Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kajian Ramadan Unipdu Jombang: Puasa dan Empati Sosial

Anggi Fridianto • Minggu, 1 Maret 2026 | 05:07 WIB

Ketua MUI Jombang, Dr KH Afifuddin Dimyati Lc MA, menjadi pemateri Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an (PSQ) Unipdu Jombang, Sabtu (28/2).
Ketua MUI Jombang, Dr KH Afifuddin Dimyati Lc MA, menjadi pemateri Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an (PSQ) Unipdu Jombang, Sabtu (28/2).

RadarJombang.id – Kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an (PSQ) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Sabtu (28/2), menghadirkan Ketua MUI Jombang, Dr KH Afifuddin Dimyati (Gus Awis).

Dia menyampaikan tema, Puasa dan Empati Sosial: Membaca Ayat-ayat Kepatuhan dalam Alquran.

Gus Awis membuka kajian dengan meluruskan pemahaman yang kerap berkembang di masyarakat.

Ia menyebut puasa bukan ibadah sosial dalam pengertian langsung seperti zakat.

’’Ibadah sosial itu zakat. Puasa bukan ibadah sosial. Tapi puasa dalam rangkaiannya bisa menumbuhkan kepekaan sosial, bagi orang yang mau mengambil pelajaran,’’ tuturnya.

Puasa merupakan sarana latihan menuju takwa. Dari takwa itulah lahir empati dan kepedulian terhadap sesama.

Tanpa takwa, puasa berpotensi hanya menghasilkan lapar dan dahaga.

’’Kalau puasanya tidak menghadirkan takwa, maka tidak akan mengubah cara pandang terhadap masyarakat. Orang tetap egois, tetap individualis,’’ tegasnya.

Ada tiga pilar utama kepedulian sosial di Alquran. Pertama, kepedulian ekonomi. Alquran mengajarkan distribusi harta agar tidak berputar di kalangan tertentu saja.

Dalam harta seseorang terdapat hak orang lain. Ia mencontohkan dua kelompok penerima hak tersebut.

Kelompok pertama adalah as-sa’il, orang yang meminta karena kebutuhan mendesak.

Kelompok kedua al-mahrum, orang yang sebenarnya kekurangan namun menjaga diri dan tidak meminta-minta.

’’Jangan hanya memberi yang datang meminta. Cari juga tetangga yang tidak pernah meminta tapi sebenarnya kekurangan. Hak mereka tetap ada dalam harta kita,’’ paparnya.

Miskin tidak selalu identik tanpa harta sama sekali. Orang bisa memiliki pekerjaan, bahkan kendaraan, namun penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan dasar.

Kategori inilah yang tetap masuk golongan miskin dalam perspektif Alquran.

Kedua, kepedulian moral. Bentuknya melalui amar makruf nahi mungkar dan menjaga rasa aman masyarakat.

Amar ma’ruf relatif mudah dilakukan, sedangkan nahi mungkar membutuhkan keberanian.

’’Kita tidak bisa hidup tanpa memperhatikan orang lain. Amar makruf mungkin mudah. Nahi mungkar ini yang berat,’’ katanya.

Nahi mungkar dapat dilakukan dengan tiga tingkatan. Dengan tangan jika mampu. Dengan lisan jika memungkinkan. Minimal dengan hati.

Menganggap kemungkaran sebagai hal biasa, justru tanda lemahnya kepedulian.

Kepedulian moral juga mencakup jaminan keamanan dan kebebasan beragama. Menebar ketakutan atau intimidasi bertentangan dengan misi kepemimpinan dalam Islam.

Ketiga, kepedulian intelektual. Ia mengutip perintah Alquran agar orang yang tidak tahu bertanya kepada yang berilmu.

Ini menunjukkan adanya tanggung jawab sosial di bidang keilmuan.

’’Orang yang tidak tahu diperintahkan bertanya. Yang tahu diperintahkan menjelaskan dan tidak menyembunyikan ilmunya,’’ tandasnya.

Ulama memikul mandat memberi pencerahan kepada umat. Menyembunyikan ilmu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab intelektual.

Ketiga bentuk kepedulian sosial itu berakar pada takwa.

Puasa menjadi media latihan. Tujuannya agar manusia mencapai derajat takwa, kemudian meraih rahmat dan keberuntungan hidup dunia akhirat.

’’Puasa itu latihan. Kalau latihannya sungguh-sungguh, takwa tumbuh. Kalau tidak, ya hanya lapar dan dahaga,’’ ujarnya.

Ia menekankan pentingnya ukhuwah sebagai landasan kepedulian sosial.

Ukhuwah tidak berhenti pada tolong-menolong, tetapi juga ta’aluf (keterikatan hati) dan itsar, mendahulukan kepentingan orang lain dalam urusan dunia.

’’Kalau ada bantuan masih rebutan, berarti ukhuwah kita masih di permukaan. Itsar itu mendahulukan orang lain meski kita sendiri butuh,’’ jelasnya. (ang/jif)

Editor : Achmad RW
#kajian Ramadan #empati sosial #Jombang #unipdu #Puasa