Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gus Zu'em: Kemana Kesantunan Bertutur

Anggi Fridianto • Senin, 28 Juli 2025 | 12:43 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Radarjombang.id - BAHASA bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cermin akal budi, penanda martabat, dan perekat harmoni sosial. Namun, belakangan ini, kesantunan bertutur terasa semakin memudar.

Di media sosial, forum publik, bahkan dalam percakapan sehari-hari, kata-kata tajam, hinaan, dan serangan pribadi (ad hominem) kian sering mewarnai interaksi, terutama saat perbedaan pendapat muncul. Fenomena ini bukan sekadar meresahkan, tetapi juga menggambarkan rapuhnya etika berbahasa di tengah masyarakat kita.

 

Serangan pribadi semakin sering menggantikan diskusi yang sehat. Tak lagi membantah argumen dengan logika, karena banyak orang lebih memilih menyerang fisik, latar belakang SARA , atau memberi label yang merendahkan. Akibatnya, diskusi pun kehilangan substansi dan berubah menjadi pertarungan ego. Maka, bukan hanya lawan bicara yang tersakiti, tetapi juga publik yang menyaksikan, karena perdebatan kehilangan nilai edukasi dan menjadi tontonan yang merusak nalar.

 

Padahal, budaya Nusantara sejak lama menempatkan bahasa dalam posisi mulia. Pepatah Jawa mengatakan “Ajining diri saka lathi” mengajarkan bahwa harga diri seseorang terletak pada kata-kata yang ia ucapkan. Kata santun menjadi indikasi  keluhuran jiwa. Sementara  kata yang kasar, terlebih jika diarahkan untuk menyerang pribadi, justru menunjukkan rendahnya budi pekerti. Namun, di era digital, pepatah ini semakin sulit dipraktikkan. Dunia maya menghadirkan interaksi yang serba cepat dan non-personal. Tanpa tatap muka dan tanpa rasa segan. Yang tampak hanya nomor, nama dan gambar. Maka, komentar pedas, tuduhan pribadi, bahkan hinaan fisik dapat meluncur begitu saja. Empati berkurang, dan banyak orang lupa bahwa kata-kata yang tampak sederhana di layar bisa meninggalkan luka mendalam di hati penerimanya. Sudah begitu, jejak digital sangat sulit dihapus dari memori perangkat informasi yang kian canggih.

 Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Membidik Nahdliyin

Sebenarnya, realitas yang menyesakkan dada itu tak akan kita hadapi, kalau saja saudara-saudara kita mau memedomani dawuh Rasulullah SAW dalam hal bertutur : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. Begitu juga “warning” yang disampaikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya: “Kebanyakan dosa anak Adam bersumber dari lisannya.”  Pesan ini bisa menjadi rem yang sangat pakem dan menuntun kita agar aktivitas komunikasi menjadi sarana kebaikan, bukan sarana saling melukai.

 

Maka dari itu, berpegang pada pepatah : “Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali” agar kita dapat menjadi benteng dari arus yang menggerus kesantunan bertutur, mari kita ajak saudara-saudara kita untuk melakukan langkah sederhana. Langkah yang dapat menjadi titik awal perbaikan, yaitu  membiasakan diri berpikir sejenak sebelum berucap atau menulis kata. Mari kita tanyakan dulu pada diri sendiri : “Apakah kata ini pantas.? Berdampak baikkah atau  tidak.? Bila kata ini diucapkan orang lain kepada saya, apakah hati saya bisa menerimanya?” Jika jawaban meragukan, diam adalah pilihan yang lebih bijak dan beradab.

 

Selain itu, agar kesantunan bertutur dapat menjadi kebiasaan kolektif yang mengakar, pendidikan akhlak harus diperkuat. Bukan hanya dalam bentuk teori, tetapi juga melalui keteladanan yang nyata di rumah, sekolah, dan ruang publik. Tentu saja kita tidak boleh melupakan penggalakan literasi digital, agar masyarakat menyadari bahwa setiap kata, terutama serangan pribadi, meninggalkan dampak yang bisa menghancurkan reputasi, kepercayaan, bahkan hubungan sosial.

 Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Suara Perempuan, Suara Kasihan

Ingat, bahasa yang santun bukan hanya pelengkap pergaulan. Ia adalah penanda peradaban, penjaga martabat dan penopang keharmonisan sosial. Maka menjaga kesantunan bertutur, baik di dunia nyata maupun dunia maya, berarti menjaga persatuan dan jati diri Nusantara. Negeri yang menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti. Adapun untuk mewujudkannya, bisa kita awali dari langkah kecil: menata kata, sebelum kata melukai diri kita sendiri.

 

Akhirnya, izinkan saya menutup dengan pantun, gaya bertutur khas nusantara yang tidak memberi ruang pada kata-kata vulgar :

 

Empat istri mudah diatur

Impian suami yang insomnia

Bila kita santun bertutur

Pertanda akhlak kian mulia  

 

Semoga tidak ada yang tersinggung, karena itu hanya Impian suami yang insomnia kesulitan tidur. Salam sehat penuh Bahagia.

Editor : Anggi Fridianto
#bertutur #Jombang #Radar Jombang #Gus Zuem #kesantunan