Saat ngaji usai salat tarawih di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Sabtu (21/2), Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jombang, KH Agung Bahroni menjelaskan tingkatakan puasa.
’’Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan tiga tingkatan puasa. Puasa umum, puasa khusus, dan puasa khususul khusus,’’ tuturnya.
Pertama puasa umum. Menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat. Termasuk tidak memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh dengan sengaja. Tidak berjima’. Tidak mengeluarkan mani secara sengaja. Tidak memuntahkan isi perut secara sengaja. Inilah puasa secara fikih.
Namun Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam memperingatkan: Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Delapan Hikmah Puasa
Kedua puasa khusus. Ini puasanya orang saleh. Menjaga seluruh anggota badan dari dosa. Menundukkan pandangan. Allah Ta’ala berfirman di QS Annur 30. Katakanlah kepada orang beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka. Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah iblis.
Menjaga lisan. Rasulullah bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata: Jika engkau ingin hatimu bercahaya, maka kurangi bicara.
Menjaga pendengaran. Apa yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Qashash 55. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya.
Menjaga anggota tubuh lain. Tangan tidak berbuat zalim. Kaki tidak melangkah ke maksiat.
Perut dijaga dari makanan syubhat.
Tidak berlebihan saat berbuka.
Antara khauf (takut kepada Allah) dan raja’ (berharap kepada Allah). Setelah berbuka, hati orang beriman tidak merasa aman.
Orang saleh berdoa hingga enam bulan setelah Ramadan minta agar amalnya di bulan Ramadan diterima.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang: Ini Tiga Dimensi Puasa
Ketiga, puasa khususul khusus. Inilah derajat para Nabi, Siddiqin, dan Muqarrabin.
Puasa yang melibatkan seluruh anggota tubuh dan hati. Selama puasa, hatinya terus ingat Allah Ta’ala.
Dia menahan diri dari keinginan rendah. Mengosongkan hati dari selain Allah Ta’ala. Tidak sibuk dengan dunia kecuali untuk akhirat.
Puasanya murni karena Allah Ta’ala. Rabi’ah Al-Adawiyah rahimahallah berpuasa bukan karena takut neraka atau ingin surga, tetapi karena cinta kepada Allah Ta’ala.
Di hadis qudsi disebutkan, Rasulullah bersabda, Allah Ta’ala berfirman; Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang membalasnya.
Tiap orang akan mendapatkan pahala puasa sesuai dengan kualitas puasanya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto