Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Jannatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (19/2), Pengasuh PP Zainur Rosyid, Tapen, Kudu, Dr H Agus Moh Sholahuddin, menjelaskan dimensi puasa. ’’Ada tiga dimensi dalam puasa. Spiritual, biologis dan sosial,’’ tuturnya.
Pertama dimensi spiritual yakni ampunan. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Puasa menjadi sebab turunnya ampunan. Nabi Adam ‘alaihis salam berpuasa pada hari-hari putih (Ayyamul Bidh, tanggal 13–15 setiap bulan Hijriyah) sebagai bentuk tobatnya. Dan Allah Ta’ala menerima tobatnya.
Puasa merupakan sarana penyucian lahir dan batin. ’’Puasa dibalas langsung oleh Allah Ta’ala,’’ terangnya mengutip hadis qudsi.
Rasulullah bersabda: Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan, kegembiraan saat bertemu Allah Ta’ala adalah balasan rohani tertinggi—ketika seorang hamba melihat buah kesabaran puasanya di akhirat.
Abu Darda radiyallahu ‘anhu berkata: Berpuasalah pada hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kebangkitan. Inilah dimensi spiritual puasa: Menahan diri hari ini demi keselamatan esok hari.
Kedua dimensi biologis yakni kesehatan. Puasa memberi istirahat bagi sistem pencernaan. Lambung, hati, dan organ metabolik tidak terus-menerus bekerja mencerna makanan.
Rasulullah bersabda: Berpuasalah kalian, niscaya kalian sehat.
Secara medis, puasa membantu: Mengatur metabolisme. Mengurangi penumpukan lemak berlebih. Memberi waktu detoksifikasi alami tubuh. Mengontrol kadar gula dan kolesterol.
Puasa memiliki pengaruh besar dalam menjaga keseimbangan tubuh dan menundukkan syahwat yang berlebihan. Puasa sehat bila tidak berlebihan saat berbuka. Makan berlebihan justru menghilangkan hikmah biologis puasa.
Ketiga dimensi sosial, menumbuhkan empati dan kepedulian. Puasa membuat orang kaya merasakan lapar—sesuatu yang biasa dirasakan oleh fakir miskin.
Puasa melatih empati. Saat perut kosong, hati menjadi lembut.
Umar ibn al-Khattab radiyallahu anhu pernah memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang kelaparan di malam hari. Ketika ada yang menawari menggantikan memanggul, Umar menolak dan berkata, ’’Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?’’
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Puasa bukan hanya menahan dari makan dan minum, tetapi menahan dari menyakiti orang lain
Bahkan para wali dan orang saleh terdahulu menjadikan Ramadan sebagai bulan berbagi. Abdullah ibn Mubarak rahimahullah lebih memilih membantu fakir miskin daripada sekadar memperbanyak ibadah sunah pribadi, karena baginya manfaat sosial lebih luas. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto