Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 238, Hidup Bukan Soal Seandainya

Rojiful Mamduh • Minggu, 6 April 2025 | 12:25 WIB
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Pdt Petrus Harianto STh
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Pdt Petrus Harianto STh

RadarJombang.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya tidak berandai-andai.

’’Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil,’’ tuturnya mengutip 1 Korintus 7:24.

Seandainya saya sudah punya mobil tentu saya bisa pergi berlibur dengan keluarga.

Seandainya saya punya gaji yang lebih besar tentu kehidupan keluarga saya lebih harmonis.

Seandainya saya tidak bekerja di perusahaan ini tentu kedudukan saya bisa berjalan lebih lancar.

Seandainya saya tidak dipaksa ada di kota ini maka bisnis saya bisa lebih berkembang.

Seandainya pasangan hidupku penuh pengertian tentu saya bisa melayani Tuhan secara lebih leluasa. Seandainya, seandainya, seandainya.

Pernahkah pikiran semacam itu berkecamuk di benak kita? Sepertinya seringkali hal ini mempengaruhi pikiran kita.

Kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, lebih bahagia. Dan kita mengira jalan untuk mencapainya adalah dengan berubahnya keadaan atau orang di sekitar kita.

Keadaan seperti itu yang sedang mempengaruhi pikiran jemaat di Korintus saat itu.

Untuk menjadi orang kristiani yang lebih baik, harus melakukan ritual atau kebiasaan ini dan itu; seorang hamba perlu memerdekakan diri, yang melajang perlu menikah. Apa tanggapan Paulus akan hal itu?

Menurutnya bagi orang yang telah dipanggil Allah, tidaklah penting keadaan lahiriahnya.

Namun kalau bisa diubah menjadi lebih baik, mengapa tidak?

Namun kalau pun tetap sama, tak perlu dipaksakan untuk berubah.

Kalaupun malah menjadi lebih buruk karena mempertahankan iman, misalnya itu pun tidak masalah.

Faktor yang paling menentukan ialah kehidupan baru yang dianugerahkan kepada kita: bahwa sekarang kita tinggal di hadapan Allah, hidup bersama dengan Allah.

Kebahagiaan hidup kita tidak lagi ditentukan oleh faktor lahiriah, melainkan oleh faktor batiniah, bagaimana hubungan kita dengan Allah.

Kita menjadi milik-Nya, dipanggil untuk mengasihi dan menaati-Nya. Dengan kesadaran ini, maka kita dapat hidup tenang dan tentram, bagaimanapun kondisi lahiriah kita, maka kita akan terbebas dari lingkaran ’’pikiran seandainya.’’

Ada saatnya saya pernah menghadapi keadaan yang menjerat pikiran saya ketika masalah terjadi.

Muncul pikiran seandainya aku tidak ada di tempat ini, pekerjaan atau pelayanan ini, maka keadaanku tidak akan seperti ini.

Namun pikiran seperti itu tidak membuat saya bebas dari masalah, yang terjadi malah membebani pikiran.

Namun ketika saya mengambil keputusan untuk memahami rencana dan panggilan Tuhan atas hidup saya, maka saya menemukan kelegaan dan ada rasa syukur.

Justru saya merasakan ketenangan dan kedamaian, karena menyadari bahwa hidupku ada dalam rancangan Tuhan. Dia tidak pernah salah dalam rancangannya.

’’Kedamaian dan Kebahagiaan hidup bukan ditemukan saat kita nyaman, melainkan saat kita melakukan maunya Tuhan. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)

Editor : Achmad RW
#GPdI House of Prayer Sawahan #Bukan #Soal #hidup #Renungan Minggu #seandainya