RadarJombang.id - Pengurus MWCNU Kecamatan Gudo, HM Falah, menjelaskan resep mendapatkan manisnya iman.
Hal itu diungkapkannya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (15/4),
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Akan merasakan manisnya iman, orang yang rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul,’’ tuturnya.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Rukun Islam Penghapus Dosa
Pertama, rida kepada Allah Ta’ala sebagai Tuhan berarti menerima segala takdir-Nya dengan penuh keyakinan bahwa semua adalah yang terbaik.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Bayyinah 8. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.
Orang yang rida tidak mudah gelisah, karena ia tahu bahwa setiap kejadian berada dalam rencana terbaik Allah Ta’ala.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Menyayangi Anak
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata; Rida adalah pintu terbesar menuju Allah, surga dunia, dan tempat istirahatnya para ahli ibadah.
Dikisahkan seorang tabi’in kehilangan seluruh hartanya karena kebakaran. Orang-orang datang menghibur. Ia justru berkata:
’’Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil iman dari hatiku.’’ Ia tidak meratapi harta, karena yang ia jaga adalah hubungan dengan Allah. Dari sinilah manisnya iman terasa—ketika kehilangan dunia tidak menggoyahkan hati.
Kedua, rida kepada Islam sebagai agama. Rida kepada Islam berarti menerima seluruh ajaran-Nya tanpa keberatan, baik yang mudah maupun yang berat. Allah berfirman di Surah Almaidah 3. Dan Aku rida Islam sebagai agamamu.
Seorang mukmin tidak memilih-milih syariat, tetapi tunduk sepenuhnya karena yakin semua aturan Allah membawa kebaikan.
Nabi bersabda; Tidaklah sempurna iman seseorang hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.
Ada seorang santri yang awalnya berat menjalankan bangun malam. Namun ia terus memaksakan diri karena yakin itu perintah Allah.
Lama-kelamaan, ia justru merasa kehilangan jika tidak tahajud. Apa yang awalnya terasa berat berubah menjadi kenikmatan. Itulah bukti bahwa rida pada syariat menghadirkan manisnya iman.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang: Menjaga Spirit Ramadan
Ketiga, rida Nabi Muhammad sebagai rasul. Rida kepada Rasulullah berarti mencintai, mengikuti, dan menjadikan beliau sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.
Allah berfirman di Surah Ali ‘Imran 31. Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.
Dikisahkan seorang ulama sangat menjaga sunnah Nabi hingga hal-hal kecil. Ia selalu makan dengan tangan kanan, duduk ketika minum, dan menjaga adab.
Ketika ditanya mengapa begitu detail, ia menjawab, ’’Karena aku ingin dicintai Allah.’’ Cinta kepada Rasul melahirkan keteladanan, dan dari situlah iman terasa manis.
Rida melaksanakan syariat, termasuk memaafkan.
Salah satu ujian terbesar dalam syariat adalah memaafkan. Saat disakiti, ego ingin membalas. Namun iman mengajak untuk memaafkan.
Allah berfirman di Surat An-Nur 22. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?
Rasulullah bersabda: Tidaklah seseorang memaafkan, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.
Ibnu Qayyim berkata; Dengan memaafkan, hati akan selamat, dan akan dicintai oleh makhluk.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata; Memaafkan adalah mahkota orang-orang yang bertakwa.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang: Manfaat Halalbihalal
Seorang ulama pernah dihina di depan banyak orang. Murid-muridnya marah dan ingin membalas. Namun sang ulama justru berkata:
’’Biarkan, mungkin itu penghapus dosaku.’’ Beberapa waktu kemudian, orang yang menghina itu datang meminta maaf karena malu dengan akhlaknya. Memaafkan bukan hanya menyelamatkan hati, tetapi juga melunakkan hati orang lain.
Rasulullah saat Fathu Makkah, memiliki kekuasaan penuh untuk membalas perlakuan buruk orang-orang kafir. Namun Nabi justru berkata kepada kaum Quraisy yang dulu menyakitinya: ’’“Pergilah, kalian semua bebas.’’
Itulah puncak memaafkan. Dari situ terlihat bahwa kemuliaan bukan pada membalas, tetapi pada memberi maaf. (jif/naz)
Editor : Achmad RW