SAAT khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (2/1), KH Fauzan Kamal Alhafiz menjelaskan pentingnya salat. ’’Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar,’’ tuturnya mengutip QS Al-Baqarah 153.
Ayat ini menunjukkan, setiap persoalan hidup memiliki solusi. Yakni kembali kepada Allah Ta’ala melalui sabar dan salat.
’’Semua ada salatnya,’’ ucapnya. Setiap kebutuhan rohani dan jasmani memiliki salat tersendiri. Salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah Ta’ala.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.
Karena itu, ketika hati sempit dan masalah datang, Islam tidak mengajarkan untuk mengeluh kepada manusia, tetapi mengadulah kepada Allah melalui salat.
Ketika seseorang dihadapkan pada pilihan yang sulit—seperti memilih sekolah, pekerjaan, jodoh, atau keputusan penting lainnya—Islam menganjurkan salat istikharah.
Rasulullah bersabda: Jika salah seorang di antara kalian menghadapi suatu urusan, maka hendaklah ia salat dua rakaat, kemudian berdoa (istikharah).
Salat istikharah mengajarkan kita untuk menyerahkan pilihan kepada Allah. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik, sementara manusia sangat terbatas pengetahuannya.
’’Meminta rezeki dengan salat Duha,’’ tuturnya. Rezeki bukan hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, ilmu, ketenangan hati, dan keberkahan hidup.
Rasulullah bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau meninggalkan empat rakaat di awal siang (salat Duha), niscaya Aku akan mencukupi kebutuhanmu sampai akhir harimu.
’’Punya keperluan salat hajat,’’ ucapnya. Rasulullah bersabda: Barang siapa memiliki hajat kepada Allah atau kepada manusia, hendaklah ia berwudu, lalu salat dua rakaat
Salat hajat melatih hati untuk yakin bahwa hanya Allah tempat bergantung segala kebutuhan.
’’Ingin kemuliaan salat tahajud,’’ terangnya. Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Isra’ 79. Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.
Rasulullah teladan terbaik dalam menghadapi kehidupan. Diriwayatkan, ketika Nabi lelah sepulang dari perjalanan, hal pertama yang dilakukan salat.
Ketika menghadapi masalah atau kesedihan, Nabi langsung berdiri untuk salat.
Hudzaifah radiyallahu anhu berkata: Apabila Rasulullah ditimpa suatu masalah, beliau segera melaksanakan salat.
Dikisahkan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah mengalami tekanan berat saat dipenjara dan disiksa. Di tengah penderitaan itu, beliau tidak meninggalkan salat malam.
Beliau berkata: ’’Aku tidak pernah merasakan ketenangan seperti ketika aku bersujud di penjara.’’
Dari kisah ini, kita belajar, salat bukan bergantung pada keadaan lapang, tetapi justru menjadi penopang saat hidup terasa sempit. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto