Saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (10/6), pengasuh Pondok Pesantren Al-Madienah Denanyar, KH Muhammad Najib Muhammad, menjelaskan macam-macam wali Allah. ’’Allah Ta’ala menyembunyikan para walinya di antara manusia agar tidak meremehkan orang lain. Karena bisa jadi orang yang kita remehkan itu kekasih Allah,’’ tuturnya.
Gus Najib cerita, ada wali karena bekerja keras mencari nafkah halal. Suatu hari Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam melihat tangan seorang sahabat yang kasar dan melepuh karena bekerja keras. Beliau mengambil tangan itu lalu menciumnya seraya berkata; ’’Ini tangan yang tidak akan disentuh api neraka.’’
Ada wali karena menjadi pemimpin yang adil. ’’Wali itu tidak mau diketahui orang lain. Bisa jadi di antara polisi yang hadir ini ada yang wali,’’ terangnya.
Rasulullah bersabda: Keadilan sesaat lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun.
Nabi juga bersabda; Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di akhirat. Salah satunya adalah pemimpin yang adil.
’’Tanda tangannya pemimpin menutup pabrik minuman keras, menutup pelacuran, itu jauh lebih efektif dibanding seribu khotbah,’’ jelasnya. Karena tanda tangan pemimpin bisa langsung menutupnya. Sedangkan seribu khotbah belum tentu bisa menutupnya.
Ada wali karena sabar menghadapi pasangan. Rasulullah bersabda: Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Ada wali yang tiap hari dibentak dan dicaci istrinya. Namun saat pergi ke hutan dia dikawal oleh harimau. Setelah si istri wafat, dia tidak lagi dikawal harimau. Rupanya, dia mendapat karomah karena sabar menghadapi istri yang judes dan galak.
Ada wali karena baik kepada tetangga. Salah satu ukuran kesalehan seseorang adalah hubungan dengan tetangganya. Rasulullah bersabda: Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai aku mengira tetangga akan mendapat hak waris.
Nabi juga bersabda: Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya.
Hasan al-Bashri berkata: Berbuat baik kepada tetangga bukan hanya tidak mengganggunya, tetapi juga bersabar atas gangguannya.
Nabi tiap hari diludahi tetangganya yang Yahudi. Ketika suatu hari tidak ada yang meludahi, Rasulullah justru menanyakan keadaannya. Ternyata orang tersebut sakit. Rasulullah kemudian menjenguknya dengan membawakan oleh-oleh hingga si tetangga terharu dan masuk Islam.
Ada wali karena memuliakan tamu. Salah satu akhlak para nabi adalah memuliakan tamu.
Rasulullah bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya. Tamu datang membawa seribu rahmat, pulang membawa seribu dosa. Seribu malaikat mendoakan tuan rumah selama tamu berada di rumahnya.
’’Guru saya, KH Maimun Zubair, saat tamunya hendak pulang pasti digandoli. Nanti dulu. Nanti dulu. Ini biar tamunya betah berlama-lama. Sehingga semakin lama didoakan seribu malaikat,’’ urainya.
KH Maimun juga selalu mengajak tamunya makan.
Di antara kemuliaan akhlak adalah menyambut tamu dengan wajah yang berseri.
Hatim al-Asham, seorang wali terkenal, sangat memuliakan tamu. Bahkan ketika makanan keluarganya terbatas, beliau mendahulukan tamunya. ’’Tamu adalah utusan Allah yang membawa keberkahan,’’ ucapnya. (jif)
Editor : Anggi Fridianto