Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gus Zu'em: Membandingkan Pesantren

Anggi Fridianto • Senin, 27 Oktober 2025 | 12:53 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

SEBAGAI salah satu pesantren tua di Jombang, Darul’Ulum sering menerima kunjungan tamu rombongan rihlah atau studi wisata.

Mereka kadang dari rombongan majelis ta’lim, lembaga-lembaga pendidikan umum, atau sesama pesantren. Kalimat awal yang selalu saya sampaikan dalam penyambutan adalah pernyataan (disclaimer) bahwa tiap pesantren memiliki keunikan sendiri-sendiri, tidak ada pesantren yang lebih rendah atau tinggi dari lainnya, karena tiap pesantren memiliki keunggulan masing-masing.

“Darul’Ulum mungkin menurut Anda unggul di bidang Y, tapi di mata saya, pesantren Anda memiliki keunggulan di bidang X ” kalimat itulah yang selalu saya sampaikan bila rombongannya dari pesantren.

Pernyataan saya bukanlah pemanis bibir, tapi penyederhanaan dari ajakan untuk tidak membanding-bandingkan pesantren yang satu dengan lainnya, karena sejak dari jejak historis dan kulturalnya, tiap pesantren memang tumbuh dengan keunikannya sendiri.

Pesantren memiliki variabel pembeda yang beragam, mulai dari satuan pendirinya, spesialisasi figur pengasuhnya, masa berdirinya, kurikulum / manhajnya, biaya pendidikan hingga afiliasi organisasi kemasyarakatannya. Apabila dari 6 variabel tersebut masing-masing memiliki 2 variasi saja, maka akan kita peroleh 64 jenis pesantren (26 = 64 ). Jumlah itu minimal. Karena jika variasi dari variabelnya lebih dari 2 alternatif, maka akan meningkat jumlah jenis pesantrennya. Itu pun saya belum memasukkan variabel “pola tata kelola” dan “preferensi politiknya” yang pada tiap pesantren kemungkinan beragam.

Intinya, terlalu sederhana dan sangat mengabaikan realitas, bila ada orang yang hanya memandang kategori pesantren dari kurikulum / manhajnya, apalagi dari afiliasi ormasnya semata. Sudut pandang itulah yang akan menyesatkan seseorang untuk melakukan generalisasi dalam beropini tentang pesantren.

Akibatnya, manakala dia menemukan suatu kasus pada pesantren yang berafiliasi pada ormas tertentu, dia langsung menstigma bahwa semua pesantren yang sebendera dengannya memiliki indikasi berkasus yang sama. Celakanya, di era “matinya kepakaran” ini menjadikan opini stigmatis seperti itu sebagai kebenaran publik.

Maka, belakangan ini, begitu berlimpah ruah postingan tentang pesantren di media sosial, baik dari alumni maupun orang yang tak pernah nyantri. Apabila pemostingnya memiliki jejak digital sebagai pembenci atau anti-pesantren, saya bisa memaklumi ungkapannya. Karena di sudut pandang mereka, pesantren memang tak sedikit pun ada positifnya.

Yang menggelisahkan saya adalah bila pemostingnya alumni pesantren yang menarasikan ungkapan dengan nuansa pembandingan antara pesantren yang sedang menjadi sorotan dengan pesantrennya dulu yang dikesankan lebih islami dan mendidik.

Tentu saja pola komunikasi seperti itu akan memantik friksi antar pesantren karena yang terjadi bukan lagi “fastabiqul khairot” (berlomba dalam kebaikan) tapi upaya pendegredasian pesantren yang beda dengannya. Mereka seolah bilang dengan jumawa : pesantrenku lebih baik dari mereka.

Oleh karena itu, saya ingin mengajak para pemangku kepentingan pesantren untuk menjadikan gonjang-ganjing saat ini sebagai momentum memperkenalkan ekosistem dan budaya pesantren pada masyarakat awam dengan pendekatan yang bijak dan penuh pemakluman.

Tidak perlu emosional, karena emosi hanya akan mengurangi setengah akal sehat kita. Kita tidak perlu melawan pernyataan bahwa “pemilik pesantren SDM-nya rendah” itu dengan kata-kata apalagi perdebatan. Tapi cukup dengan mengabaikannya sambil terus menjaga fokus pada pembinaan santri yang telah setia berada di pesantren.

Kalau pun pesantren ingin memberikan keseimbangan informasi pada masyarakat, cukup himbau alumni yang sedang melanjutkan studi di dalam atau luar negeri maupun yang sudah lulus untuk membuat postingan yang testimonial.

Misalnya bertutur : “Alhamdulillah berkat bimbingan dan doa para kiai, guru dan senior kami di pesantren X, saya baru saja menyelesaikan pendidikan S-1 di... dan sekarang saya telah beraktivitas sebagai….”. Kita asupi masyarakat dengan info tentang “produk” pesantren yang tidak kalah kualitasnya dengan hasil didikan sekolah non-pesantren. Dengan demikian, algoritma medsos orang-orang yang mendegradasi pesantren dapat terselingi info keunggulan alumninya dengan akhlak yang tetap tawaddu’.

Ringkasnya, pesantren itu beraneka ragam, maka relakanlah mereka berjuang dan bertumbuh dengan keunikannya sendiri. Fokuslah pada upaya meningkatkan kemanfaatan pesantren kita masing-masing untuk santri.

Jangan membanding-bandingkan pesantren, karena membandingkan itu berpotensi akan ada yang tersakiti. Demikian pula pada pasangan kita, jangan pernah membandingkannya dengan yang lain, agar semuanya aman terkendali. Salam sehat dan bahagia selalu. (*)  

 

Editor : Anggi Fridianto
#KH Zaimudin As'ad #Jombang #Kota Santri #Gus Zuem