SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (19/1), anggota Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan pentingnya menghindari dosa. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya orang itu terhalang rezekinya sebab dosa yang dilakukannya,’’ tuturnya.
Hadis ini memberikan penjelasan bahwa dosa yang dilakukan seseorang menyebabkan rezeki seret. Tapi mengapa kenyataannya orang yang berbuat dosa rezekinya lancar lancar saja. Bahkan malah melimpah-limpah.
’’Ulama memberikan penjelasan, bahwa yang dimaksud dengan terhalang rezekinya, dalam hadis ini terhalang barokahnya, bukan wujud dan jumlahnya,’’ terangnya.
Siapapun orangnya diberi rezeki Allah Ta’ala. Yang taat dan yang maksiat sama-sama diberi rezeki. Rezeki Allah tidak ada hubungannya dengan ketaatan dan kemaksiatan seseorang. Ketaatan itu berkaitan dengan keberkahan rezeki.
’’Apabila hidup di dunia diwarnai dengan kebaikan dan ketaatan, maka rezeki yang diperoleh menjadi barokah. Namun bila hidup diwarnai dengan maksiat dan dosa maka rezeki yang diperoleh menjadi tidak barokah,’’ urainya.
Allah Ta’ala berfirman di QS Al-A’raf 96. Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.
Ayat ini menegaskan bahwa iman dan takwa menjadi sebab turunnya keberkahan dalam rezeki.
Sebaliknya, dosa dan maksiat dapat menghilangkan keberkahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala di QS Ar-Rum 41. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Aku lebih takut pada dosa daripada takut pada kefakiran, karena dosa menghalangi keberkahan.
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya: Mengapa ada orang yang hartanya banyak tetapi hidupnya sempit? Dia menjawab: Karena dosa-dosanya, ia disibukkan dengan hartanya namun dicabut keberkahannya. Aku mengenal suatu kaum yang dosa-dosanya membuat mereka terhalang dari qiyamul lail dan terhalang dari keberkahan rezeki.
Ini menunjukkan bahwa dosa tidak selalu menghilangkan harta, tetapi menghilangkan kenikmatan dan ketenteraman dalam harta tersebut.
Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan: Harta yang banyak tanpa keberkahan akan membawa kesibukan, kelalaian, dan penyesalan.
KH Hasyim Asy’ari juga menyatakan, harta yang berkah adalah harta yang mendekatkan pemiliknya kepada Allah, bukan yang menjauhkannya dari ketaatan.
Dikisahkan ada dua orang pedagang. Yang pertama hartanya sedikit, namun ia rajin salat, bersedekah, dan menjaga kejujuran. Hartanya terasa cukup, keluarganya rukun, dan hidupnya tenang. Yang kedua hartanya melimpah, tetapi diperoleh dengan cara yang tidak halal. Ia selalu gelisah, keluarganya sering bertengkar, dan hartanya habis untuk penyakit dan masalah.
Itulah perbedaan antara rezeki yang banyak dengan rezeki yang berkah. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto