseorang membaca firman Allah Ta’ala: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah? (QS Al-Hadid 16).

 

Mendengar itu, Fudhail menangis dan berkata; ’’Ya Allah, sungguh telah tiba waktunya.’’

 Sejak itu beliau bertobat, meninggalkan maksiat, memperbanyak ibadah, hingga akhirnya menjadi seorang ulama besar yang perkataannya dijadikan nasihat oleh banyak orang.

 

Agar iman kuat, Nabi mengajari doa; Ya muqollibal qulub sabbit qalbi ala dinik; Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

 

Nabi juga bersabda; Perbaiki imanmu dengan zikir, la ilaha illallah. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
Kajian Islam Jombang KH M Sholahuddin MUI Jombang Jombang polres jombang