SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (19/11), Rois Syuriyah MWCNU Ploso sekaligus Ketua MUI Ploso, KH Ainul Yakin, menjelaskan pentingnya menyiapkan bekal untuk akhirat. ’’Dunia ini hanya sebentar dan sementara. Yang kekal adalah akhirat. Maka kita harus menyiapkan bekal akhirat,’’ tuturnya.
Beliau sudah berusia 71 tahun, tapi merasa sebentar. ’’Saya sudah 71 tahun rapi rasanya baru sebentar. Padahal di akhirat itu, satu hari seperti seribu tahun dunia,’’ terangnya mengutip QS Alhajj 47.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS Annisa 77. Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kalian tidak akan dizalimi sedikit pun.
Dunia walaupun luas, indah, dan menggoda — tetaplah kecil, singkat, dan fana. Sedangkan akhirat adalah negeri yang hakiki, kekal, dan penuh balasan yang sempurna.
Dunia bukan harus dibenci, tetapi jangan sampai menguasai hati. Dunia adalah jembatan menuju akhirat; dunia menjadi baik jika digunakan untuk ketaatan.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.
Seandainya dunia ini sebanding dengan sayap seekor nyamuk di sisi Allah, maka Dia tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir.
Nilai dunia di hadapan Allah sangatlah kecil. Maka orang beriman tidak pantas tertipu olehnya.
Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Dunia berjalan pergi meninggalkanmu, dan akhirat berjalan mendatangimu. Maka jadilah anak akhirat, jangan jadi anak dunia.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Zuhud bukanlah meninggalkan harta, tetapi lebih percaya pada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan: Cinta kepada dunia dan jabatan adalah dua perkara yang merusak agama seseorang. Sebagaimana dua serigala lapar yang dilepas pada sekumpulan kambing.
Hal ini mengingatkan bahwa bahaya dunia terutama terletak pada cinta berlebih.
Alkisah, Sufyan Ats-Tsauri pernah ditawari tempat tinggal megah oleh khalifah. Ia menolak dengan berkata: ’’Jika aku memasukinya, aku takut hatiku keluar bersamanya.’’
Ia khawatir kemewahan dunia mencuri keikhlasannya. Inilah bentuk ketakwaan sejati: menjaga hati dari ketergantungan kepada selain Allah Ta’ala.
Orang muslim boleh bekerja, mencari harta, atau menikmati nikmat dunia. Namun semua itu harus diletakkan pada porsi yang benar. Rasulullah bersabda: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pelintas jalan.
Hidup di dunia perlu kesadaran, dunia hanya tempat singgah sementara. Orang yang cerdas melawan hawa nafsunya dan fokus menyiapkan bekal untuk akhirat. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto