RadarJombang.id - Mudir Ma’had Aly Tebuireng, Dr KH Achmad Roziqi menjelaskan keteladanan sahabat Harmalah bin Abdillah dalam beribadah.
’’Beliau ini teladan dalam mencari ilmu dan berperilaku baik,’’ tuturnya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (12/12).
Harmalah bin Abdillah merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang dikenal sebagai al-Mushollin.
Yaitu para sahabat yang memiliki ibadah salat yang panjang dan khusyuk.
Selain dikenal karena ketekunannya dalam beribadah, beliau juga sangat dihormati karena semangatnya dalam mencari ilmu dan mengamalkan ajaran Islam.
Pertama, kecintaan dan keinginan untuk selalu bersama Nabi. Salah satu hal yang mencolok dalam kisah Sayiduna Harmalah adalah kecintaannya yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.
Saat menghadap Nabi, dia pernah berjanji dalam hati untuk terus datang kembali menemui Nabi, dengan harapan agar ilmunya semakin bertambah.
Dalam sebuah riwayat, beliau bersumpah: ’’Demi Allah, saya akan datang lagi kepada Nabi SAW hingga ilmu saya bertambah.’’
Kecintaan ini menunjukkan bahwa bagi Sayiduna Harmalah, bertemu dengan Nabi adalah kesempatan terbaik untuk memperdalam ilmu, karena Nabi SAW adalah sumber petunjuk langsung bagi umatnya.
Kedua, pesan utama Nabi: Melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran.
Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad menuliskan sebuah riwayat ketika Sayiduna Harmalah mendatangi Nabi dan bertanya"
’’Apa yang Anda perintahkan kepadaku untuk aku kerjakan?’’
Nabi menjawab dengan sebuah nasihat yang sangat mendalam:
’’Wahai Harmalah, lakukanlah yang baik dan jauhilah yang mungkar!’’
Nasihat ini merupakan pedoman hidup yang sangat penting. Nabi menekankan agar umatnya selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan.
Tindakan yang baik, sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan kemungkaran, segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah dan sunah Nabi.
Ketiga, berucap dengan perkataan yang baik dan menjauhi ucapan yang buruk. Harmalah kembali mendekat dan bertanya kepada Nabi;
’’Apa lagi yang Anda perintahkan kepadaku untuk aku kerjakan?’’
Nabi menjawab: Wahai Harmalah, renungilah! Apa pun yang engkau benci untuk mendengarkannya ketika itu disampaikan kepadamu, maka jauhilah ucapan itu.
Nabi kemudian menambahkan: Apa pun yang engkau senangi untuk didengar orang, maka ucapkanlah itu kepada mereka.
Nasihat ini menegaskan pentingnya menjaga lisan. Perkataan kita harus senantiasa baik dan penuh dengan kebaikan.
Kata-kata yang kita ucapkan kepada orang lain hendaknya tidak mengandung kebencian, kedengkian, atau ucapan yang menyakiti hati orang lain.
Nabi mengingatkan kita untuk berpikir sebelum berbicara: Jika ada ucapan yang kita tidak ingin mendengarnya dari orang lain, maka jangan sampai kita mengucapkannya kepada orang lain.
Keempat, refleksi Harmalah: Perintah yang mencakup segalanya. Setelah mendengar nasihat panjang dari Nabi, Harmalah pulang dan merenung.
Dia menyadari, nasihat Nabi itu sudah mencakup semua aspek kehidupan.
Dua pokok utama yang disampaikan Nabi—melakukan yang baik dan menjauhi yang mungkar, serta berbicara dengan kata-kata yang baik—adalah pedoman hidup yang sangat komprehensif.
Jika kita mampu mengamalkan dua hal ini, maka kita telah memenuhi kewajiban moral dan sosial kita sebagai umat Islam.
Kelima, semangat mencari ilmu dan mengamalkan ajaran Islam. Harmalah tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga berusaha mengamalkannya dengan sungguh-sungguh.
Semangatnya dalam mencari ilmu menggambarkan pentingnya menuntut ilmu dalam Islam.
Baginya, setiap kesempatan untuk berada di hadapan Nabi adalah peluang untuk memperbaiki diri dan memperdalam pemahaman tentang agama.
Dari kecintaannya kepada Nabi, semangatnya dalam mencari ilmu, hingga pesan Nabi yang begitu sederhana namun mendalam tentang berbuat baik dan menjaga lisan.
Kita semua diajarkan untuk selalu melakukan kebaikan, menjauhi keburukan, serta berbicara dengan kata-kata yang baik, karena dengan demikian kita akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat.
Semoga kita dapat meneladani semangat beliau dalam hidup kita sehari-hari, dan senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dalam beribadah, berbicara, dan bertindak. (jif/naz)
Editor : Achmad RW