Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Tiga Tanda Ahli Ibadah  

Rojiful Mamduh • Kamis, 21 Mei 2026 | 07:23 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

 

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (19/5),

Sekretaris Lembaga Dakwah NU Kecamatan Jombang, Ustad Sandi Ferdy Yulianto, menjelaskan tanda ahli ibadah. ’’Ada tiga tanda ahli ibadah. Membenci hawa nafsunya, menghisab dirinya, dan memperpanjang berdiri di hadapan Allah Ta‘ala,’’ tuturnya.

 

 

Pertama, membenci hawa nafsu, kesombongan, dan kecenderungan dosa yang ada dalam jiwa manusia. Ahli ibadah sejati tidak mudah merasa puas dengan amalnya, apalagi merasa dirinya paling saleh dibanding orang lain. Semakin tinggi kualitas ibadah seseorang, justru semakin besar rasa takutnya kepada Allah dan semakin kecil pandangannya terhadap amal dirinya sendiri.

 

Allah Ta’ala berfirman di Surat An-Najm 32. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, kemudian Allah mengampuni mereka

 

Ini mengajarkan manusia tidak pantas sombong dengan amalnya, sebab setiap orang memiliki kekurangan dan sangat membutuhkan rahmat Allah.

Salah satu penyakit paling berbahaya bagi ahli ibadah yakni ujub, merasa kagum terhadap amal sendiri. Amal yang banyak bisa hancur karena kesombongan hati. Oleh sebab itu, para salihin selalu merasa amalnya masih sedikit.

 

Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: Seandainya ada suara dari langit yang mengatakan semua manusia masuk surga kecuali satu orang, aku khawatir akulah orang itu.

Padahal beliau sahabat mulia yang dijamin surga. Namun rasa takut kepada Allah membuat beliau tidak pernah merasa aman dari kesalahan. Inilah tanda hati yang hidup.

 

Kedua, selalu menghisab dirinya. Tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lebih fokus memperbaiki dirinya sendiri. Ia terus mengevaluasi niat, ucapan, dan amalnya.

 

Allah berfirman di  Surat Al-Hasyr 18. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.

Umar bin Khattab berkata: Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.

 

Seorang mukmin yang rajin muhasabah akan mudah menyadari kekurangannya. Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah salatku sudah khusyuk? Apakah lisanku menyakiti orang lain? Apakah hatiku masih dipenuhi iri dan riya’? Kesadaran seperti ini menjadikan dirinya terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Ketiga, memperpanjang berdiri di hadapan Allah Ta‘ala.. Memperlama ibadah, terutama salat dan qiyamullail. Berdiri lama dalam salat bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan tanda kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya.

 

Allah berfirman di Surat As-Sajdah 16; Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.

 

Rasulullah salat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Ketika Aisyah radiyallahu anha bertanya mengapa beliau beribadah sedemikian berat padahal dosanya telah diampuni, Rasulullah menjawab: Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?

 

Inilah hakikat ibadah para pecinta Allah. Mereka tidak beribadah karena terpaksa, tetapi karena cinta dan rindu kepada-Nya.

 (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#polres jombang #Binrohtal #Ahli Ibadah