Radarjombang.id - Saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (12/12), Gus Yudi Sarwojati, menjelaskan inti akhlak. ’’Sayidina Ali ibn Abi Thalib karramallahu wajhah menjelaskan ada tiga inti akhlak,’’ tuturnya.
Pertama, jadilah kamu di sisi Allah sebagai sebaik-baik manusia. Yakni menjaga kualitas hubungan kita dengan Allah SWT melalui akhlak yang mulia. Seperti keikhlasan, ketakwaan, dan ketaatan pada perintah-Nya.
Akhlak kita terhadap Allah berarti kita menjaga niat dan amal ibadah semata-mata untuk Allah SWT. Tidak ada amal yang lebih tinggi di sisi-Nya selain yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan. Sebagaimana ditegaskan dalam Quran Surah Al-Bayyinah 5.
Kedua, jadilah kamu di lihat dari sisi jiwamu sebagai seburuk-buruk manusia. ’’Kepada semua orang kita melihat dengan prasangka mereka lebih baik. Sehingga kita tidak sombong,’’ ucapnya.
Baca Juga: Binrohtal 2.208, Jangan Remehkan Keberkahan Guru Ngaji
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata; Jika kamu bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu, ’’Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.’’
Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu, ’’Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.’’
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah dalam hatimu, ’’Orang ini memperoleh karunia yang tidak kudapat, mencapai kedudukan yang tidak kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.’’
Jika bertemu dengan orang bodoh, maka katakanlah dalam hatimu, ’’Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak.’’
Jika bertemu orang kafir, maka katakanlah dalam hatimu, ’’Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, bisa jadi dia memeluk Islam dan mengakhiri hidupnya dengan perbuatan baik, sedang aku bisa saja berbuat kafir dan mengakhiri hidupku dengan perbuat buruk.’’
Baca Juga: Binrohtal 2.206, Ini Bukti Islam Mengajarkan Cinta Tanah Air
Ketiga, jadilah kamu di sisi masyarakat sebagai seorang manusia biasa. Sungguh Allah SWT tidak menyukai hamba-Nya yang mengistimewakan dirinya dari sesamanya.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam suatu ketika berada di tengah rombongan perjalanan. Kemudian ia memerintahkan agar memotong seekor kambing. Lalu tiba-tiba seorang lelaki berkata, ’’Ya Rasulallah, biar aku saja yang menyembelihnya.’’ Lalu datang lelaki lain berkata, ’’Aku yang bagian memasaknya, ya rasul.’’
Kemudian Rasulullah bersabda, ’’Aku bagian yang mengumpulkan kayu bakarnya.’’ Para sahabat bersahutan menjawab, ’’Ya Rasulullah, biarlah kami saja, sudah mencukupi.’’ Rasulullah menjawab, ’’Aku tahu bahwa dengan kalian saja sudah mencukupi. Tetapi aku tidak suka sebagai yang diistimewakan di antara kalian, karena sungguh Allah SWT benci melihat hamba-Nya mengistimewakan diri dari para sahabatnya.’’ Setelah itu, Rasulullah bangkit dan mencari kayu bakar. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto