Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gus Zu'em: Demo di Masa Rasul

Anggi Fridianto • Senin, 8 September 2025 | 14:18 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Radarjombang.id - PASCA-rentetan demo anarkis yang menelan banyak korban jiwa  dan materi, kita melihat bagaimana masyarakat kita bereaksi.

Ada yang menganalisis secara logis, ada pula yang menuduh konspirasi, dan tak sedikit pula yang menggunakan sudut pandang tanpa basis keilmuan. Begitulah era media sosial, setiap orang merasa berhak menjadi pengamat, komentator, bahkan hakim.

Padahal, dalam kehidupan negara demokrasi di dunia, demonstrasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika sosial. Ia adalah ekspresi publik terhadap ketidakpuasan, ketidakadilan, atau tuntutan perubahan terhadap pemerintahnya. Bahkan 14 abad lalu, meski demokrasi belum lahir, Rasulullah pernah menghadapi ketidakpuasan publik, sehingga para sahabat pun “demo” atas kebijakan beliau yang dinilai tidak adil.  

Kisah ini berawal dari seusai Perang Hunain. Perang yang terjadi setelah penaklukan Makkah. Ketika suku Hawazin dan Tsaqif ( di luar Makkah) melakukan penyerangan terlebih dulu di Lembah Hunain karena khawatir melihat pengaruh Islam yang meluas.

Meski awalnya tentara Islam sempat kalang-kabut diserang para pemanah, pada akhirnya meraih kemenangan dengan ghanimah (harta rampasan perang) yang melimpah. Maka sebagaimana tradisi saat itu, seluruh ghanimah dikumpulkan untuk dibagikan kepada para pejuang.

Namun, pembagian ghanimah kali ini menimbulkan kegaduhan. Rasulullah  memberikan bagian yang besar kepada para tokoh Quraisy yang baru masuk Islam, seperti Abu Sufyan dan kerabatnya. Sementara kaum Anshar, yang telah setia sejak awal dakwah, yang rela meninggalkan rumah dan harta demi Islam, mendapat bagian yang lebih sedikit.

Ketidakpuasan pun muncul. Mereka bertanya-tanya : “Mengapa kami yang telah berjuang sejak awal justru mendapat lebih sedikit.?”. Bahkan adanya yang ngrasani Rasulullah (Bahasa Jombangannya) : “Jik mulo karo bolo leluhur e dewe, mangka ne dibagei akeh”

Protes ini tidak hanya datang dari kaum pria. Kaum perempuan pun ikut menyuarakan ketidakpuasan mereka. Dalam konteks modern, ini bisa disebut sebagai bentuk “demonstrasi” terhadap kebijakan pemimpin. Mereka memang tidak turun ke jalan, tetapi suara mereka terdengar, dan keresahan mereka nyata.

Rasulullah pun merespons situasi yang tak kondusif tersebut. Beliau tidak marah, tidak menyuruh sahabat-sahabat seniornya membungkam suara-suara itu. Apalagi melemparkan tuduhan sebagai provokator atau tidak loyal. Sebaliknya, beliau mengajak kaum Anshar berkumpul secara khusus. Dalam pertemuan itu, Rasulullah  menyampaikan pidato yang sangat menyentuh hati, penuh empati dan kebijaksanaan.

Beliau mulai dengan memahami perasaan mereka. Beliau tidak mengabaikan atau meremehkan keresahan yang muncul. Lalu beliau menjelaskan alasan di balik keputusannya: bahwa para tokoh Quraisy yang baru masuk Islam masih lemah imannya, dan pemberian ghanimah adalah strategi untuk melunakkan hati mereka agar mantap dalam Islam. Sementara kaum Anshar, beliau yakini, sudah kokoh dalam keimanan dan tidak tergoyahkan oleh materi.

Kemudian Rasulullah berkata: “Wahai saudara-saudaraku kaum Anshar, apakah kalian tidak rela jika orang-orang itu pulang membawa kambing dan unta ke rumah masing-masing, sementara kalian pulang membawa diriku, Rasulullah ke rumah kalian.?

Kalimat ini mengguncang hati kaum Anshar. Mereka menangis. Mereka sadar bahwa mereka tidak kehilangan apa-apa, justru mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: cinta dan kedekatan dengan Rasulullah. Mereka tidak hanya mendapatkan pemimpin, tapi juga seorang sahabat, seorang pembimbing, dan seorang kekasih yang tulus.

Peristiwa ini mengajarkan banyak hal yang relevan hingga hari ini. Pertama, bahwa protes adalah bagian dari dinamika sosial, bahkan di masa Nabi. Ketidakpuasan terhadap kebijakan bukanlah hal yang tabu, dan umat memiliki hak untuk menyuarakannya. Kedua, bahwa pemimpin sejati tidak alergi terhadap kritik. Rasulullah tidak hanya mendengar, tapi juga memahami dan merespons dengan empati. Ketiga, bahwa komunikasi yang jujur, terbuka, dan menyentuh hati bisa meredakan ketegangan lebih efektif daripada kekerasan atau represi.

Saat kita memperingati Maulid Nabi, mari kita renungkan kembali: bagaimana kita bersikap saat berbeda pendapat.? Bagaimana kita menyampaikan kritik.? Dan yang lebih penting, bagaimana kita merespons kritik ketika berada di posisi pemimpin.?

Rasulullah telah menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga soal hati dan empati. Bahwa keadilan bukan hanya soal angka, tapi juga soal rasa. Dan bahwa kepercayaan atau trust umat/rakyat adalah fondasi dari semua kebijakan yang ditaati. Pertanyaannya : apakah kita sebagai pemimpin saat ini, telah memantaskan diri sebagai pemimpin yang dapat dipercaya rakyat.?

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. (*)

 

Editor : Anggi Fridianto
#opini #Demo #Jombang #Maulid Nabi #Gus Zuem