Tsumm latus’alunn yauma idz ‘an al-naim. Jangan enak-enakan di dunia, karena yang enak-enak, yang kalian nikmati itu akan diminta pertanggung-jawabannya nanti di hadapan Tuhan. Duitmu mbok gawe opo..? Kesehatanmu gawe opo, dan seterusnya?
Jadi, kenikmatan apa saja yang pernah kita miliki ini tidak gratis begitu saja, tidak lepas dan tidak bebas. Kelak akan dipertanyakan dengan detail. Tentu saja tidak sebatas dipertanyakan, melainkan ada konsekuensi dan balasan.
Tentu saja dijawab dengan jujur, karena ada buku catatan amal dan kita tidak bisa berbohong sedikitpun. Catatan tersebut begitu lengkap dan detail sehingga manusia hanya tinggal terpaku dan diam. Mulut ditutup dan anggota badan, tangan dan kaki yang melapor dan bersaksi. Saya dipakai untuk ini dan itu, dan seterusnya.
Sedikitpun kita tidak bisa memanipulasi data. Ya, karena ini pengadilan akhirat, bukan pengadilan dunia, di mana hukum bisa dinego, dibeli dan mulut pak hakim, jaksa, polisi and kroni bisa dijejeli uang.
Yang paling banyak dipersoalkan adalah amanah dan tanggung jawab. Dari yang paling pribadi, seperti amanah beribadah, amanah keluarga, sampai amanah rakyat, menjadi kepala desa, bupati, gubernur, presiden dan lain-lain. Ini berat. Jika benar-benar diemban secara jujur dan amanah, maka surga tempatnya.
Dari perspektif agama, jabatan itu amanah, sekaligus ujian, bukan rezeki dan kebanggaan. Untuk itu, orang yang mengincar jabatan sesungguhnya merantai leher sendiri, sedia digiring ke surga atau ke neraka. Pemimpin bisa masuk surga karena kejujuran dan amanahnya, meski ibadah salatnya pas-pasan, tak sempat berpuasa sunah dan jarang mambaca Alquran.
Begitu halnya dia terseret ke neraka karena jabatannya, korup dan menjual belikan jabatan, meski dia hafal Alquran, salatnya rajin dan puasanya aktif.
Jual beli jabatan inilah lahan paling ’’al-jahim’’, paling neraka dan umumnya ada di pemerintahan kita, dari atas sampai ke bawah. Telah disindir oleh Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, kelak ada zaman, di mana ’’yu’taman fiha al-kha’in wa yukhawwan fiha al-amin’’ . Orang yang brengsek dan tak jujur dipercaya dan diberi jabatan,
sementara orang yang jujur dan amanah disingkirkan. Sebabya..? karena yang tidak jujur mau membayar mahal.
Juga diingatkan, agar pejabat jujur menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (al-Tahrim:6). Tapi yang sering terjadi adalah keluarga dekat, istri, anak mempengaruhi sang bupati, gubernur, presiden agar mau nuruti penempatan si Fulan menjadi ini dan si Fulan menduduki jabatan ini.
Di sini, pejabatnya bagus, bupatinya amanah dan berusaha menciptakan pemerintahan yang bersih, tapi istrinya kedonyan dan ikut main. Inilah istri yang kedonyan, yang tega menjerumuskan suami sendiri ke neraka Jahim. Ngaji surah al-Takatsur khatam dan bersambung, in sya’ Allah.
Editor : Anggi Fridianto