SAAT khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (17/10), H Sutaji, menjelaskan pentingnya bekerja. ’’Bekerja merupakan bentuk takwa dan tanggung jawab kepada Allah dan keluarga,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS Saba ayat 13. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah.
Kepala keluarga wajib menafkahi anak dan istrinya. Ini amanah dari Allah yang tidak boleh diabaikan. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Cukuplah seseorang dikatakan berdosa apabila ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: Memberikan nafkah kepada keluarga termasuk ibadah yang besar pahalanya dan bentuk nyata dari takwa.
Seorang muslim harus meluruskan niat dalam bekerja. Bukan semata-mata mencari kekayaan dunia, tapi mencari karunia Allah untuk memenuhi kewajiban terhadap diri dan keluarganya. Serta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila bekerja, ia melakukannya dengan itqan (profesional dan bersungguh-sungguh).
Bekerja dan mencari nafkah bagian dari ibadah. Namun jangan sampai karena sibuk mengejar dunia, kita melalaikan kewajiban kepada Allah: salat, puasa, zakat, dan lainnya.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Qasas 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.
Imam Malik rahimahullah berkata: Sesungguhnya di antara tanda akal seseorang, ia mencari rezeki yang halal dan menjaga kehormatan dirinya.
Suatu hari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu melihat sekelompok orang di masjid yang terus beribadah dan berdoa meminta rezeki, namun mereka tidak bekerja. Umar pun bertanya, ’’Siapa kalian?’’ Mereka menjawab, ’’Kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah.’’ Umar menjawab: ’’Kalian bukanlah orang yang bertawakal, tapi kalian orang yang berpangku tangan. Orang yang bertawakal meletakkan benih di tanah lalu bertawakal kepada Allah.’’
Suatu hari seorang sahabat datang kepada Rasulullah. Tangannya kasar, kapalan, dan tampak lelah karena kerja keras. Ia bekerja sebagai buruh kasar untuk menghidupi keluarganya. Ketika tangan itu diperlihatkan, Nabi pun memegang dan mencium tangan tersebut, seraya berkata: Ini tangan yang tidak akan disentuh oleh api neraka. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto