Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Senin (6/7), Pengasuh Pondok Pesantren Zainur Rosyid, Tapen, Kudu, Dr H Agus Sholahuddin, menjelaskan kewajiban manusia.
’’Ada tiga kewajiban manusia,’’ tuturnya.
Pertama, memperbaiki hubungan dengan Allah (ḥablum minallah). Sebab tujuan utama penciptaan manusia untuk beribadah. Sebagaimana disebutkan di QS Adz-Dzariyat 56.
Allah Ta’ala juga berfirman di QS Albaqarah 21. Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Hak Allah atas hamba-hamba-Nya ialah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Ibadah wajib yang utama yakni salat lima waktu. Karena inilah yang pertama kali dihisab di akhirat.
Kedua, wajib berbuat baik kepada sesama manusia dengan menjalankan amanah. Allah Ta’ala berfirman di QS An-Nisa 58. Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.
Rasulullah bersabda: Tidak sempurna iman seseorang yang tidak bisa menjaga amanah.
Setiap kalian pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Amanah bukan hanya menjaga titipan barang, tetapi juga amanah jabatan, amanah ilmu, amanah pekerjaan, amanah lisan, bahkan amanah waktu.
Menjaga amanah tanda kejujuran hati. Orang yang mengkhianati amanah pada hakikatnya sedang merusak agamanya sendiri.
Ketiga, berbuat baik kepada keluarga dengan menyiapkan anak yang lebih baik dari kita.
Allah Ta’ala berfirman di QS At-Tahrim 6. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Kesalehan orang tua akan membuat anak-anaknya saleh dan sejahtera. Allah juga berfirman di QS An-Nisa 9. Hendaklah takut orang-orang yang apabila meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, maka bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar.
Ada tiga macam anak. Pertama, anak yang lebih baik daripada orang tuanya. Inilah anak yang menjadi kebanggaan dunia dan akhirat. Ia melanjutkan kebaikan orang tuanya bahkan melampauinya. Contoh paling agung Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang memiliki putra Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Dari keturunannya lahir para nabi hingga Rasulullah. Orang tua yang berhasil yang rela anaknya menjadi lebih alim, lebih bertakwa, dan lebih bermanfaat daripada dirinya. Anak yang terus belajar memiliki peluang besar melampaui orang tuanya dalam ilmu dan amal.
Kedua, anak yang sama dengan orang tuanya. Ia mempertahankan nilai-nilai baik yang diwariskan keluarganya. Ini juga merupakan nikmat.
Ketiga, anak yang lebih buruk daripada orang tuanya. Ini musibah yang paling menyedihkan.
Bukan karena anaknya kurang pintar, tetapi karena kehilangan iman, akhlak, dan adab.
Allah mengabadikan kisah putra Nabi Nuh alaihissalam yang menolak beriman hingga tenggelam bersama orang-orang kafir (QS Hud 42–43).
Keturunan tidak otomatis menjamin hidayah. Karena itu pendidikan iman, doa, keteladanan, dan lingkungan yang baik harus terus diupayakan.
Suatu hari seorang ayah mendatangi seorang ulama dan mengeluhkan anaknya yang durhaka.
Ulama itu bertanya; Bagaimana engkau mendidiknya ketika kecil?
Ayah itu menjawab; Aku sibuk mencari nafkah sehingga menyerahkan semuanya kepada orang lain.
Ulama tersebut berkata; Engkau telah menyia-nyiakan amanah di awal, maka jangan heran jika engkau menuai kesulitan di akhir. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto