Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH Muhammad Imdad Ungkap Bahaya Pamer Dosa, Simak Penjelasannya

Rojiful Mamduh • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 14:34 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

Radarjombang.id - SAAT khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (22/8), Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz, Bayt Alquran Bahrul Ulum Tambakberas, KH Muhammad Imdad, menjelaskan bahaya pamer dosa.

’’Pamer dosa membuatnya dosa pelaku sulit diampuni oleh Allah Ta’ala,’’ tuturnya.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang terang-terangan (menampakkan dosa-dosanya).

 Baca Juga: Binrohtal 2.451, Hikmah 4 Hal Ditentukan dalam Kandungan

Rahmat Allah Ta’ala sangat luas sehingga mayoritas umat Islam berpeluang untuk mendapatkan ampunan. Namun, ada satu golongan yang dikecualikan dari ampunan itu: Orang-orang yang terang-terangan bermaksiat (al-mujāhirīn).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: Orang yang mujahir adalah yang menampakkan maksiatnya, membicarakannya dengan bangga, tanpa rasa malu atau takut kepada Allah Ta’ala.

Contoh perilaku mujahirin. Menceritakan perbuatan zina, mabuk, mencuri, atau dosa lainnya di media sosial. Membuat konten dosa dengan sengaja agar viral. Menganggap maksiat sebagai gaya hidup dan memamerkannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS Annur 19. Sesungguhnya orang-orang yang suka agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Ayat ini mengutuk orang-orang yang senang menyebarkan kemaksiatan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Nabi bersabda; Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat.

 Baca Juga: Binrohtal 2.464: Mengingat Siksa Kubur

Jika menutupi aib orang lain mendatangkan pahala besar, maka menampakkan dosa sendiri menunjukkan bahwa seseorang telah meremehkan perintah Allah Ta’ala.

 

Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata; Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang akan menimpanya, sedangkan orang fasik menganggap dosanya seperti lalat yang lewat di depan hidungnya.

 

Menampakkan dosa adalah tanda lemahnya iman, dan menunjukkan hilangnya rasa takut kepada Allah Ta’ala.

 

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata; Berbuat dosa secara diam-diam itu lebih baik daripada terang-terangan, sebab Allah masih menutupi aibmu.

 

Dikisahkan, seorang pemuda datang kepada Hasan Al-Bashri dan berkata: ’’Wahai Imam, aku telah berzina dan aku telah menceritakannya kepada teman-temanku karena merasa bangga. Namun kini aku menyesal.’’

Hasan Al-Bashri menangis lalu berkata: ’’Sungguh dosamu besar karena kau melakukannya, tapi ia menjadi lebih besar ketika kau pamerkan. Seandainya engkau sembunyikan, mungkin Allah sudah menutup dan mengampunimu.’’

Allah Ta’ala murka kepada mujahirin karena pamer dosa menghilangkan rasa malu. Padahal malu adalah cabang dari iman.

Pamer dosa juga bisa menjadi sebab orang lain ikut terpengaruh. Serta meremehkan larangan Allah Ta’ala. Menampakkan dosa sama saja dengan menyatakan bahwa larangan Allah tidak berarti. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #Pemkab Jombang #polres jombang #Binrohtal