Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (22/4),
Pengasuh Pesantren Al Manshuriyah, Kalijaring, sekaligus Ketua MUI Kecamatan Tembelang, KH Nur Kholis, menjelaskan keutamaan salam. ’’Salam mengandung visi orang mukmin,’’ tuturnya.
Pertama, ucapan salam adalah bahasa komunikasi yang redaksinya khusus. Ucapan Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bukan sekadar sapaan biasa, tetapi doa yang diajarkan langsung dalam syariat Islam.
Allah Ta’ala berfirman di Surat An-Nisa’ 86. Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik darinya atau balaslah dengan yang serupa.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Kalian tidak akan masuk surga sampai beriman, dan tidak beriman sampai saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.
Kedua, ucapan salam berisi doa dan visi hidup seorang mukmin.
Salam mengandung tiga doa besar. Assalamu‘alaikum, keselamatan. Warahmatullah, kasih sayang Allah Ta’ala. Wabarakatuh, keberkahan.
Jika seorang muslim mendapatkan tiga hal ini, maka sempurnalah kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman di Surat Yasin 58. Mereka diberi penghormatan dengan ucapan salam dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
Abdullah bin Abbas berkata; Salam adalah nama dari nama-nama Allah, maka sebarkanlah di antara kalian.
Ketiga, perintah salam tidak hanya kepada manusia. Allah Ta’ala berfirman di Surat An-Nur 61: Apabila kamu memasuki rumah, maka ucapkanlah salam kepada dirimu sendiri sebagai penghormatan dari Allah yang penuh berkah lagi baik.
Ini menunjukkan salam bisa diucapkan meskipun tidak ada orang, karena hakikatnya adalah doa dan dzikir.
Keempat, salam kepada ahli kubur. Rasulullah mengajarkan ketika ziarah kubur mengucapkan: Assalamu‘alaikum ahlad-diyar minal mukminin. Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni negeri (kubur) dari kalangan orang-orang beriman.
Nabi bersabda; Tidaklah seseorang memberi salam kepada penghuni kubur, kecuali mereka mengenalnya dan menjawab salamnya.
Ini menunjukkan salam tetap bernilai doa, bahkan kepada yang sudah wafat.
Kelima, salam sebagai wirid dan energi kebaikan. Salam yang diulang-ulang akan membawa kebaikan, ketenangan, dan keberkahan.
Membaca salam sebagai wirid ditujukan kepada anak agar hatinya lembut dan mudah diarahkan. Ditujukan pada usaha agar diberi keselamatan, rahmat, dan keberkahan. Ditujukan pada diri sendiri agar hati tenang dan penuh kebaikan.
Dikisahkan seorang ulama salaf selalu membiasakan mengucapkan salam bahkan ketika memasuki rumah yang kosong. Muridnya bertanya, ’’Wahai guru, kepada siapa engkau memberi salam?’’
Ia menjawab, ’’Aku memberi salam kepada diriku, kepada malaikat, dan kepada siapa pun yang Allah kehendaki mendengarnya. Karena salam itu doa, dan doa tidak pernah sia-sia.’’
Ada pula kisah seorang ibu yang memiliki anak sulit diatur. Ia kemudian membiasakan setiap hari mengusap kepala anaknya sambil membaca: Assalamu‘alaikum warahmatullah dengan penuh doa. Lambat laun, anak itu menjadi lebih tenang dan mudah diarahkan. Para ulama mengatakan, itu karena keberkahan doa yang terus diulang dengan ikhlas.
Agar rezeki lancar, setiap masuk rumah kita dianjurkan mengucap salam kepada Nabi dan semua orang saleh. Assalamu alaikum, assalamu alaika ayyuhannabiy, assalamu alaina wa ala ibadillahissolinin. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto