Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Inilah Dimensi Sosial Dalam Pelaksanaan Ibadah Kurban

Rojiful Mamduh • Sabtu, 16 Mei 2026 | 10:08 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

RadarJombang.id - H Sutaji menjelaskan banyaknya dimensi sosial yang muncul dalam pelaksanaan ibadah kurban.

Hal itu diungkapkannya saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (15/5), 

’’Kurban mengajarkan kepedulian, berbagi kebahagiaan, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan rasa kemanusiaan di tengah masyarakat,’’ tuturnya.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Berdoa Tanpa Putus Asa

Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Hajj 37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ketakwaan kalian.

Inti kurban ketakwaan yang melahirkan kepedulian sosial. Saat Idul Adha, kaum muslimin merasakan kebahagiaan bersama. Orang kaya berbagi dengan fakir miskin.

Mereka yang jarang menikmati daging pun ikut merasakan nikmat makanan yang layak. Inilah indahnya Islam; kebahagiaan tidak dimonopoli oleh golongan tertentu.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Salat yang Mencegah Kemungkaran

Allah Ta’ala berfirman di Surat Alhaj 36; Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta.

Ini menunjukkan, kurban memiliki ruh sosial yang nyata. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

Orang yang berkurban sejatinya sedang belajar merasakan penderitaan orang lain. Ia mengeluarkan hartanya demi membantu sesama. Kurban menjadi latihan melawan sifat kikir dan cinta dunia.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).

Barang siapa memiliki kelapangan rezeki lalu tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat salat kami.

Imam Al-Ghazali menjelaskan, salah satu hikmah ibadah kurban melembutkan hati dan menghilangkan egoisme manusia.

Orang yang terbiasa berbagi akan lebih mudah memiliki hati yang penuh kasih sayang.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Dua Perkara Paling Utama

Kurban juga mengajarkan pengorbanan demi ketaatan kepada Allah. Nabi Ibrahim alaihissalam rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, yakni putranya sendiri, Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Ini mengandung pelajaran besar: Cinta kepada Allah harus mengalahkan cinta kepada harta, jabatan, dan dunia.

Jika kita tidak mau berkurban secara sukarela, bisa jadi Allah akan mengambil semua harta secara paksa.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, 4 Golongan Masuk Surga Tanpa Hisab    

Kurban bukan tentang mahalnya hewan, tetapi tentang keikhlasan pengorbanan karena Allah Ta’ala. Kurban merupakan bukti bahwa kita lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah dari pada harta benda.

Banyak ulama salaf yang sangat memperhatikan kaum miskin saat musim kurban. Abdullah bin Mubarak lebih memilih membantu orang-orang miskin daripada memperbanyak ibadah sunah pribadi. Beliau memahami bahwa membantu sesama memiliki nilai besar di sisi Allah.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rumahnya sering menjadi tempat makan orang-orang fakir. Beliau berkata: Jalan menuju Allah dibangun di atas kasih sayang kepada makhluk.

Ibadah kurban memiliki dimensi sosial yang sangat luas. Ia mengajarkan ketakwaan, keikhlasan, kepedulian, empati, dan persaudaraan.

Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih sifat egois, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang gemar berbagi dan diberi keikhlasan dalam berkurban. (jif/naz)

Editor : Achmad RW
#dimensi sosial #ibadah kurban #polres jombang #Binrohtal