Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal Polres Jombang: Merusak Lingkungan Dosa Besar

Rojiful Mamduh • Selasa, 9 Desember 2025 | 18:25 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (8/12), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafiz, menjelaskan bahaya merusak lingkungan. ’’Merusak lingkungan itu dosa besar karena merugikan orang lain bahkan merugikan generasi berikutnya,’’ tuturnya.

 

Allah Ta’ala berfirman di QS Al-A‘raf 56. Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.

Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan ekologis—tetapi juga persoalan iman. Ketika seseorang sembarangan membuang sampah, mencemari sungai, merusak tanah, membakar hutan, atau merusak ekosistem, ia telah membuat kerusakan yang dampaknya berantai.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk sebagian dari iman.

 

Menghilangkan gangguan dari jalan saja bagian dari iman. Maka menyebarkan gangguan, seperti membuang sampah sembarangan, tentu bentuk pengkhianatan terhadap iman.

 

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, merusak bumi termasuk tindakan zalim, dan Allah tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan. Sebagaimana disebutkan di QS Albaqarah 205. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan.

 

Membuang sampah sembarangan. Mencemari sungai, mengundang penyakit, mematikan hewan, merusak tanah, dan membahayakan kehidupan orang lain. Maka dosanya terus mengalir.

Nabi bersabda; Siapa yang memulai perbuatan buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang setelahnya.

Misal orang yang menebang pohon atau membuang sampah ke sungai sudah mati. Tetapi bahaya dari itu tetap menebar. Maka dosanya mengalir terus, meski jasad telah dikubur.

 

Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Balak turun karena dosa, dan musibah diangkat karena tobat.

Kerusakan lingkungan, banjir, tanah longsor, polusi, gagal panen—semua ini bukan sekadar fenomena alam. Banyak di antaranya teguran Allah akibat ulah manusia.

Sebagaimana disebutkan di QS Ar-Rum 41. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.

Kerusakan yang terjadi akibat maksiat yang dilakukan manusia, sehingga Allah menimpakan sebagian akibatnya agar mereka mau kembali bertobat.

 

Al-Hasan Al-Basri, berkata: Wahai anak Adam, engkau memakan dari hasil bumi dan tinggal di atasnya. Maka jangan engkau rusak bumi karena ia adalah tempat tinggalmu dan bekal akhiratmu.

Alkisah, ada pemuda yang biasa membuang sampah ke sungai di dekat rumahnya. Ia menganggap remeh perbuatannya. Ketika ia meninggal, para tetangganya kesulitan menggali kubur karena tanah terus runtuh dan mengeluarkan bau busuk. Seorang alim yang hadir berkata: ’’Ia merusak tanah semasa hidupnya, dan tanah kini enggan menerimanya.’’ (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#polres jombang #Binrohtal